Are You Ready?

Standard

Saya masih ingat, pada masa transisi perpindahan usia antara belasan menuju awal dua puluhan saya tidak pernah menjalin hubungan lebih dari tiga bulan. Tak hanya itu saja, masa duka saya setelah berpisah juga tidak lebih dari hitungan minggu.

4zntsbl

Namun kini menjelang kepala 3, saya berhasil memecahkan rekor untuk mempunyai sebuah hubungan serius selama 5 tahun. Bahkan sempat kami mengenal sekolah pranikah (dalam agama saya, masa-masa tersebut harus dilalui sebelum menikah). Tapi rencana kini tinggal rencana, mungkin memang kami seharusnya bersama dalam teori, bukan dunia nyata.

Fase ini, saya memasuki transisi baru dalam hidup. Dimana yang paling menyesakkan bukan lagi sakitnya hati namun lebih pada sepinya hari tanpa kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbangun 5 tahun belakangan. Beberapa teman bilang, cara terbaik untuk menyembuhkan patah hati adalah dengan kembali jatuh hati.

             To over someone you should under someone else

#ifyouknowwhatimean

Hari ini, saya mempunyai pertanyaan baru untuk diri saya sendiri. Am I ready to be in a new relationship?

2

Jawaban saya sekarang adalah TIDAK dan mungkin BELUM dalam waktu dekat ini. Walaupun saya tidak memungkiri kalau dekat dan mendapatkan perhatian dari lawan jenis (atau sejenis jika kamu suka) adalah hal yang menyenangkan. Tapi saya tidak mau memulai sesuatu yang baru sebelum benar-benar menyelesaikan unfinished business dalam diri saya. Ini tidak ada hubungannya dengan pasangan saya sebelumnya. It’s all about me, myself and I.

Saya percaya, you will be a happy couple if you are a happy single. Happy single disini saya artikan sebagai seseorang yang sudah nyaman dengan kesendirian dan dapat menikmati hari tanpa sedikitpun ada rasa sepi. Which is I am still trying to get in that phase.

Saya bukan sok kuat. Saya tidak sok tegar. Saya tidak memungkiri, dalam proses saya menuju phase happy single ini saya masih membutuhkan bantuan orang lain. Teman, sahabat, keluarga and you named it. Karena pada dasarnya manusia adalah mahkluk social yang tidak bisa hidup sendiri.

Mungkin sekarang yang saya butuhkan adalah seseorang yang bisa memiliki kesabaran untuk menunggu saya menjadi happy single jika dia ingin kami menjadi happy couple. Lalu apakah pertanda jika kita sudah menjadi happy single? Jawabannya ada di hati masing-masing

d4d9f6cb15308e51f211307015cb7647

Untuk saya, berdamai dengan masa lalu mungkin tidak semudah itu. Namun saya percaya jika Tuhan saja dapat memaafkan kesalahan kita kenapa kita tidak bisa memaafkan diri kita sendiri dan orang yang kita anggap menyakiti kita (yes, I know its sounds cliché). Pada saat saya sudah berdamai dengan masa lalu, saya akan berteman dengan kesendirian sehingga rasa sapi bukan lagi jadi momok yang membuat saya tidak menikmati hidup. Pada fase itulah menurut saya, masa yang paling tepat untuk memulai hubungan baru.

Kenapa?

Karena pada hari itu, hati saya sudah benar-benar kosong dan saya siap untuk membuka lembaran baru dengan cerita berbeda untuk hidup saya yang lebih bahagia.

Lalu bagaimana caranya untuk mencapai fase tersebut?

kristina-needs-to-move-on

Seorang teman pernah menasehati saya, “move on itu bergerak, bukan diam di tempat dan berusaha melupakan.” Hal inilah yang membuat saya berani untuk mencari apa yang membuat saya lebih nyaman dalam hari-hari saya.

Merawat diri, masuk ke komunitas baru, mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya jadi pilihan saya untuk “bergerak”. Hasilnya, walaupun belum benar-benar terbebas dari masa lalu tapi saya sudah melakukan big step untuk semakin dekat dengan happy single phase.

Lalu bagaimana saya tahu siapa pasangan saya selanjutnya?

giphy2

Saya orang yang cukup visualis, saya mempunyai daftar pasangan yang saya inginkan untuk hidup saya ke depan. Namun itu saja tentu tidak cukup. Chemistry dan frekuensi adalah hal selanjutnya yang ingin saya miliki dengan siapapun pasangan saya. Karena pada akhirnya, ketika saya sudah berada diusia senja, yang bisa saya lakukan adalah mengobrol. Berbagi rasa. Berbagi cerita. Saya ingin melakukannya dengan orang yang bisa menerima semua obrolan membosankan saya, rasa campur aduk saya dan tentunya cerita-cerita bodoh tidak masuk akal yang akan saya sampaikan.

Saya orang yang cukup visualis, tak hanya daftar pasangan, saya juga percaya cerita saya selanjutnya akan diawali pada waktu dan dengan cara yang indah. Saya percaya kalau saya peka pada sekitar, ada banyak jawaban dan pesan atas apa yang sedang saya risaukan atau takutkan. Kalau saya peka, ada banyak pesan berasal dari quotes, dari lagu, dari random conversation dengan random people. Percayalah, semesta akan memberi jawaban atas semua pertanyaan, ketakutan dan kebimbangan yang muncul dalam hidup ini.

d9e2cef0-5afa-0133-0bd7-0e34a4cc753d

Percayalah saat kamu bertemu dengan pasangan kamu selanjutnya (meskipun bukan jodoh kamu), you will know that he should be stay longer in your life. Ada bel dalam hati yang berbunyi dan membisikkan pesan untuk kita kalau dia akan memberi warna dalam hari-hari kita ke depan.

Lalu sekali lagi, sudah siapkah saya memulai hubungan baru?

Kalau saat ini kamu juga sedang mengalami fase-fase yang saya alami, percayalah pada kata hatimu. Hanya kamu sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini. It could takes years but for some people it’s also just takes days or weeks. And nothing wrong with it, but the most important thing to do is make sure you already love yourself first.

 

Advertisements

Sebuah Rindu di Era Serba Online

Standard

giphy

Saya masih ingat betapa malu, senang dan deg-degannya saya saat ada seorang pria yang mengajak berkenalan saat saya makan di sebuah restaurant fast food. Atau mengajak berkenalan saat bersebelahan duduk di sebuah travel yang mengantarkan saya dari Salatiga ke Yogyakarta.

Momen-momen manis yang walaupun tidak (semua) berlanjut itu menjadi hal yang sangat jarang terjadi di dalam kehidupan saya beberapa tahun belakangan ini. Jika diingat lebih lanjut, saat ini semua serba online. Mulai dari transportasi online, belanja online hingga dating site yang menyediakan fasilitas untuk berkenalan secara online.

Kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan dari layanan online yang semakin menjamur ini menurut saya menjadi dua mata pisau bagi kehidupan kita. Di satu sisi, saya merasa dimudahkan untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan, namun di sisi lain saya juga merasa kehilangan hal-hal kecil yang bisa menjadi momen manis dan lucu untuk dikenang nantinya.

giphy1

Kemarin saya baru saja mendiskusikan masalah online vs offline dating ini dengan beberapa teman. Kami sepakat kalau online dating saat ini dianggap wajar. Apalagi di usia kami yang sudah mendekati early 30. Ruang lingkup kami yang hanya kantor dan (kalau beruntung) komunitas, menjadi alasan kuat untuk menggunakan dating site sebagai tempat yang tepat untuk menemukan pasangan. Bahkan menurut Julia Spira, seorang online dating expert mengatakan kalau ada banyak kelebihan dari online dating, sebut saja

  1. Kamu bisa bertemu dengan orang dari berbagai daerah, bahkan dari daerah yang belum pernah kamu datangi sekalipun

  2. Aplikasi ini sangat efisien dan tersedia selama 24 jam

  3. Beberapa applikasi bahkan menyediakan parameter kesamaan sifat kamu dengan potential matches yang pastinya akan mempermudah kamu dalam mencari pasangan

Bahkan saya tidak menyangkal kalau dengan adanya online dating site ini, sangat membantu pada saat orang-orang merasa down dan butuh orang baru untuk menjadi teman berbicara atau teman “berbagi”. Bagaimana tidak, dengan menggunakan swipe saja, kamu bisa menemukan orang-orang yang potensial untuk menjadi significant other.

Namun pertanyaan saya lagi adalah, apakah hanya saya atau ada orang-orang di luar sana yang merasa rindu dengan momen manis seperti berkenalan di coffee shop? Atau pada saat mengantri di kasir saat berbelanja?

Ya, saya rindu.

tumblr_mjmbs0fu7n1rswb5ko1_500

Tapi saya juga menyadari, berkenalan secara offline tidak menjamin kalau pasangan saya akan menjadi lebih baik daripada pasangan yang berkenalan secara online. Saya juga punya banyak cerita dari teman-teman di sekitar saya yang berkenalan melalui dating site dan sampai sekarang sudah berkomitmen, baik pacaran, tunangan hingga menikah.

Namun Ladies, perlu di-note juga, tidak semua pria di dating site mencari hubungan serius. Sampai saat ini saya masih belum percaya dengan interest pria di dating site. Bagi saya mereka hanya mencari fun, casual date dan pastinya casual sex. Maafkan keapatisan saya.

Tetapi poinnya kembali lagi, apakah kamu juga merindukan apa yang saya rindukan? Diajak berkenalan dengan seorang pria di sebuah coffeeshop (bukan bar atau club ya!) dan suddenly we can talk about anything di zaman yang serba online ini.

 

Open Letter

Standard

To the Cheaters, Liars, and Wannabe Players,

This woman that you are messing with is a human being and she deserves respect and common decency for crying out loud! She is not a toy that can be thrown out when you’re bored. It does not matter if you have slept with her or not; it does not give you the right to treat her like trash! Quit going back and forth and playing games with her! She’s not a yo-yo!

You don’t want to be with her? Tell her! …Nicely. You want to ‘play the field’ and sleep around? Let her go first, then! You don’t want to be in a relationship, but the idea of her with any other guy bugs the hell out of you? Well, get your head out of your ass and keep her. Or, let her go, so she can have a chance with a man that deserves her.

If you aren’t serious, then let her know and let her go. Don’t be a selfish dick. You may think you’re a big bad player, and you’re so great because you can hook up with so many girls and ditch them. Here’s the thing, acting like a dick won’t make yours any bigger. And you may get a fist pump and props from your friends, but half the time they really think you’re pathetic (and probably diseased, if you’re really not smart about your whoring around). Oh, and the women that you think are so into you because they checked you out, that’s not the case. You may a be very attractive guy, but she can also see that big ‘douche’ label on your forehead.

You complain that women just mess with you anyways, and you can’t seem to hang on to a woman that you’d like to be in a relationship with… Well first of all, there’s this thing called karma, it’s great stuff. Secondly, us women, we talk. Even if we may not personally know every woman you talk to, there is always a connection, remember that. A woman tells her friend, who tells a friend, who tells another friend, at cetera. You don’t respect women, but expect them to respect you?! That’s some bullshit right there!

Personally speaking, I am a grown ass woman, and I don’t play games. Unless it’s a drinking game, and I have yet to be offered any vodka to make this worthwhile. So grow up, be a real man, and be upfront with your intentions. Better yet, keep your stupid games, and your dick, to yourself. It’d really be a public service, to not just to women, but to everyone. Thanks.

Story of Broken-Hearted Girl

Standard

bb.jpg

Tak ada pesta yang tak usai

Sepotong kalimat yang sebenarnya sudah lama saya yakini, namun terlupakan selama beberapa tahun belakangan ini. Saya terlena dengan kisah bersama dia yang selama ini “baik-baik” saja. Bukan berarti saya tidak pernah beradu pendapat, sering bahkan terlalu sering. Namun sepertinya ini adalah akhir dari pesta saya bersama dia.

Hampir tiga tahun bersama-sama, begitu banyak cerita yang sudah terangkai berdua. Manis untuk dikenang namun juga terlalu sakit untuk diteruskan. Tak ada sedetikpun waktu yang terlewatkan tanpa teringat dengan dia. Apalah daya mungkin bukan takdir kami untuk bersama.

Gym, segudang kerjaan dan  berepisode serial film sudah saya coba untuk melupakan bayangannya. Tapi apa daya hati ini terlalu lemah untuk melupkan, otak ini terlalu sesak dengan kenangan. Entah bagaimana ke depannya saya bisa menjalani hari-hari sibuk yang sudah menanti di depan mata. Tapi sepertinya sesibuk apapun itu, masih belum cukup untuk mengusir satu nama yang terlanjur sudah mendarah daging di kepala.

Hasrat hati ini ingin benar-benar tidak menghubungi dia, tapi apa daya tangan tak kuasa menahan getaran yang melumpuhkan akal sehat. Yang bisa saya lakukan sekarang, mengirimkan pesan di dada dengan permintaan untuk tidak dijawab. Karena satu kata dari dia, akan menghancurkan semua pertahanan untuk terus mengakhiri kisah ini.

Jika ditanya, seberapa besar cinta ini untuknya? Jawabannya saya hanya bisa meraba-raba. Yang pasti, tak ada satu haripun yang bisa membuat saya melupakan kenangannya. Tak peduli sesibuk apa. Tak peduli selelah apa.

Bahkan, setelah ini pun saya tidak tau harus melanjutkan hidup yang seperti apa. Apapun yang direncakan oleh otak saya, selalu gagal dilakukan karena hati saya. Mungkin sebagian berkata saya bodoh, sebagian lagi mengecam saya lemah. Saya tak bisa menyangkal meraka. Begitulah adanya.

Terlalu banyak cerita baik suka atau duka, terlalu banyak hari yang dibagi baik dengan tawa atau makian bersamanya.  Terlalu sering mata ini memandangnya, terlalu sering mulut ini menciumnya, terlalu sering hati ini jatuh cinta padanya.

Sebagian teman bilang saya butuh liburan, sebagian lagi menyarankan untuk lebih fokus pada kerjaan. Tapi tau kah mereka yang saya butuh hanya dia? Diakui atau disangkal oleh otak saya sendiri. Mungkin otak saya benar, saya harus merelakan. Tapi bagaimana saya bisa merelakan kalau semua barang, semua jalan, semua tempat atau bahkan semua tulisan mengingatkan saya tentang dia.

Saya pernah lari ke minuman, saya pernah lari ke obat penenang, saya pernah lari ke apapun yang bisa membuat saya melupakan. Tapi semua gagal. Semua tak bisa membuat saya kembali seperti sebelum saya mengenal dia.

Entah sampai kapan sakit ini akan mengendap, entah sampai kapan perih ini akan merajai hari-hari. Yang saya tau, saya hanya berusaha mengembalikan akal sehat ini untuk bisa tetap berjalan ke depan menjalani masalah-masalah lain yang sudah menunggu untuk memperberat hidup saya.

Mungkin saat ini saya hanya butuh kesendirian, atau mungkin saat ini saya hanya butuh keramaian. Entah. Kembali kata-kata memenuhi tiap sudut otak saya.

Mata ini sibuk mencari tau apakah dia sudah membaca pesan yang tadi saya kirim. Tangan ini sibuk merangkai kata untuk menutupi semua luka di dada. Hati ini sibuk meraba-raba apa yang sedang dia lakukan tanpa saya. Semua sibuk. Sibuk untuk sesuatu yang yang tidak tau pasti.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya patah hati. Tapi untuk kesekian kalinya patah hati, ini yang tersakit. Ini yang terperih. Ini yang paling menguras air mata. Ini yang paling membuat saya jadi gila. Saya bisa apa?

 

Cerita Intan

Standard

Intan merapikan lagi kamarnya yang sebenernya sudah rapi. Seharian ini, sudah tiga kali Intan menata ulang interior kamarnya yang tidak seberapa luas. Setiap pojokan di kamarnya ia bersihkan lagi, takut kalau ada barang Dirga yang tercecer.

Dirga, nama yang selama dua tahun ini mengisi relung hati Intan. Dengan senyuman bahagia, dengan gelak tawa yang terbahak-bahak, dengan jerit kemarahan yang membahana dan dengan tangis histeris saat pria itu berlalu. Dua tahun mereka hidup bersama-sama. Namun episode kehadiran Intan pada jalan hidup Dirga sepertinya sudah berakhir.

Semua ketidak cocokan berawal dari hal-hal sepele yang sebenarnya wajar terjadi. Ditambah dengan kejadian saat Dirga membaca pembicaraan antara Intan dengan mantan kekasihnya. Semua menjadi-jadi. Emosi menguasai hati, kata-kata saling memaki, dan cinta sudah tidak ada lagi.

Dirga berlalu. Meninggalkan luka yang teramat dalam di hati Intan. Memang tidak semuanya salah Dirga, tapi Intan sudah terlalu lelah dengan semua pertengkaran yang mereka hadari setiap hari. Intan lelah, Dirga muak, cinta sudah tidak bersisa lagi.

________________

Sambil membereskan file-file foto mereka berdua, lamunan Intan kembali melayang ke bulan-bulan awal mereka menjalin kasih. Cinta yang awalnya tidak direncakan, ternyata menjadi sangat manis dan memabukan. Intan terbawa dalam pesona Dirga yang luar biasa. Senyumnya yang khas, perhatiannya yang meluluhkan hati dan obrolannya yang membuat mereka lupa waktu. Intan tergila-gila.

Seorang Intan yang awalnya sangat membenci pernikahan, bahkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah, mulai terbersit keinginan ingin menikah. Intan ingin menghabiskan hari tua dengan Dirga, menjalani setiap tawa dan canda dengan Dirga dan melewati semua masalah yang tak biasa dengan Dirga.

Pernikahan impian pun sudah terbersit. Dengan alkohol yang memabukan, Intan percaya dia dan Dirga akan bahagia.

Namun sepertinya tidak ada pesta yang tak usai. Perbedaan mulai memisahkan mereka, pertengkaran mulai memenuhi hari-hari mereka lalu semua kebiasaan-kebiasaan sepele yang tadinya masih bisa diterima, menjadi alasan untuk beradu mulut.

Intan lelah, Dirga muak.

Lalu mereka berpisah.

__________________

Suara ketukan di pintu menyadarkan Intan dari lamunan panjangnya. Tanpa ada niatan membuka pintu, Intan kembali termenung. “Ah, pernikahan memang bukan tercipta untuk saya rasakan.” Pelan-pelan kesadarannya kembali.

Babak hidupnya selama dua tahun ke belakang mengajarkan banyak hal. Mungkin Intan memang bukan wanita yang bisa diatur begitu saja. Mungkin Intan terlalu susah untuk diarahkan. Intan terlalu liar untuk ditundukan. Intan terlalu bebas untuk dikekang.

Setetes air mata mengalir membasahi pipi Intan. Sudah dua hari ini Intan tidak keluar kamar. Sudah dua hari ini air mata tidak berhenti membasahi matanya. Sudah dua hari ini berpuluh-puluh batang rokok dihisapnya. Sudah dua hari ini kekosongan menguasai dirinya.

Intan sengaja mematikan semua ponselnya. Dia sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Tidak ingin bertemu siapapun. Dirga sekalipun.

Intan tahu, bukan salah Dirga kalau dia meninggalkannya. Bukan salah Dirga kalau akhirnya dia lelah bertahan. Bukan salah Dirga kalau dia tak sanggup menghadapi tabiat Intan. Ini semua mungkin memang sudah jalannya.

Ah betapa Intan merindukan beer, betapa Intan merindukan pantai.

__________________________

Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar semakin keras. Tak tahan, akhirnya Intan buka juga pintu kamar yang sudah dua hari ini membentenginya dari dunia. Dari Dirga. Dilihatnya wajah-wajah khawatir para sahabatnya yang kemudian berebutan memeluknya. Menghiburnya dengan kata-kata manis. Menguatkannya untuk melepaskan Dirga dari ingatnnya.

Tapi Intan tidak butuh semua itu. Intan hanya mau sendiri. Dalam kegelapan. Bersama beer, rokok dan semua kenangan tentang Dirga.

Intan meronta, Intan berusaha melepaskan diri dari pelukan para sahabatnya. Semua kesakitan yang dia pendam selama ini keluar.

“Gue capek sama semua iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”

“Gue pengeeeen matiiiiiiiiiiiiiiiiii”

“Kalian semua kaya taiiiiiiiiiiiiiiii”

Setelah puas memaki, Intan memandangi wajah bingung sahabat-sahabatnya. Dibantinglah keras-keras pintu kamar Intan sebelum mereka sempat berkata apapun.

Intan mulai meledak. Intan mulai memaki. Intan mulai menghancurkan semua barang yang ada di depan matanya. Buku-buku, piring-piring, laptop, isi lemari dan yang terakhir dirobeknya foto Dirga yang yang sedang memeluknya sambil tersenyum manis!

“Gue capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!”

“Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing”

“Babiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik”

Intan semakin kalap. Gedoran-gedoran dari pintu semakin keras. Lalu semua semakin gelap.

______________________

Intan terbangun di ruangan yang serba putih. Samar-samar dilihatnya ada banyak orang yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Pelan-pelan ia mulai mengenali siapa saja yang ada disekelilingnya. Ada papa, mama, Bila, Riana dan …… Dirga!

Ah nyeri di relung hati Intan datang lagi! Tiba-tiba semua kenangan mereka, dari pertama bertemu, pertama berkencan, pertama berciuman, pertama berbagi badan, pertama bertengkar, pertama berbaikan dan pertama-pertama yang lain mulai menguasai hatinya. Menguasai otaknya.

Tanpa sadar Intan histeris lagi. Ia mulai berteriak-teriak. Semua mundur dari tempat tidurnya, kecuali Dirga. Pria itu malah semakin mendekat. Memeluknya sambil mengucapkan kata cinta. Intan sudah terlalu gila!

Semakin kencang Dirga memeluknya, semakin kuat Intan meronta. Semakin manis Dirga membisikan kata cinta, semakin keras Intan meneriakkan kekecewaannya. Semakin deras air mata yang membahasahi pipinya.

Papa mamanya sudah keluar dari ruangan untuk berbincang dengan dokter. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama ada 4 orang suster yang datang.

Pelan-pelan Dirga mengecup dahinya yang sudah basah oleh keringat

“Baik-baik ya sayang di sini… Cepet sembuh.”

Intan semakin histeris. Keempat suster tadi dengan tanggap dan cepat segera memegangi tangan Intan. Jeritan histeris Intan menggema di selasar Rumah Sakit Jiwa itu.

Jakarta

12 Mei 2015

One Step Closer!

Standard

tumblr_lt4vpne11c1qhnq1co1_1280

Time flies so fucking fast rite?

And one thing this sure, everybody changing! I mean look at me? Many times ago, I am the one who said “I DO NOT WANNA MARRIED” loudly. However, now I am starting to think about my dream wedding. For me it is a big “BIG TOUGHT”!

Wedding party usually seems boring and waste money. Yup, gue nggak nyangka seorang ARGA sekarang berhasil buat bikin gue punya dream wedding, or I should call it dream weeding. LOL! Well, everything not as easy as it seems. I Mean, gue sama Arga literally different in some ways of life, but love become a bridge for us. Gue dengan kehidupan fake gue dan dia dengan kehidupan acak adulnya. Once he said, “kalau semua udah jadi bubur, yang bisa kita lakuin cuma nambahin cakwe, kerupuk sama gorengan biar bubur kita makin enak.” Rite?

Anywho, some situation me us think about wedding and I know the party will be my parents. Not mine or us. So, let it happen because they paid for it. Couple weeks ago, we are invited to attend friends of mine’s wedding party. I have to say, it is the coolest wedding ever. With the garden, the aisle, the food, the people and of course the after party!

Moreover, that wedding inspire me a lot to think about mine. Or us anyway. Pastinya after the sakramen in Wonosobo, I have to be a good daughter for my parent and allow them to hold any party they want. We just become a puppet.

Seems nice because we will never have to think about how much money waste because they will pay it. However, now I seems to think about my own wedding party which I have to throw in celebrating my own wedding. Some discussing with Arga plus talked about it with couple of friends I have clearer vision about my wedding party.

Start with the invitation, we’ll maybe have our own invitation that not expensive, but shows who we really are. Just so us!

One of the idea, but we'll make one of us soon

One of the idea, but we’ll make one of us soon

It will be start couple days after my parents’ party. Me and Arga will be in Salatiga. We will wear our own dream wedding’s costume. Arga will be in his fav jaket kulit and shoes, and I will wearing little black dress.

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

We will inviting some friends, not much maybe only 50. Then, kita bakalan ngumpul di depan kampus UKSW sekitar jam 4 sore dan bakalan bareng-bareng menuju tempat party which is in a villa located in Bandungan or Kopeng. Yup a villa with some bedroom on it riding a jeep.

This will be our perfect ride!

This will be our perfect ride!

Sampai di sana, kita bakalan disambut sama dekorasi supersimple. Some flower and cute lamp outside and inside the villa. There will be no formal situation, only celebrating our wedding. Of course there will be a LOT of beers, liquor, maybe a weed and mushroom. The food? Hmm, we will consider about that that but we not sure it will too delicious.

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

There will be no “pelaminan”, so you don’t have to shake hands with me. Let us to mingle and you can celebrate us personally. Semakin malam party ini bakalan semakin hot! I am sure some of you will be baked and losing your mind, that why you can use the bedroom. *if you know what I mean. Sounds so us isn’t it?

 

You are allowed to get your first one night stand :))))

You are allowed to get your first one night stand :))))

The rest of the party? Let’s we please give it to the liquors and beers. They will find the way to your own fun babe!

 

OMG, i don't have any idea who i am so brave to write all of this :)

OMG, i don’t have any idea who i am so brave to write all of this 🙂

Kamu Dalam Sebotol Bir

Standard

Kamu dalam sebotol bir. Menggoda untuk ada. Dalam buih yang memilih untuk hadir. Memaksa untuk terlihat mata. Dalam segelas penuh airmata. Candumu sedikit demi sedikit meminta untuk larut dalam darah yang awalnya menolak.

Kamu dalam sebotol bir. Menciptakan tawa yang tak bisa menjadi nyata. Menghadirkan cinta yang seharusnya tak ada. Membuat saya memikirkan sebuah kita yang hanya sekedar bersama bukan untuk selamanya.

Kamu dalam sebotol bir. Berwarna keruh seperti kuning yang bukan kuning. Seperti putih yang hanya sebentar putih. Membawa buih yang tak selamanya menjadi buih. Untuk nyata yang sebenarnya tidak nyata.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir mengisi kebosanan saat jemu mulai mengisi kalbu. Hadir mengisi perih saat hati mulai pulih dari rasa sakit yang merintih. Hadir mengisi diri yang mulai terbiasa sendiri melupakan kata cinta yang dulu menghantui .

Kamu dalam sebotol bir. Menyesap dalam setiap sesapan yang nikmat. Senikmat rasa getir yang mulai bercampur dengan getar yang berbeda. Berbeda menghadirkan irama yang melagukan getar saat melalui ujung lidah yang mulai terbiasa merasakan kehadirannya.

Kamu dalam sebotol bir. Menggambarkan kenangan yang tak sama pada setiap gelasnya. Melarutkan setiap kata yang tertahan dalam lidah untuk sementara. Menciptakan sensasi yang berbeda-beda pada orang yang menikmatinya. Sensasi yang kadang diluar logika yang dianggap sempurna. Sensasi yang melewati batas wajar yang tak langsung ditetapkan. Sensasi yang mungkin akan terulang setiap malam.

Kamu dalam sebotol bir. Memperkenalkan rasa baru yang tak ada duanya. Tidak sekuat Countrue ataupun Tequila yang menyegat. Tidak sepekat Jack Daniel dan Red Label yang banyak penggemarnya. Tidak menghadirkan mabuk yang tak nyata saat penikmatnya ingin lari dari kenyataan yang meminta dilupakan.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak membutuhkan pitcher yang berukuran giga untuk seterusnya. Tidak memaksa sloki untuk selalu menjadi tempat yang sempurna. Tidak meminta malam untuk menjadi teman meminumnya. Namun kamu selalu siap menemani setiap rindu yang menggigit walau tak bisa dipingit. Namun kamu selalu siap untuk menyembuhkan sebuah luka lama yang memaksa untuk diingat.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak memandang rupa  penikmatnya. Tidak memilih siapa yang boleh meneguknya. Tidak mengharuskan syarat umur untuk mencoba rasa yang terkandung dalam setiap tempatnya.

Kamu dalam sebotol bir. Bisa diminum didepan CK. Boleh dicoba saat menghabiskan tiap detik di kursi Sevel. Di cafe. Di bar. Di club malam. Di karaokean. Di dalam kamar sempit. Di atas meja kerja. Di dalam mobil tua. Di hati saya. Dimana saja.

Kamu dalam sebotol bir. Memaksa saya untuk selalu ada gelas selanjutnya. Memaksa saya untuk menikmati lebih banyak lagi cairannya. Memaksa saya untuk larut dalam setiap buih yang sibuk tercipta didalamnya.

Kamu dalam sebotol bir. Selalu siap dinikmati tanpa bisa dimiliki selamanya. Selalu tergoda untuk dicobai oleh anak yang beranjak dewasa. Selalu hadir untuk meramaikan obrolan dua orang teman lama yang tidak akan selamanya. Selalu menyimpan sebuah kisah yang mungkin terlalu menyenangkan untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disimpan.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir meninggalkan bekas luka yang tak mudah menghilang.  Hadir untuk kebahagiaan yang mungkin hanya semu belaka. Hadir melengkapi setiap kebosanan akan sebuah kisah lama yang belum terlihat akhirnya.

Kamu dalam sebotol bir. Tak dapat ditolak pesonanya. Pesona yang menyimpan racun manis yang kadang bisa mematikan. Pesona yang mewarnai sebuah gelas yang menjadi perantara mulut yang mempunyai sejuta makna. Pesona yang membawa saya pada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada menjadi nyata. Pesona yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata penyair jalanan di pinggiran kota. Pesona yang mungkin punya arti yang berbeda bagi saya dan orang lainnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menjadi teman saya menghabiskan malam bersama berbatang-batang rokok yang hancur terbakar bersama kenangan yang mulai memudar. Abu yang menjadi saksi kesakitan yang terlalu merasuk didalam sisi hati yang semakin beku.

Kamu dalam sebotol bir. Menghidupkan lagi hati yang sudah lama dibiarkan mati. Mengajarkan lagi rasa sakit yang selama ini berhenti terakit. Melupakan semua logika yang selama ini selalu dipaksa untuk ada. Menghancurkan lagi setiap inci benteng hati yang perlu banyak waktu untuk membangunnya. Mengisi lagi setiap sudut di hati dengan berbagai rasa yang membuncah, berbagai warna yang meriah. Berbagai luka yang mengiris setiap sendi dari raga ini.

Kamu dalam sebotol bir. Membawa saya pada sebuah kisah saat pertama kali saya mengenangmu bukan sebagai kamu yang hanya kamu. Membawa saya mengenangmu sebagai sebuah kisah yang tak ada akhirnya. Karena kita tak pernah punya awal yang sempurna. Dan kita juga tak punya akhir yang membuat tawa berganti air mata. Saat cinta tak lagi ada. Saat nafsu mulai menemukan sadarnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menemani saya mengarungi lautan kata. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara dan mungkin kini sudah tidak meninggalkan sisa kenangan tentang saya.

Kamu dalam sebotol bir. Hanya meninggalkan sebuah botol sisa yang sudah tak lagi ada isinya. Hanya memberikan bukti kalau bir ini memang pernah hadir dan melengkapi penikmatinya melalui waktu yang kelu. Hanya menjadi sebuah prasasti tentang semua rasa yang sempat hadir bermunculan saat semua masih ada memenuhi gelas ini. Seperti kamu yang tinggal hadir dalam sebuah ingatan yang mereka sebut dengan kenangan. Seperti kamu yang masih ada didepan saya namun sudah tidak dapat saya jangkau lagi seperti waktu itu. Seperti kamu yang mengajarkan saya untuk mengenal rasa sempurna pada kisah asmara kita yang melengkapi setiap hela nafas yang tercipta. Seperti kamu yang berlalu meninggalkan luka yang masih menganga, merah dan perih tanpa bisa dialihkan pada sisi hati yang masih mengharapkan lebih.

Kamu dalam sebotol bir. Nyata. Namun bukan hanya milik saya. Selamanya.