mimpi

Standard

Suara ayam berkokok itu membangunkan saya dari tidur saya yang sangat nyenyak. Saya suka tidur, karena saat tidur saya bisa menjadi apa yang saya inginkan. Saat tidur saya bisa memiliki apa yang tidak bisa saya miliki. Saat tidur saya menjadi perempuan yang paling sempurna.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam kehidupan saya. Saya punya orang tua yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Saya punya teman-teman yang begitu menyayangi saya. Saya punya pekerjaan yang bagus. Tidak ada yang salah dengan kehidupan saya. Yang salah hanya nasib saya.

Didalam mimpi, saya bisa mendapatkan apa yang tidak bisa saya dapat dari kehidupan nyata. Dalam mimpi saya bisa menjadi perempuan paling cantik yanh pernah ada di dunia ini. Dalam mimpi saya bisa mendapatkan semua cinta yang saya mau. Dalam mimpi saya bisa mempunyai sebuah Honda jazz yang selama ini saya idam-idamkan. Ya semuanya bisa saya dapatkan dalam mimpi.

Dalam mimpi saya tidak perlu tertunduk malu saat melihat hasil pekerjaan orang lain yang lebih baik dari saya. Dalam mimpi saya tidak perlu memutar otak untuk menemukan ide dalam mencapai kesuksesan saya. Dalam mimpi saya tidak perlu jadi orang lain untuk menarik perhatiannya. Ya, hanya dalam mimpi semua skenario gila saya dapat terwujud.

Kadang saya menjadi pengusaha sukses yang memiliki isi dunia. Semuanya bisa saya beli dengan uang saya. Rumah mewah, apartement besar, mobil banyak, gaun yang indah sampai harga diri orang, semua bisa saya beli dengan mudah. Saya hanya perlu memberi perintah dan,…. Voila!! Semua yang saya katakan sudah ada didepan mata saya.

Kadang saya bisa jadi lesbian yang memiliki kekasih wanita yang amat cantik bagai bidadari. Kami bebas memadu kasih dimanapun kami mau. Kami bisa berjalan berdua sambil bercerita kisah kasih yang sudah terajut manis. Kami bisa bercinta sampai kami puas. Kami bisa bercanda mesra penuh asa sesuka hati kami. Kami bebas. Kami lepas seperti burung lepas dari sangkarnya.

Kadang saya bisa menjadi wanita yang paling beruntung didunia karena mendapat cinta dari pria yang saya cintai. Tidak perduli dia sepuluh tahun lebih tua dari saya, seumuran saya atau bahkan lima tahun lebih muda dari saya. Saya tidak harus dibuat pusing memikirkan istri dari kekasih saya, kekasih dari kekasih saya ataupun kakak dari kekasih saya yang ternyata seumuran dengan saya. Semua terasa gampang seperti jalan tol yang bebas hambatan. Saya tidak harus disebut perempuan perusak rumah tangga orang. Saya tidak harus mendapat predikat sebagai selingkuhan, wanita kedua atau apapun namanya. Saya tidak harus dipermalukan karena punya kekasih yang lebih pantas menjadi adik saya berbonus pula tidak harus menerima kata-kata sinis dari kakaknya yang seumuran dengan saya.

Di dalam mimpi saya bisa memjadi produser, pemain, sekaligus sutradara dari kisah hidup saya. Semua imajinasi saya bisa terwujud. Semua keinginan terpendam saya bisa muncul ke permukaan. Semua harapan saya bisa tertumpah disini. Tanpa ada yang protes. Tanpa ada yang mencela. Tanpa ada yang menghina. Hanya ada saya dan imajinasi saya. Tidak ada kamu. Tidak ada dia. Tidak ada mereka. Hanya saya saja.

Tapi kini kokok ayam sudah membangunkan tidur lelap saya. Meleburkan imajinasi saya. Menutup harapan saya. Menghempaskan saya kembali kedunia saya. Yang kejam. Yang jahat.

Saya masih termangu. Duduk menghadap jendela kamar saya. Melihat pemandangan diluar yang terpampang jelas. Pemandangan yang sama dari hari ke hari. Yang selalu menimbulkan perasaan yang sama. Muak.

Di kehidupan nyata ini saya tidak bisa menjalankan skenario saya. Karena disini peran saya bukan produser. Bukan sutradara. Bukan pula pemain utama. Saya hanya figuran. Saya hanya numpang lewat. Tak ada yang istimewa.

Dari ujung mata saya, saya bisa melihat para pemeran protagonist. Pemeran utama yang selalu diingini oleh banyak orang. Peran yang selalu bertampang sok baik. Yang mempunyai topeng setebal dosa. Yang mempunyai lagak semanis gula. Ya semanis gula, tapi gula batu. Manisnya menyakitkan. Membuat orang yang melihatnya ingin muntah. Orang yang selau ingin dibela. Dianggap orang baik yang banyak berkorban untuk kebaikan orang banyak. Padahal yang dia lakukan hanya menjadi batu sandungan untuk orang lain. Kenapa ya orang-orang protagonist wanna be selalu bangga disebut korban? Padahal bukankah korban itu status yang memalukan? Mereka lemah. Mereka selau kalah karena tidak berani melawan. Mereka selalu berakting sebagai malaikat tetapi kebanyakan berhati yang lebih jahat daripada iblis. Sebenarnya apa yang mereka banggakan sangat abstrak. Semu dan tidak jelas. Peran yang harus dikasihani.

Selain protagonist, masih ada peran antagonis. Perannya disini sebagi penjahat. Padahal buat saya mereka hanya berusa jujur pada sekitarnya tentang apa yang mereka sukai dan apa yang yang mereka tidak suka.si antagonis, yang selalu berusaha jujur pada diri dan perasaannya sendiri sebelum jujur pada orang lain. Semua yang ada di otak dan hatinya selalu dieja wantahkan dalam perbuatannya. Tak peduli kalau harus dicela. Tak peduli kalau harus dihina. Bahkan juga tak peduli kalau harus dikerangkeng dalam penjara. Suatu peran yang sangat komplek dan exclusive karena hanya sedikit sekali orang yang mau melakoni peran ini dengan apa adanya. Kebanyakan dari orang menyalahartikan peran ini. Mereka menganggap kalau antagonis adalah orang-orang yang sangat dekat dengan perilaku kriminal. Penjahat. Sampah masyarakat.

Peran terakhir adalah pelawak. Mungkin pelawak adalah peran yang paling menyedihkan yang pernah ada di dalam panggung sandiwara dunia ini. Mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Mereka harus mengabaikan perasaannya sendiri. Mereka malah harus menghibur si korban. Membuatnya tertawa terbahak-bahak sampai lupa pada kesedihan semunya sendiri. Seorang pelawak dituntut untuk selalu melucu, walaupun dia sendiri sedang dalam masalah besar. Kesulitan besar. Mereka harus bertingkah seolah-olah dunia mereka penuh dengan bunga. Bahkan mereka tak jarang juga dipersalahkan ketika mereka gagal membuat peran lain tersenyum tanpa sedikitpun perduli pada hati dan perasaan mereka. Pelawak hanya dianggap sebelah mata dan tidak pernah dihargai sedikitpun keberadaannya.

Lalu termasuk peran apakah saya? Sudah pasti saya menolak keras untuk masuk pada peran pertama. Si protagonist. Saya tidak pernah mau menjadi korban apapun alasannya. Walaupun pada kenyataannya saya adalah korban tetapi saya tetap menolak keras untuk disebut sebagai korban. Walaupun saya sering kalah saya tetap tidak ingin menjadi si protagonist. Bukankah kalah dan korban itu berbeda. Korban adalah orang yang mudah menyerah dan selalu trauma setelah dia jatuh. Korban adalah orang yang tidak bisa bangkit ketika dia kalah. Korban adalah orang-orang yang selalu membayangkan kalau dia adalah seorang putri yang sedang menunggu pangeran berkuda putihnya datang untuk menjemputnya. Dan saya bukan korban. Saya hanya sering kalah dan jatuh. Tetapi toh saya masih bisa bangkit lagi meskipun harus tertatih-tatih. Buat saya orang yang kuat itu bukanlah orang yang selalu menang tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang sering kalah san jatuh tapi masih tetap tidak menyerah dan tetap bertahan untuk berdiri.

Dan sekarang disinilah saya. Duduk diatas ranjang. Menghadap jendela. Memandang imaji yang tersaji didepan mata saya sambil meresapi nyerinya kesendirian. Mata saya memandang langit tetapi sebenarnya saya tidak memandang langit. Mata saya sedang berjalan-jalan sendiri entah kemana. Saya diam. Saya menyesap kesepian ini. Suara-suara datang dan pergi menyapa telinga saya. Saya mendengar tetapi sebenarnya saya tidak mendengar apapun.

Mimpi-mimpi itu datang lagi. Silih berganti. Memusingkan kepala. Menyerang otak saya. Saya hanya bisa tertawa. Siapapun yang melihat saya pasti akan berpikir bahwa saya gila. Mereka benar. Saya gila. Saya gila karena saya menolak mendapat peran protagonist. Saya ingin menjadi antagonis. Tetapi saya juga sadar kalau saya belum pantas menjadi antagonis. Kadang saya masih munafik. Kadang saya masih menjadi nama baik saya. Kadang saya masih ingin dipuji. Saya masih belum pantas untuk menjadi antagonis. Mungkin saya hanya seorang pelawak. Peran yang selama ini selalu saya hina. Mungkin saya masih selalu berusaha membuat orang lain tertawa. Mungkin saya masih selalu ingin menyenangkan orang lain dan mengabaikan perasaan saya sendiri. Mungkin juga saya bukan termasuk dari ketiga peran itu. Saya hanya pemeran cadangan. Pemeran pembantu atau apapun itu nama lainnya.

Saya masih tertawa. Saya masih memandang langit. Tapi otak saya sudah kembali pada tempatnya dikepala saya. Tawa saya terhenti ketika saya lihat ada pesan singkat masuk ke handphone saya.

Darl mav saya tidak bisa datang.

Istri saya ulang tahun hari ini.

Saya lupa kasih tahu kamu.

Besok saya kabari lagi kapan kita bisa ketemu.

Miss ya much more.

From: nhe

12:53 31-Aug-08

Saya hanya tertegun membaca pesan itu. Kenapa mimpi saya tidak pernah menjadi nyata. Angan saya melayang jauh lagi. Menembus kamar kos ini. Menembus jalan-jalan yang padat ini. Menembus pagar rumah nhe. Menembus pintu rumah mewah itu. Menembus hati nhe. Angan saya hanya bisa menembus tanpa memberi jejak apapun padanya. Berlalu bagai angin sore saja. Karena saya hanya perempuan keduanya.

“On the night like this there so many things I wanna tell you. On the night like this there so many things I wanna show you. Cuz when you around I feel safe and warm. Cuz when you around I can fall in love everyday. And the cases like this there are thousand good reasons I want you to stay.’

Nada dering handphone itu menyadarkan saya dari lamunan panjang saya. Ketika saya buka ada satu pesan masuk.

Beb aq kngn bgt sm km.

Aq pngn ktm. Tp gag dblhin kluar ma kk.

Pngn nyium km ne

Muaaaacchhhh

Luv u much more

From: jhon

14:15 31-Aug-08

Saya nonaktifkan handphone saya. Saya tidak tahu harus tertawa atau menangis membaca pesan itu. Bahasanya khas anak remaja. Di satu sisi saya memang menyukainya tapi disisi lain saya tidak mencintainya. Tidak ada yang salah dengan dia kecuali dia lima tahun lebih muda. Dan kakak perempuannya adalah saingan saya di kantor.

Hidup memang begitu kompleks. Tidak ada yang bisa jadi sempurna dalam hidup ini.

Kebahagiaan itu hanya berbeda tipis dari kesedihan. Bukankah ketika kita begitu bahagia tak jarang kita akang meneteskan air mata? Lalu apa bedanya dengan air mata yang keluar ketika kita sedang dirundung kepahitan? Sama-sama berasal dari kedua mata kita. Sama-sama menetes melalui pipi kita. Buat saya kebahagiaan adalah saudara kembar kepahitan.

Kadang yang namanya kepahitan itu hanya seperti asap rokok yang numpang lewat pada hidung saya. Sekejap tetapi meninggalkan rasa yang tidak akan pernah dapat saya lupakan.

Saya hanya bisa terdiam disini. Memandang layar handphone saya. Mencoba tertawa. Dalam sehari ini saya sudah tertolak dua kali. Saya mencoba tertawa. Tawa saya sumbang. Saya tetap tertawa. Tawa saya tetap sumbang. Saya tetap tidak perduli. Saya harus tertawa.

Tawa saya masih menggema dalam kamar kecil ini. Terdengar sumbang dan aneh. Kadang saya tidak dapat membedakan lagi mana yang nyata, mana yang mimpi. Kenapa mimpi selalu lebih indah daripada kenyataan? Pernah saya tanyakan itu pada dosen saya. Tetapi jawaban yang saya dapat hanya sebuah tawa. Sejak itu saya percaya bahwa untuk mengekspresikan sesuatu kita harus tertawa. Bukan. Bukan menangis. Tangisan saya hanya untuk orang tua dan sahabat saya.

Saya tertawa sampai rahang mulut saya terasa kaku. Saya tertawa sampai saya tidak bisa menghentikan tawa saya. saya tertawa sampai ada orang yang menggedor pintu kamar saya.

Pintu menjeblak. Shinta masuk terengah-engah. Saya hanya bisa memandangnya lesu. Saya tahu. Saya bisa baca raut mukanya. Kabar yang dia bawa bukanlah kabar baik. Saya tahu shinta membawa kabar buruk. Entah kabar buruk apalagi yang akan dia berikan pada saya. tanpa sempat saya berkata-kata, dia sudah mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Apa yang ada dalam otaknya. Saya mencoba menangkap apa yang dia bilang.

“iya…benar….saya…….ga sengaja…. Lukman….Lia……….di mobil.”

Saya hanya tertawa. Apa yang aneh bila Lukman, kekasih saya semobil dengan sahabat saya. Lukman memang baik. Dia mau mengantar Lia pergi. Kekasih saya yang seumuran ini memang baik. Dia bisa membaur dengan teman-teman saya.

Tapi shinta menghentikan tawa saya. dia menggeleng kuat-kuat. Lalu dia mengulangi kata-katanya.

“Hei kamu ngertikan yang saya omongin. Lukman kekasih kamu itu sedang berciuman dengan Lia sahabat kamu. Di dalam mobil di basement!”

Saya hanya tertegun. Lalu menggeleng. Saya bilang pada shinta, mungkin saja mereka sedang bermain. Atau Lukman sedang memberikan napas buatan untuk sahabat saya yang baru saja tenggelam. Atau Lia sedang mengajari kekasih saya mencium saya. saya siap dengan seribu penjelasan yang masuk akal.

Shinta hanya menatap saya dengan pandangan seolah-olah saya alien. Lalu dia memeluk saya sambil membisikkan kata-kata yang menguatkan hati saya. hei, saya baik-baik saja. Untuk apa saya dikuatkan. Untuk apa saya dipeluk. Ketika saya melepaskan pelukan shinta dan memulai pembelaan saya untuk kekasih dan sahabat saya, shinta akhirnya meninggalkan saya sambil mengatakan betapa kasihannya saya.

Shinta meninggalkan kamar saya tanpa menutup pintu. Lama sesudah itu dari pintu yang terbuka saya bisa melihat kekasih saya memasuki kamar sahabat saya. mereka saling memeluk dengan erat. Seperti lintah. Saya muak melihatnya.

Saya tutup pintunya. Memandang diri saya dari kaca. Yang terlihat dari pantulan kaca hanya wajah lesu seorang perempuan yang berrambut panjang. Perempuan yang pernah menjadi pengusaha sukses. Perempuan yang pernah menjadi lesbian. Perempuan yang pernah mendapatkan apapun yang dia inginkan. Perempuan yang pernah menjadi sempurna. Walaupun semua itu hanya ada dalam mimpinya.

Saya harus bangkit dari keterpurukan saya sekarang. Saya harus bisa menjadi lebih baik. Saya harus bisa menjadi antagonis seperti keinginan saya. saya harus bisa menjadi perempuan yang pernah saya lakoni perannya di dalam mimpi saya. saya harus bisa menjadi lebih baik daripada isti sah nhe. Saya harus bisa menjadi pemenang dari kakak John. Saya harus bisa membuktikan kalau saya lebih pantas untuk Lukman daripada sahabat saya.

Saya mulai menyisir rambut saya. saya mulai memakaikan meke-up pada wajah saya. pelembab, bedak, eyeliner, eyeshadow dan lipstick mulai memenuhi wajah saya sesuai tugasnya masing-masing. Saya buka lemari saya. saya ambil sebuah gaun berwarna hitam dengan belahan dada yang rendah.

Saya bercermin lagi. Wajah lesu yang tadi tampak pada bayangan cermin itu digantikan dengan wajah anggun bermake-up tipis. Wajah yang pernah membuat Nhe berpaling dari istrinya. Wajah yang pernah membuat John bertengkar dengan kakaknya karena membela saya. wajah yang pernah membuat Lukman tergila-gila dan tidak menganggap sahabat saya ada saat dia sedang bersama saya. wajah yang pernah melakoni banyak peran dalam mimpinya. Wajah yang sempurna. Wajah saya.

Saya sudah siap. Saya sudah siap mengahadapi apa yang akan terjadi. Saya sudah siap mewujudkan apa yang selama ini hanya ada di dalam mimpi saya. saya sudah siap untuk mengambil Nhe dari istrinya. Saya sudah siap menjemput Jonh tanpa peduli pada kakaknya. Saya sudah siap menemui Lukman dan menyeretnya keluar dari kamar sahabat saya. saya sudah siap.

Langkah saya terhenti ketika mata saya melihat handphone saya yang tergeletak begitu saja di meja. Saya ambil dan saya aktifkan. Dengan segera saya lihat ada beberapa pesan masuk ke handphone saya. satu persatu saya buka pesan-pesan singkat itu.

Anak-anak lagi di starbucks.

Cepet nyusul!!

From: nabila

15:13 31-Aug-08

Darl. Gawat istriku tahu.

Kamu harus pergi dari hidup saya.

Saya sayang kamu.

Tapi kamu harus pergi.

Maafkan saya.

From: nhe

15:30 31-Aug-08

Kamu dimana?

From: lia

15:33 31-Aug-08

Say ak ada tugas keluar kota.

Ak baru bisa balik besok.

Kamu kemana aja? Kok hp ga aktif.

Nanti kalu smsku masuk kamu kasi ak kabar ya

Luv you.

From: Lukman

15:56 31-Aug-08

DASAR PELACUR!

TUKANG GANGGU RUMAH TANGGA ORANG!

JAUHI SUAMI GUE!

ATAU GUE BAKAL BIKIN LO MENYESAL SEUMUR HIDUP LO!

From: +6285866675838

16:09 31-Aug-08

HEH GILA LO YA!

ADE GW MASI KECIL!

KELAINAN LO YA!

TINGGALIN AD GW SBLM LO RUSAK DIA!

ADE GW PANTES DAPET YG LEBI BAIK DR LO!

From: +6285643665871

17:22 31-Aug-08

Beb kk qu sms km ya?

Mavin dia ya?

Km jngn dgrin dy.

Aq gag pduli mao brapa taun jarak umr qt.

Yang pntg aq syng bgt ma km.

Tp bwt smentara qt bekstrit dl aj y?

Luv you much more

From: john

17:45 31-Aug-08

Saya hanya bisa terdiam membaca pesan-pesan itu. Semangat saya yang tadi berkobar-kobar semakin lama semakin padam. Saya hanya bisa terdiam. Lama. Saya hanya ingin tertawa. Saya hanya ingin tidur. Saya hanya ingin bermimpi.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s