For You, Who Nearly Hit 30 Years Old

Standard

pexels-photo-590513.jpeg

When she was 22, the future looked bright. She is nearly 30 now and have mid life crisis.

You are not alone. Maybe you worry, maybe you nervous but it’s okay. You already hit your Saturn Return. If you do not know yet, Saturn Return is a phase where you will experienced intense growth, discomfort and maturity. This time you will learn to take responsibility for yourself and make you questioning everyting. Saturn Return will hit you when you are 28-29 years old, and it will force you to make important life decisions. It will push you to be honest with where you are falling short. This time may feel hash and unsympathetic, but it is preparing you to own the next chapter of your life. Maybe you feel like failing, but its a good sign that you are right on schedule.

Sometimes you need to lose yourself before you know who you are, so be thankful for everyone who hurting you

It’s time to love yourself more. It’s time to make peace with your past. Do some meditation, say sorry for yourself because you let other people hurting you again and again. Because you let yourself become someone else just because you want to pleased the one that you think important.

Do some talk with yourself. Ask yourself what your heart wants. Maybe it sounds crazy but believe me, it is one of a way to know more about yourself. If i may ask you, when the last time you put yourself above first? Maybe some of you answer always, but i believe some other is need a time to think first before answering this question.

This year, before you hit your 30, you need to make a big decision. Getting married, getting divorce, buying properties, find a new career path or anything else. It’s time to know what you want in your life.

I know it’s hard but this time, you will be fine because you are strong enough to hit the rock bottom and then crawling back. All you need to do is make your own affirmative support and focusing on yourself.

Stop becoming the big bully for yourself. Stop complaining your body shape. Change this sentence:

“I am too fat!”

“I am too ugly!”

“I will find my prince.”

“Someday the one will come and make me happy”

Into this sentence:

“I will fine and i will make my own happiness”

“I am beautiful”

“Today i will be happy”

Remember, you are who you think you are

So be happy, your fabulous 30 are ready to give you sweet surprises and drowning you with happiness!

 

Advertisements

Mintalah, Maka Kamu Akan Mendapatkan

Standard

pexels-photo-173664

Seperempat bulan di tahun 2017 lalu, adalah bulan-bulan paling spiritual dalam hidup saya. Sounds cheesy but true. Pencarian jati diri kembali dilakukan, pembuktian dan kembali mempercayai kekuatan yang paling besar dalam semesta. Lalu apa yang saya dapat? Di awal tahun 2018 ini, saya menemukan jawaban atas semua pertanyaan saya yang muncul tahun lalu (dan beberapa tahun sebelumnya) bahwa sebenarnya, hal pertama yang harus saya lakukan untuk menemukan ketenangan adalah berdamai dengan masa lalu dan lebih mencintai diri sendiri.

Mintalah, makan akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan

Matius 7: 7-8

Ayat dari Alkitab ini menjadi salah satu ayat yang saya Imani dan sudah saya buktikan kebenaran. Semua pergumulan dan kerinduan saya akan semua hal; penghiburan, kekuatan bahkan sampai masalah ekonomi pun terjawab.

 

Sebuah contoh kecil; sebelum Natal saya harus pulang ke rumah, naik kereta yang berangkat jam 4 pm dari Gambir. Saya berangkat dari kantor (di bilangan Gandaria) pada pukul 2.30 pm dan ternyata prediksi saya soal lancarnya jalanan salah. Pukul 3.45 saya masih terjebak macet di jalanan Thamrin. Dari Waze, perkiraan saya sampai di Gambir pukul 4.10 pm. Saya pasrah, setelah mengecek keberangkatan kereta selanjutnya yang ternyata penuh, jalan keluar saya mungkin hanya pesawat. Dalam kepasrahan itu saya hanya berdoa, “Tuhan Yesus tolong”. Dan setelah sepanjang jalan saya menggumamkan kalimat tersebut, mukjizat terjadi. Saya sampai di Gambir pukul 3.55 pm.

 

Itu baru hal kecil, ada banyak hal lain yang kemudian bila saya telaah adalah sebuah mukjizat besar yang sangat saya syukuri. Saya yang masih jauh dari kata taat pada Tuhan saja selalu ditolong, apalagi kalau kamu yang pasti sudah lebih taat daripada saya?

 

Tak hanya masalah iman, tahun 2017 mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap semesta dan apa yang mereka coba sampaikan pada saya. Saya percaya dalam hidup ini, apa pun yang terjadi pada saya bukan kebetulan. Semua punya maksud. Dengan siapa saya bertemu, jalanan mana yang saya pilih, semua punya tujuan.

 

Paulo Coelho dalam bukunya, The Alchemist, mengatakan bahwa when you want something, the universe will conspire in helping you to achieve it. Yang harus kita lakukan adalah memastikan kalau pilihan dan keputusan yang kita buat itu sudah benar dan sesuai dengan tujuan hidup kita atau belum. Karena in the end setiap orang memiliki satu tujuan hidup, dimana dia belong to. Nah untuk memastikan hal itu, saya (berdasarkan The Alchemist) harus peka dengan “omen” atau sign yang ada di sekitar saya.

 

Paulo-Coelho-Quotes-About-Love-Life-and-The-Alchemist-9

Saya punya pengalaman yang menurut saya cukup menjawab kebingungan saya terhadap omen saya (omen setiap orang berbeda, kadang hal tersebut omen bagi saya namun means nothing bagi orang lain, dan sebaliknya). Setelah beberapa bulan berpisah dari long term bf, long story short saya merasakan kerinduan di mana saya merasa saya ingin bertemu dengan dia untuk terakhir kali sebagai closure. Namun keinginan saya untuk menghubungi dia masih tertahan di kepala dengan berbagai pertimbangan. Kala itu saya menunggu omen yang diberikan semesta, apakah saya harus menghubungi dia atau tidak. Dan keesokan harinya, dari Instagram saya menemukan omen saya berikut ini;

 

retno prasetyani missnenooo • Instagram photos and videos (1)

Tentu saja jawabannya setelah melihat omen saya ini adalah tidak menghubungi dia dan saya move on with my life.

 

Hal-hal spiritual seperti inilah yang terlewat dari kehidupan saya beberapa tahun ke belakang. Maka dari itu, saya sangat bahagia karena pada akhirnya di tahun 2018 ini saya menemukan the old me who left behind and forgotten before.

 

Bagi diri saya sendiri di tahun 2018 ini, resolusi saya hanya satu. Lebih mencintai diri saya sendiri dan lebih mengenal diri saya sendiri. Karena if you are uncomfortable spending time alone with yourself, what makes you think anyone else will feel comfortable spending time with you?

tumblr_mwgi6is8kw1sw5k9ro1_400

Oiya sedikit advice untuk orang-orang yang sedang dalam pergumulan, apapun itu pergumulan kamu, saya punya beberapa saran. Yang pertama tentu saja tetap berusaha dan jangan menyerah, bawa semua pergumulan kamu dalam doa. Sedetail mungkin, serinci mungkin. Tuhan pasti bantu setiap pergumulan yang kamu miliki. Kemudian yang terakhir, jadilah lebih peka terhadap semesta sehingga kamu bisa menyadari dan melihat omen untuk setiap keraguan dan pertanyaan yang muncul dalam hidup kamu. Good luck!!

Natal dan Bapak

Standard

fbe531339ceffcb8b2e4aa12042429c9

Merry Christmas everybody!

Tahun ini adalah Natal pertama saya dalam lima tahun belakangan yang saya rayakan di rumah sejak dua hari sebelum Natal. Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam lima tahun kebelakang saya bisa mengikuti Kebaktian Malam Natal dan Kebaktian Natal itu sendiri. Rasanya? I am feeling blessed (despite every single pity look from people who know about the broken up and cancelling marriage thingy).

Ada banyak hal yang bisa saya refleksikan pada hari Natal tahun ini. Berkumpul dengan keluarga adalah salah satu hadiah terbesar saya menjelang akhir tahun 2017. Meskipun tanpa pohon natal dan tetek bengek hiasannya (keluarga saya penganut paham tidak mau ribet), saya tetap merasakan Christmassy feeling yang sangat kuat saat merayakan Natal tahun ini bersama keluarga.

Sekali lagi, untuk lima tahun belakangan ini kemarin adalah malam natal pertama yang tidak saya habiskan di bar atau club yang tentu saja berakhir dengan mabuk dan did shameful things. Saya tahu saya bukan orang yang taat atau rajin ke gereja, namun pada Kebaktian Malam Natal kemarin, saya benar-benar merasa lebih dekat dengan bapak dan ibu saya.

Betapa selama ini saya tidak tahu apa yang diinginkan oleh orang tua saya yang semakin berumur. Melalui Kebaktian Malam Natal kemarin saya baru tahu betapa bapak saya yang selalu kelihatan galak (pada masa kanak-kanak dan remaja saya) terlihat rapuh dan normal. Ya, normal. Bapak yang selama ini selalu terlihat tangguh dan tegas, malam itu terlihat lemah dengan mendoakan saya untuk segera mendapatkan jodoh dan menggelar pernikahan. Keinginan besar yang selama ini tidak pernah diungkapkannya.

Ternyata yang paling terluka dari perpisahan saya dengan mantan kekasih saya kemarin bukan saya atau dia, tapi bapak saya. Bapak yang selama ini selalu terlihat cuek, bahkan mantan saya bilang bapak itu galak dan berkharisma. Tapi malam kemarin, saat kami harus bertukar doa syafaat, beliau terlihat sangat rapuh dengan meminta jodoh untuk anak perempuan terakhirnya.

Beliau memang tidak pernah memaksa hal ini pada saya. Untuk ukuran keluarga Jawa yang masih konvensional, saya tahu bapak dan ibu menginginkan kesempuranaan dalam keluarga mereka, dimana semua anaknya akan berumah tangga dan menghadirkan cucu untuk mereka. Bapak memang tidak pernah bilang apa-apa, bahkan beliau yang menguatkan saya saat rencana pernikahan itu gagal, tapi saya benar-benar tidak menyangka kalau beliaulah yang paling terluka dari gagalnya rencana kami tahun depan.

Natal tahun ini benar-benar membawa banyak rasa untuk saya. Rasa bahagia dapat berkumpul dengan keluarga sejak beberapa hari sebelum Natal tiba, rasa hangat saat merayakan Natal bersama orang-orang tersayang hingga rasa bersalah karena belum dapat membahagiakan orang tua saya.

Tapi masalahnya, saat ini saya bahkan semakin apatis dengan hubungan percintaan. Bukan saya trauma atau takut, namun lebih menjadi realistis. Saya memang masih percaya suatu saat nanti akan ada pasangan yang sepadan untuk saya, namun saat ini saya masih sibuk untuk memperbaiki diri saya sendiri. Menyatukan kembali puing-puing impian saya yang banyak hilang selama lima tahun kebelakang.

Pada hari Natal tahun ini, doa saya hanya satu, menjadi pribadi yang lebih baik sehingga bisa memperbaiki keadaan yang menurut saya saat ini masih sangat berantakan dan berada diluar kendali saya. Perkara yang lain, saya percaya saat saya sudah menjadi lebih baik, hal baik lainnya akan mengikutinya.

Natal tahun ini membuat saya satu langkah lagi lebih dekat dengan bapak saya. Bapak yang selama ini saya sayangi namun tetap berjarak. Bapak yang selalu mendukung keputusan anaknya walaupun di depan saya selalu menunjukkan hal-hal kontra yang nantinya mungkin terjadi dalam hidup saya.

3ead71b8-a2f0-42d2-9967-7918d4883f11

Semoga Natal tahun depan saya bisa semakin dekat dengan bapak seperti saya dekat dengan ibu.

Are You Ready?

Standard

Saya masih ingat, pada masa transisi perpindahan usia antara belasan menuju awal dua puluhan saya tidak pernah menjalin hubungan lebih dari tiga bulan. Tak hanya itu saja, masa duka saya setelah berpisah juga tidak lebih dari hitungan minggu.

4zntsbl

Namun kini menjelang kepala 3, saya berhasil memecahkan rekor untuk mempunyai sebuah hubungan serius selama 5 tahun. Bahkan sempat kami mengenal sekolah pranikah (dalam agama saya, masa-masa tersebut harus dilalui sebelum menikah). Tapi rencana kini tinggal rencana, mungkin memang kami seharusnya bersama dalam teori, bukan dunia nyata.

Fase ini, saya memasuki transisi baru dalam hidup. Dimana yang paling menyesakkan bukan lagi sakitnya hati namun lebih pada sepinya hari tanpa kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbangun 5 tahun belakangan. Beberapa teman bilang, cara terbaik untuk menyembuhkan patah hati adalah dengan kembali jatuh hati.

             To over someone you should under someone else

#ifyouknowwhatimean

Hari ini, saya mempunyai pertanyaan baru untuk diri saya sendiri. Am I ready to be in a new relationship?

2

Jawaban saya sekarang adalah TIDAK dan mungkin BELUM dalam waktu dekat ini. Walaupun saya tidak memungkiri kalau dekat dan mendapatkan perhatian dari lawan jenis (atau sejenis jika kamu suka) adalah hal yang menyenangkan. Tapi saya tidak mau memulai sesuatu yang baru sebelum benar-benar menyelesaikan unfinished business dalam diri saya. Ini tidak ada hubungannya dengan pasangan saya sebelumnya. It’s all about me, myself and I.

Saya percaya, you will be a happy couple if you are a happy single. Happy single disini saya artikan sebagai seseorang yang sudah nyaman dengan kesendirian dan dapat menikmati hari tanpa sedikitpun ada rasa sepi. Which is I am still trying to get in that phase.

Saya bukan sok kuat. Saya tidak sok tegar. Saya tidak memungkiri, dalam proses saya menuju phase happy single ini saya masih membutuhkan bantuan orang lain. Teman, sahabat, keluarga and you named it. Karena pada dasarnya manusia adalah mahkluk social yang tidak bisa hidup sendiri.

Mungkin sekarang yang saya butuhkan adalah seseorang yang bisa memiliki kesabaran untuk menunggu saya menjadi happy single jika dia ingin kami menjadi happy couple. Lalu apakah pertanda jika kita sudah menjadi happy single? Jawabannya ada di hati masing-masing

d4d9f6cb15308e51f211307015cb7647

Untuk saya, berdamai dengan masa lalu mungkin tidak semudah itu. Namun saya percaya jika Tuhan saja dapat memaafkan kesalahan kita kenapa kita tidak bisa memaafkan diri kita sendiri dan orang yang kita anggap menyakiti kita (yes, I know its sounds cliché). Pada saat saya sudah berdamai dengan masa lalu, saya akan berteman dengan kesendirian sehingga rasa sapi bukan lagi jadi momok yang membuat saya tidak menikmati hidup. Pada fase itulah menurut saya, masa yang paling tepat untuk memulai hubungan baru.

Kenapa?

Karena pada hari itu, hati saya sudah benar-benar kosong dan saya siap untuk membuka lembaran baru dengan cerita berbeda untuk hidup saya yang lebih bahagia.

Lalu bagaimana caranya untuk mencapai fase tersebut?

kristina-needs-to-move-on

Seorang teman pernah menasehati saya, “move on itu bergerak, bukan diam di tempat dan berusaha melupakan.” Hal inilah yang membuat saya berani untuk mencari apa yang membuat saya lebih nyaman dalam hari-hari saya.

Merawat diri, masuk ke komunitas baru, mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya jadi pilihan saya untuk “bergerak”. Hasilnya, walaupun belum benar-benar terbebas dari masa lalu tapi saya sudah melakukan big step untuk semakin dekat dengan happy single phase.

Lalu bagaimana saya tahu siapa pasangan saya selanjutnya?

giphy2

Saya orang yang cukup visualis, saya mempunyai daftar pasangan yang saya inginkan untuk hidup saya ke depan. Namun itu saja tentu tidak cukup. Chemistry dan frekuensi adalah hal selanjutnya yang ingin saya miliki dengan siapapun pasangan saya. Karena pada akhirnya, ketika saya sudah berada diusia senja, yang bisa saya lakukan adalah mengobrol. Berbagi rasa. Berbagi cerita. Saya ingin melakukannya dengan orang yang bisa menerima semua obrolan membosankan saya, rasa campur aduk saya dan tentunya cerita-cerita bodoh tidak masuk akal yang akan saya sampaikan.

Saya orang yang cukup visualis, tak hanya daftar pasangan, saya juga percaya cerita saya selanjutnya akan diawali pada waktu dan dengan cara yang indah. Saya percaya kalau saya peka pada sekitar, ada banyak jawaban dan pesan atas apa yang sedang saya risaukan atau takutkan. Kalau saya peka, ada banyak pesan berasal dari quotes, dari lagu, dari random conversation dengan random people. Percayalah, semesta akan memberi jawaban atas semua pertanyaan, ketakutan dan kebimbangan yang muncul dalam hidup ini.

d9e2cef0-5afa-0133-0bd7-0e34a4cc753d

Percayalah saat kamu bertemu dengan pasangan kamu selanjutnya (meskipun bukan jodoh kamu), you will know that he should be stay longer in your life. Ada bel dalam hati yang berbunyi dan membisikkan pesan untuk kita kalau dia akan memberi warna dalam hari-hari kita ke depan.

Lalu sekali lagi, sudah siapkah saya memulai hubungan baru?

Kalau saat ini kamu juga sedang mengalami fase-fase yang saya alami, percayalah pada kata hatimu. Hanya kamu sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini. It could takes years but for some people it’s also just takes days or weeks. And nothing wrong with it, but the most important thing to do is make sure you already love yourself first.

 

Sebuah Rindu di Era Serba Online

Standard

giphy

Saya masih ingat betapa malu, senang dan deg-degannya saya saat ada seorang pria yang mengajak berkenalan saat saya makan di sebuah restaurant fast food. Atau mengajak berkenalan saat bersebelahan duduk di sebuah travel yang mengantarkan saya dari Salatiga ke Yogyakarta.

Momen-momen manis yang walaupun tidak (semua) berlanjut itu menjadi hal yang sangat jarang terjadi di dalam kehidupan saya beberapa tahun belakangan ini. Jika diingat lebih lanjut, saat ini semua serba online. Mulai dari transportasi online, belanja online hingga dating site yang menyediakan fasilitas untuk berkenalan secara online.

Kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan dari layanan online yang semakin menjamur ini menurut saya menjadi dua mata pisau bagi kehidupan kita. Di satu sisi, saya merasa dimudahkan untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan, namun di sisi lain saya juga merasa kehilangan hal-hal kecil yang bisa menjadi momen manis dan lucu untuk dikenang nantinya.

giphy1

Kemarin saya baru saja mendiskusikan masalah online vs offline dating ini dengan beberapa teman. Kami sepakat kalau online dating saat ini dianggap wajar. Apalagi di usia kami yang sudah mendekati early 30. Ruang lingkup kami yang hanya kantor dan (kalau beruntung) komunitas, menjadi alasan kuat untuk menggunakan dating site sebagai tempat yang tepat untuk menemukan pasangan. Bahkan menurut Julia Spira, seorang online dating expert mengatakan kalau ada banyak kelebihan dari online dating, sebut saja

  1. Kamu bisa bertemu dengan orang dari berbagai daerah, bahkan dari daerah yang belum pernah kamu datangi sekalipun

  2. Aplikasi ini sangat efisien dan tersedia selama 24 jam

  3. Beberapa applikasi bahkan menyediakan parameter kesamaan sifat kamu dengan potential matches yang pastinya akan mempermudah kamu dalam mencari pasangan

Bahkan saya tidak menyangkal kalau dengan adanya online dating site ini, sangat membantu pada saat orang-orang merasa down dan butuh orang baru untuk menjadi teman berbicara atau teman “berbagi”. Bagaimana tidak, dengan menggunakan swipe saja, kamu bisa menemukan orang-orang yang potensial untuk menjadi significant other.

Namun pertanyaan saya lagi adalah, apakah hanya saya atau ada orang-orang di luar sana yang merasa rindu dengan momen manis seperti berkenalan di coffee shop? Atau pada saat mengantri di kasir saat berbelanja?

Ya, saya rindu.

tumblr_mjmbs0fu7n1rswb5ko1_500

Tapi saya juga menyadari, berkenalan secara offline tidak menjamin kalau pasangan saya akan menjadi lebih baik daripada pasangan yang berkenalan secara online. Saya juga punya banyak cerita dari teman-teman di sekitar saya yang berkenalan melalui dating site dan sampai sekarang sudah berkomitmen, baik pacaran, tunangan hingga menikah.

Namun Ladies, perlu di-note juga, tidak semua pria di dating site mencari hubungan serius. Sampai saat ini saya masih belum percaya dengan interest pria di dating site. Bagi saya mereka hanya mencari fun, casual date dan pastinya casual sex. Maafkan keapatisan saya.

Tetapi poinnya kembali lagi, apakah kamu juga merindukan apa yang saya rindukan? Diajak berkenalan dengan seorang pria di sebuah coffeeshop (bukan bar atau club ya!) dan suddenly we can talk about anything di zaman yang serba online ini.

 

Open Letter

Standard

To the Cheaters, Liars, and Wannabe Players,

This woman that you are messing with is a human being and she deserves respect and common decency for crying out loud! She is not a toy that can be thrown out when you’re bored. It does not matter if you have slept with her or not; it does not give you the right to treat her like trash! Quit going back and forth and playing games with her! She’s not a yo-yo!

You don’t want to be with her? Tell her! …Nicely. You want to ‘play the field’ and sleep around? Let her go first, then! You don’t want to be in a relationship, but the idea of her with any other guy bugs the hell out of you? Well, get your head out of your ass and keep her. Or, let her go, so she can have a chance with a man that deserves her.

If you aren’t serious, then let her know and let her go. Don’t be a selfish dick. You may think you’re a big bad player, and you’re so great because you can hook up with so many girls and ditch them. Here’s the thing, acting like a dick won’t make yours any bigger. And you may get a fist pump and props from your friends, but half the time they really think you’re pathetic (and probably diseased, if you’re really not smart about your whoring around). Oh, and the women that you think are so into you because they checked you out, that’s not the case. You may a be very attractive guy, but she can also see that big ‘douche’ label on your forehead.

You complain that women just mess with you anyways, and you can’t seem to hang on to a woman that you’d like to be in a relationship with… Well first of all, there’s this thing called karma, it’s great stuff. Secondly, us women, we talk. Even if we may not personally know every woman you talk to, there is always a connection, remember that. A woman tells her friend, who tells a friend, who tells another friend, at cetera. You don’t respect women, but expect them to respect you?! That’s some bullshit right there!

Personally speaking, I am a grown ass woman, and I don’t play games. Unless it’s a drinking game, and I have yet to be offered any vodka to make this worthwhile. So grow up, be a real man, and be upfront with your intentions. Better yet, keep your stupid games, and your dick, to yourself. It’d really be a public service, to not just to women, but to everyone. Thanks.

Story of Broken-Hearted Girl

Standard

bb.jpg

Tak ada pesta yang tak usai

Sepotong kalimat yang sebenarnya sudah lama saya yakini, namun terlupakan selama beberapa tahun belakangan ini. Saya terlena dengan kisah bersama dia yang selama ini “baik-baik” saja. Bukan berarti saya tidak pernah beradu pendapat, sering bahkan terlalu sering. Namun sepertinya ini adalah akhir dari pesta saya bersama dia.

Hampir tiga tahun bersama-sama, begitu banyak cerita yang sudah terangkai berdua. Manis untuk dikenang namun juga terlalu sakit untuk diteruskan. Tak ada sedetikpun waktu yang terlewatkan tanpa teringat dengan dia. Apalah daya mungkin bukan takdir kami untuk bersama.

Gym, segudang kerjaan dan  berepisode serial film sudah saya coba untuk melupakan bayangannya. Tapi apa daya hati ini terlalu lemah untuk melupkan, otak ini terlalu sesak dengan kenangan. Entah bagaimana ke depannya saya bisa menjalani hari-hari sibuk yang sudah menanti di depan mata. Tapi sepertinya sesibuk apapun itu, masih belum cukup untuk mengusir satu nama yang terlanjur sudah mendarah daging di kepala.

Hasrat hati ini ingin benar-benar tidak menghubungi dia, tapi apa daya tangan tak kuasa menahan getaran yang melumpuhkan akal sehat. Yang bisa saya lakukan sekarang, mengirimkan pesan di dada dengan permintaan untuk tidak dijawab. Karena satu kata dari dia, akan menghancurkan semua pertahanan untuk terus mengakhiri kisah ini.

Jika ditanya, seberapa besar cinta ini untuknya? Jawabannya saya hanya bisa meraba-raba. Yang pasti, tak ada satu haripun yang bisa membuat saya melupakan kenangannya. Tak peduli sesibuk apa. Tak peduli selelah apa.

Bahkan, setelah ini pun saya tidak tau harus melanjutkan hidup yang seperti apa. Apapun yang direncakan oleh otak saya, selalu gagal dilakukan karena hati saya. Mungkin sebagian berkata saya bodoh, sebagian lagi mengecam saya lemah. Saya tak bisa menyangkal meraka. Begitulah adanya.

Terlalu banyak cerita baik suka atau duka, terlalu banyak hari yang dibagi baik dengan tawa atau makian bersamanya.  Terlalu sering mata ini memandangnya, terlalu sering mulut ini menciumnya, terlalu sering hati ini jatuh cinta padanya.

Sebagian teman bilang saya butuh liburan, sebagian lagi menyarankan untuk lebih fokus pada kerjaan. Tapi tau kah mereka yang saya butuh hanya dia? Diakui atau disangkal oleh otak saya sendiri. Mungkin otak saya benar, saya harus merelakan. Tapi bagaimana saya bisa merelakan kalau semua barang, semua jalan, semua tempat atau bahkan semua tulisan mengingatkan saya tentang dia.

Saya pernah lari ke minuman, saya pernah lari ke obat penenang, saya pernah lari ke apapun yang bisa membuat saya melupakan. Tapi semua gagal. Semua tak bisa membuat saya kembali seperti sebelum saya mengenal dia.

Entah sampai kapan sakit ini akan mengendap, entah sampai kapan perih ini akan merajai hari-hari. Yang saya tau, saya hanya berusaha mengembalikan akal sehat ini untuk bisa tetap berjalan ke depan menjalani masalah-masalah lain yang sudah menunggu untuk memperberat hidup saya.

Mungkin saat ini saya hanya butuh kesendirian, atau mungkin saat ini saya hanya butuh keramaian. Entah. Kembali kata-kata memenuhi tiap sudut otak saya.

Mata ini sibuk mencari tau apakah dia sudah membaca pesan yang tadi saya kirim. Tangan ini sibuk merangkai kata untuk menutupi semua luka di dada. Hati ini sibuk meraba-raba apa yang sedang dia lakukan tanpa saya. Semua sibuk. Sibuk untuk sesuatu yang yang tidak tau pasti.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya patah hati. Tapi untuk kesekian kalinya patah hati, ini yang tersakit. Ini yang terperih. Ini yang paling menguras air mata. Ini yang paling membuat saya jadi gila. Saya bisa apa?