peri kecil saya

Standard

 

Saya menghisap dalam sebatang rokok yang baru saja saya sulut ini. Rasa mintnya pelan-pelan memasuki kerongkongan dan rongga hidung saya. Dalam diam saya mencoba menikmati rasa yang saya dapat dari hisapan pertama saya itu. Ada banyak rasa yang begitu asbtrak. Rasa tenang yang menghanyutkan. Rasa sepi yang berkepanjangan. Rasa sakit yang menoreh. Rasa perih yang menggigit. Campurannya disempurnakan dengan aroma mint yang kata orang bisa membuat mandul.

Pelan-pelan saya hembuskan asap yang sudah sangat saya akrabi rasanya. Uap putih tak berbentuk keluar dari lubang hidung saya. kadang saya berharap, masalah saya juga bisa menguar seperti asap rokok saya tadi.

Saya lelah. Saya lelah menjadi saya. saya lelah menjadi pecundang. Saya lelah berpura-pura kuat. saya lelah berkorban demi kebahagiaan orang lain. Saya lelah dengan semua yang terjadi dalam hidup saya.

Jendela kamar saya menampilkan pemandangan yang begitu menggoda. Membuat saya ingin menjadi bagian dari mereka. Membuat saya ingin segera berlari keluar dan bergabung dengan mereka. Hanya mereka yang bisa menenangkan hati saya. Mereka seperti peri-peri kecil yang dikirim dari surga. Peri-peri yang bisa menularkan tawanya yang hangat. Mendinginkan hati dan otak saya yang sudah seperti bara api. Mereka begitu suci. Peri-peri kecil yang polos

Lihat mereka. Berlarian tanpa beban. Sayapnya yang baru tumbuh merentang sempurna. Indah. Wajah-wajah tanpa dosa yang bersinar. Dilingkupi aura bahagia yang menyilaukan. Pernah saya berada diposisi mereka. Pernah saya mempunyai sayap kecil mereka. Pernah saya merasakan aura yang begitu memukau. Tetapi  saya sudah lupa kapan. Saya yang sekarang hanya seonggok daging dengan sayap patah yang berserakan. Memuakkan. Tanpa sinar harapan. Tanpa daya kekuatan.

Harusnya saya juga punya satu peri kecil seperti mereka. Mungkin pangeran yang tampan mungkin pula bidadari kecil yang cantik. Tapi saya begitu kejam. Saya melarang peri kecil saya untuk merasakan hangatnya sinar matahari. Saya melarang peri kecil saya untuk menyentuh sejuknya embun pagi. Saya melarang peri kecil menikmati indahnya bintang malam. Saya melarang peri kecil saya menghirup segarnya udara. Saya melarang peri kecil saya hadir.

Lihat apa yang sudah saya lakukan. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik bagi peri kecil saya. saya hanya ingin melindungi dia dari kerasnya dunia. Saya hanya berusaha menjaga nama baiknya. Saya hanya berusaha menyiapkan yang sempurna untuknya. Saya hanya ingin menyelamatkannya dari rasa malu.saya hanya ingin yang sempurna untuk dia. Peri kecil  saya yang tidak pernah sempat hadir.

* * *

 

Sejenak kenangan saya mengingat. Mengulang apa yang menjadi takdir hidup saya. menyisir setiap kejadian yang terekam menjadi kenangan.

Saya masih tujuhbelas tahun saat saya pertama mengenal Damar. Saya mengenalnya sebagai calon suami Anggun, kakak perempuan saya yang lemah jantung. Damar adalah pria yang paling dicintai Anggun. Damar adalah satu-satunya pria yang dimiliki oleh Anggun. Damar adalah pria terindah yang pernah dinikahi Anggun.

Semua orang tahu kalau Anggun beruntung bisa menikahi pria semapan Damar. Semua orang tahu bagaimana bahagianya kehidupan pernikahan mereka. Semua orang tahu bagaimana lucunya putri mereka berdua. Semua orang tahu betapa Anggun mencintai suaminya. Semua orang tahu bagaimana perhatiannya Damar pada istrinya. Yang mereka tidak tahu hanya bagaimana bencinya saya pada Damar.

Tidak ada yang salah dari Damar. Semuanya sempurna. Wajahnya begitu tampan. Pekerjaannya begitu mapan. Istrinya begitu cantik. Putrinya begitu lucu dan menggemaskan. Rahasianya tersimpan begitu rapat. Semuanya teramat sangat sempurna.

Rahasia besar yang melibatkan saya, adik iparnya. Saya tahu betul rahasianya. Rahasia yang sangat dijaga oleh seorang Damar. Rahasia yang menjadikan saya sebagai korbannya. Rahasia yang mengubah jalan hidup saya. Rahasia yang memaksa saya mengorbankan semua yang saya punya. Rahasia yang membuat saya pernah menjadi seorang lesbian.

Saya mengenal Dewi tepat saat saya berumur duapuluh tahun. Dewi memang seperti seorang dewi dalam arti harafiah. Hanya Dewi yang bisa mengajarkan saya memaafkan diri sendiri. Hanya Dewi yang bisa memperhatikan saya dengan perhatian yang luar biasa. Hanya Dewi yang bisa membuat saya menjadikan semua luka hati saya menjadi kekuatan. Hanya Dewi yang mengajari saya bisa memberi harga pada diri saya sendiri. Hanya Dewi yang menolong saya bangkit dari keterpurukan masa lalu saya. Hanya Dewi yang meyakinkan saya kalau perempuan bisa sama kuatnya dengan para lelaki. Hanya Dewi yang  bisa menyembuhkan ketidak percayaan saya pada cinta. Hanya Dewi yang bisa membuat saya mencintai seorang perempuan.

Kami selalu menghabiskan malam-malam terindah kami berdua. Tanpa pria. Tanpa kesakitan. Tanpa air mata. Tanpa luka hati. Tanpa rahasia. Hanya ada saya, Dewi dan cinta kami.

Awalnya memang tidak ada yang perduli dengan keberadaan kami. Mereka menganggap kami sama seperti perempuan kebanyakan. Bukankah kami memang sama dengan mereka. Kami sama-sama manusia. Makan nasi. Minum air. Pakai baju. Jalan pakai kaki. Makan pakai mulut. Mendengar lewat telinga. Bernafas dengan hidung dan melihat dengan mata. Tetapi sekarang mereka semua memandang kami seperti penyakit kusta yang harus dijauhi.

Semua tempat dipenjuru kota ini sepertinya adalah tempat terlarang bagi saya dan Dewi. Semua mata memandang hina keberadaan kami. Pandangan mereka menusuk. Sarat dengan penghakiman yang teramat sangat. Bahkan saya dan Dewi menjadi lebih terkenal dari seorang bintang film. Semua orang selalu membicarakan kami. Teman-teman kuliah. Dosen. Teman-teman satu kos. Tetangga. Pemilik warung makan. Abang somay keliling. Bahkan teman-teman pria kami sering menjadikan kami bahan olokan.

Kami tidak perduli. Kami bahkan tidak menganggap mereka ada. Bagi saya, dunia saya adalah Dewi. Begitu juga sebaliknya. Kami saling menguatkan. Kami saling mendukung. Kami saling membantu. Kami saling berbagi kasih. Kami saling membutuhkan. Kami saling melengkapi satu sama lain. Kisah kasih kami terjalin begitu kuat. Begitu indah. Saya seperti menemukan kebahagiaan saya yang hilang.

Tetapi seperti pepatah bilang, tidak ada pesta yang tidak usai. Begitu pula kisah kasih saya dan Dewi. Padahal kami tidak sedang berpesta. Semuanya berakhir saat orang tua saya mengetahui hubungan saya dan Dewi. Saya masih ingat malam itu kami merayakan ulang tahun kedua hubungan kami. Belum sempat kami memotong kue tart kecil kami, tiba-tiba orang tua saya datang dan membawa saya pergi dari Dewi. Hari itu adalah hari terakhir saya melihat Dewi.

Sejak orang tua saya tahu bahwa putri bungsunya adalah seorang lesbian, keluarga saya menjadi seperti neraka. Ayah dan ibu yang saling menyalahkan. Rumah kami tidak pernah sepi dari pertengkaran. Belum lagi pandangan mata Anggun yang tidak ada bedanya dengan pandangan teman-teman kuliah saya dulu. Pandangan yang menusuk dan menghakimi.

Puncak neraka itu datang enam bulan kemudian. Damar mengusulkan pernikahan saya dengan salah satu rekan bisnisnya. Ide itu sepertinya menjadi jalan keluar untuk orang tua saya. Saya tahu, saat itu saya adalah aib keluarga. Dan seorang pembawa aib tidak punya hal untuk memutuskan apapun. Walaupun itu menyangkut jalan hidupnya sekalipun.

Pernikahan itupun terwujud empat bulan kemudian. Tanpa saya pernah berpendapat, karena saya tahu apapun pendapat saya tidak akan mengubah keputusan yang sudah terambil. Saya jalani semua itu dalam diam. Saya hanya diam saat saya tahu orang yang menjadi suami saya sudah seumuran dengan ayah saya. saya hanya diam saat saya tahu saya hanya menjadi istri ketiganya.

Kadang saya tertawa pedih. Selama ini keluarga saya mengucilkan saya karena saya seorang lesbian. Sekarang katanya nya mereka menyelamatkan nama baik saya dengan pernikahan ini. Yang membuat saya geli, sejak kapan menjadi istri ketiga adalah hal yang patut dibanggakan?

Pernikahan yang saya jalani tak ubahnya dengan pemenjaraan saya pada sebuah rumah mungil diluar kota. Saya tidak boleh keluar rumah kecuali pulang kerumah orang tua saya. itupun harus bersama dengan suami saya. saya tinggal berdua dengan pembantu lama keluarga saya, mbok Nah. Selama ini beliaulah yang menemani saya dalah kesendirian saya. suami saya hanya datang seminggu sekali. Mbok Nah jugalah yang memasak, berbelanja dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Saya hanya seperti patung porselen pajangan didalam rumah.

 

* * *

Kadang bila saya tidak tahan dengan kesendirian saya yang mengigit ini, ingin saya menelepon ibu saya. ingin saya ungkapkan semua rahasia seorang Damar yang begitu sempurna dimata mereka. Damar yang mapan. Damar yang bisa memberikan mereka cucu yang begitu lucu. Damar yang bisa membahagiakan Anggun. Damar yang memperkosa saya. mengambil keperawanan saya. meluluhlantakankan harga diri saya. Menghancurkan makna cinta yang selama ini saya impikan. Memaksa saya menjadi seorang pembunuh.

Tujuhbelas tahun biasanya akan menjadi tonggak kedewasaan manusia. Kebanyakan orang akan mulai mengalami berbagai macam kebahagiaan pada umur tujuhbelas. Pada umur tujuhbelas mereka mulai mengenal arti cinta. Pada umur tujuhbelas mereka pertama kali mempunyai SIM dan KTP. Pada umur tujuh belas mereka mulai diizinkan pulang lebih larut.

Tetapi tidak bagi saya. Kado yang saya terima pada umur saya yang ketujuh belas adalah kehilangan segalanya yang saya miliki. Dan seperti belum cukup, bencana saya ditambah dengan hadirnya calon peri kecil dirahim saya.

Kehamilan saya seperti pelengkap takdir yang sudah saya jalani. Dulu saya memang bercita-cita memiliki beberapa peri-peri kecil yang lucu. Tetapi saya tidak menyangka satu dari beberapa peri yang saya impikan akan hadir secepat ini. Tidak juga berasal dari pemaksaan kehendak yang menghancurleburkan semua yang ada pada diri saya. pikiran. Hati. Dan harga diri saya.

Yang bisa saya lakukan hanya diam. Sepertinya diam sudah menjadi kebiasaan yang mendarahdaging dengan saya. dalam diam saya pelan-pelan bersiap menjadi pembunuh. Dalam diam saya mulai memakan nanas muda. Dalam diam saya mulai meminum pil-pil cina yang saya beli teman saya yang biasa mengugurkan darah dagingnya dengan sang kekasih. Dalam diam saya juga mendatangi seorang tukang pijat yang kata banyak orang bisa meluruhkan kandungan setelah obat cina yang saya minum tidak memberi reaksi apa-apa.

Peri kecil saya memang kuat. dia bisa bertahan dari nanas muda. Dia bisa bertahan dari obat cina. Tetapi sayang dia tidak bisa bertahan dari tangan pemijat wanita yang sudah berumur itu. Akhirnya dia keluar dari rahim saya diiringi dengan teriakan kesakitan saya yang teramat sangat.

Setelah keluar dari rumah reyot tukang pijit itu, saya hanya bisa menangis.Saya menangisi takdir saya yang begitu menyakitkan. Saya menangisi ketakutan saya merusak kebahagian Anggun kalau saya melaporkan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya yang sempurna kepada saya. Saya tahu tidak akan ada yang percaya bila saya menceritakan musibah yang saya alami. Damar terlalu sempurna untuk menjadi penjahat dan saya terlalu hina untuk menjadi korban. Saya menangisi kematian peri kecil yang yang tak pernah sempat hadir. Saya menangisi status baru saya sebagai pembunuh.

Ya. Itulah rahasia besar Damar yang melibatkan saya sebagai korbannya. Rahasia yang disembunyikannya dari semua orang. Saya pun kunci tunggal pemegang rahasianya. Dia sangat percaya pada saya. Dia tahu saya tidak akan melaporkan semua kelakuan bejadnya kepada siapapun. Dia tahu betapa saya menyayangi Anggun. Dia tahu kalau saya tidak akan membuat Anggun kehilangan satu-satunya pria yang dia miliki. Dia tahu saya akan mengorbankan diri saya secara utuh agar jantung Anggun tidak berhenti berdetak. Dia tahu semua itu. Dan saya tahu dia benar.

Jadi sekarang disinilah tempat saya. rumah mungil yang menjadi penjara saya. suami yang membuat saya merasa tidak lebih tinggi dari pelacur. Dan kerinduan yang teramat sangat pada Dewi. Kekasih hati saya. penguat saya menghadapi semua kekejaman takdir saya. dari kabar terakhir yang saya dengar, Dewi meninggal karena OD. Padahal yang saya tahu, selama bersama saya dia tidak pernah memakai obat-obatan terlarang. Tetapi saya tidak bisa menyalahkannya. Saya tahu mungkin dia menemukan kebahagiaanya setelah kehilangan saya pada obat-obatan itu.

 

* * *

Suara riuh rendah yang dikeluarkan oleh mulut-mulut mungil peri-peri kecil itu menyadarkan saya dari lamunan panjang saya. hanya melihat mereka bermainlah satu-satunya semangat hidup saya dari hari ke hari. Seharusnya peri kecil saya sedah seumuran mereka. Seharusnya peri kecil saya juga sedang bermain riang gembira seperti mereka. Bahkan harusnya saya tidak hanya diam seperti ini. Harusnya saya sedang meliput berita-berita terkini seperti cita-cita saya dulu. Harusnya saya sedang sibuk mengatur jadwal kencan saya dengan kekasih saya. entah dia pria ataupun wanita. Harusnya saya sedang bersenang-senang menjadi guru TK. Harusnya saya sedang bertualang mengelilingi Indonesia. Harusnya saya sedang menimang peri mungil yang berasal dari rahim saya. harusnya saya melaukankan banyak hal yang saya cita-citakan. Harusnya sekarangpun saya melakukan sesuatu.

Dan memang saya harus melakukan sesuatu. Saya hanya sendiri sekarang. Mbok Nah sedang belanja ke pasar. Suami saya sedang bersama istrinya yang lain atau bukan tidak mungkin dengan selingkuhannya yang lain.

Saya ingin mengepakkan lagi sayap patah saya. dan saya tidak bisa melakukan itu kalau saya hanya duduk diam seperti ini. Saya matikan rokok saya setelah hisapan terakhir. Saya ambil sebilah pisau dapur yang biasa digunakan untuk memotong daging oleh mbok Nah. Pelan tetapi dalam saya goreskan pisau itu sepanjang yang saya bisa lakukan.

Saya memejamkan mata saya sambil tersenyum. Saya merasakan darah mulai mengalir keluar dari bekas goresan pisau saya.

Saya merentangkan saya patah saya.

Saya mulai terbang.

Saya bebas sekarang.

 

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s