saya adalah seorang dewi

Standard

 

 

Televisi dikamar saya selalu hidup 24 jam nonstop. Tidak perduli pagi-siang sore-malam. Tidak perduli saya ada maupun saya pergi. Tidak perduli acaranya sinetron stripping maupun film box office. Televisi dikamar saya tidak pernah mati.

Saya selalu menonton acara yang disiarankan oleh televisi saya sebelum tidur. Kadang saya melihat acara musik. Kadang saya melihat film box office. Kadang saya melihat berita malam. Kadang saya hanya mendengar suaranya saja tanpa melihat acaranya.

Sering saya terpesona dengan tokoh yang muncul dilayar televisi saya. dia digambarkan pria yang sangat mengagumkan untuk ukuran sebagian besar orang. Pria yang tampan. Pria yang mapan. Pria yang mendekati sempurna.

Seperti contohnya, artis pria yang membawakan sebuah reality show untuk remaja. Dia terlihat begitu dewasa. Begitu berwibawa. Begitu charming. Saya yakin dia tidak hanya memukau mata saya, tetapi juga memukau ribuan mata lain. Mulai dari remaja yang baru mengenal cinta monyetnya, atau mahasiswa yang baru saja mengecap bangku kuliahnya, sampai ibu-ibu rumah tangga yang hobi mengikuti siaran gossip di televisi.

Atau lihat saja penyanyi solo pria yang baru beranjak dewasa itu. Dari kepolosan penampilannya, dia bisa membuat banyak remaja putri tergila-gila padanya. Atau bahkan benar-benar gila karena mengharapkannya. Suaranya memang indah tapi ada yang lebih indah lagi yang menonjol darinya. Raganya.

Kadang saya heran. Kenapa selera orang yang katanya berbeda-beda itu, ternyata hanya berkisar pada kemolekan raga. Tidak perduli pada hatinya. Tak peduli pada isi otaknya. Lihat saja. Film akan ditonton banyak orang bila didalam film itu terkandung pemeran yang rupawan. Pemeran yang mempunyai kemolekan ragawi. Bagi mereka yang disebut kemolekan ragawi adalah ketika seorang  wanita mampu memiliki badan setipis tripleks dirumah-rumah kumuh dibawah jembatan. Yang prianya tidak mau kalah. Mereka cepat-cepat menyetorkan tubuh mereka pada tempat-tempat fitness yang sekarang bertebaran bagai jamur di musim penghujan. Secara kasat mata memang pemeran itu mendapatkan nilai yang nyaris sempurna. Enak dipandang. Tidak membuat sakit mata. Tetapi bila kita cermati,  akting mereka bahkan nol besar.

Saya mungkin memang bukan pengkritik yang baik. Dan saya juga tidak mau mengkritik lebih banyak lagi. Karena saya sadar. Belum tentu saya bisa berakting, walau minimal seperti mereka yang saya ceritakan diatas.

Kemarin, Mila anak tetangga saya yang baru berumur lima tahun ngamuk. Dia tidak mau makan. Tidak mau mandi. Tidak mau sekolah. Orang tuanya panik. Bingung dengan keadaan anaknya. Setelah dibujuk dengan sebungkus roti yang dibeli dari minimarket didepan kompleks, Mila menceritakan keinginannya. Dari mulut kecilnya, terlontar kata kalu dia ingin main film. Katanya dia ingin seperti bintang film yang baru saja mengeluarkan film terbarunya, yang katanya bergenre horror.

Saya yang hanya menjadi penonton dari balik pintu pagar hanya bisa tertawa miris. Anak sekecil itu sudah memiliki keinginan yang luar bisa. Saya salut dengan keberaniannya itu. Saya yang sudah setua ini saja belum berani mengungkapkan apa yang jadi keinginan saya pada orang lain. Bagaimana Mila tidak berani, bintang film yang dia idolakan, yang bahkan ingin dia ikuti jejak karirnya, adalah seorang penghibur yang sangat kontroversial. Film yang baru saja dia bintangi, yang katanya bergenre horror, isinya tidak ada bedanya dengan stensilan yang difilmkan. Saya tidak heran kalu suatu saat nanti Mila ngamuk lagi. Dan ketika dia bisa dibujuk, keinginannya sekarang adalah menjadi pelacur. Saya hanya tertawa kecil saat membayangkan itu.

Mata saya masih menatap layar televisi dikamar saya. saya menikmati apa yang tersaji didepan mata saya. apa yang disunguhkan layar kepada saya. disana ada talk show. Disana ada pria. Disana ada pria berdasi. Disana ada pria berdasi yang begitu tampan. Disana ada pria berdasi yang begitu tampan dan berwibawa. Disana ada pria berdasi yang tampan dan berwibawa, mapan. Disana ada pria berdasi yang begitu tampan dan berwibawa, mapan dan beristrikan seorang model papan atas. Disana ada pria berdasi yang begitu tampan dan berwibawa, mapan dan beristrikan seorang model papan atas, yang semalam tidur dengan saya.

Bukan. Saya bukan model papan atas. Bukan. Saya bukan istrinya. Bukan. Saya juga bukan selingkuhannya. Ya. Ya saya memang bukan siapa-siapa buat dia.

Mata saya terpaku pada layar. Layar yang menampilkan semangat seorang politikus muda. Politikus yang sangat terkenal saat ini. Semua mengaguminya. Semua memujinya. Semua mengagungkannya. Semua menyukainya. Kecuali saya.

Saya tidak bohong. Saya tidak munafik. Saya tahu kebenarannya. Wajah yang sekarang sedang saya amati ini tak lebih dari sebuah topeng. Topeng yang menyembunyikan ketakutannya pada sang istri. Menyembunyikan kebenciannya pada sang mertua. Menyembunyikan hasrat membunuhnya pada lawannya. Menyembunyikan keliaran birahinya dari pacar gelapnya.

Sekali lagi saya katakana, saya tidak mengada-ada. Inilah faktanya. Fakta yang selalu disembunyikannya. Fakta yang selalu dipungkiri. Fakta yang selalu disangkalnya. Fakta yang hanya ditunjukannya saat bersama saya.

Didepan saya, dia lepas topeng indahnya. Di depan saya, dia selalu mengutuki kesuperioran sang istri. Didepan saya dia selau mencaci mertuanya atas intervensi mereka dalam kehidupan rumah tangganya. Di depan saya, dia selalu mengutarakan keinginan membunuh saingannya yang sok pintar, atau memang pintar, itu. Dan hanya didepan saya juga, dia berani mengapresiasikan khayalan terliarnya yang selalu disembunyikan dari istri maupun kekasih gelapnya. Ya. Disempunyikan untuk mengejar suatu nilai yang disebut orang banyak sebagai nilai kepantasan.

Talk show itu merambat menuju klimaksnya. Pria bertopeng indah itu semakin menunjukan kebolehannya mendustai hati nuraninya. Dia sudah semakin pandai dalam mengarang cerita. Cerita tentang rumah tangganya yang seindah surga. Bagaikan berada di taman firdaus karena istrinya, yang model terkenal itu, begitu pengertian. Begitu menghormatinya. Begitu menuruti keputusannya. Cerita tentang kebaikan hati sang mertua yang juga seorang menteri itu. Begitu baiknya karena telah mengajarkan dia kemandirian. Begitu baiknya karena tidak pernah ikut campur dalam masalah rumah tangganya. Cerita yang begitu membuai. Semakin lama ceritanya membuat saya ingin muntah. Dengan begitu berwibawanya dia mengatakan bahwa dia tidak pernah menganggap siapapun sebagai saingannya. Bahwa semua rekan seprofesinya, politikus, adalah saudara. Dan klimaksnya, sang istri yang begitu cantik rupawan itu datang dengan setangkai mawar merah, yang katanya sebagai bukti cinta. Tidak cukup hanya itu, sekarang pria itu berlagak seperti pemenang sebuah festival pengharagaan, dia mulai mengucapkan terimakasih yang teramat sangat untuk istrinya yang tercinta, orang tuanya, mertuanya yang sangat baik, bahkan pada saudara seprofesinya.Sekarang saya ingin tertawa. Tertawa keras-keras. Bahkan kalau perlu saya ingin tertawa sambil berguling-guling.

Harusnya mereka yang jadi bintang film. Tidak hanya model. Tidak hanya politikus. Lihat saja. Akting mereka begitu natural. Tanpa dibuat-buat. Nyata. Riil. Penuh penghayatan. Tanpa cela. Ini baru namanya film yang bermutu.

Film bermutu itu berakhir sudah. Tapi mata saya masih terpancang pada layar televisi. Saya hanya diam. Diam dan berpikir. Bukan. Bukan berpikir. Mungkin lebih tepatnya lagi mengingat. Saya mencoba merunut kisah hidup saya sendiri.

Tidak yang istimewa dari hidup saya yang bisa diceritakan. Saya tidak memiliki otak sepintar Einstein. Saya tidak memiliki keluarga sekaya Donald Trump. Saya tidak memiliki mata setajam elang. Saya tidak memiliki hidung semancung orang-orang Amerika. Saya tidak memiliki bibir sesexy Angelina Jolie. Saya tidak memiliki wajah secantik Dian Sastro. Saya tidak memiliki badan setipis tripleks. Saya tidak memiliki suami setampan David Beckam. Saya tidak memiliki masa lalu sekelam Drew Barrymore. Saya tidak memiliki kisah seindah Cinderella. Yang saya miliki hanya jalan hidup saya. masa lalu saya dan masa depan saya. hanya itu.

Lalu kisah hidup apa yang bisa saya ceritakan?

Saya memang tidak punya kisah yang menarik untuk diceritakan. Saya juga bukan pencerita yang baik. Tetapi saya ingin bercerita. Untuk diri saya sendiri. Untuk menikmati masa lalu saya. boleh juga untuk menandingi cerita yang tadi diciptakan oleh suami model terkenal tadi.

Saya mulai mengingat-ingat apa yang tersisa dari keluarga saya. yang terlintas hanya kesendirian. Saya mulai mengingat-ingat  seperti apa wajah orang tua saya. yang terlintas hanya kesendirian.

Saya memang terbiasa dengan kesendirian. Itu tidak berlebihan. Sejak kecil saya lebih dekat dengan pembantu dirumah saya dari pada dengan pemilik rumah. kata orang ayah saya seorang lurah. Lurah dengan segala kegiatan yang membuatnya jarang ada dirumah. Lurah yang sulit ditemui, walau oleh putrinya sendiri. sedangkan ibu saya, adalah ibu lurah. Ibu lurah yang sama sibuknya dengan ayah saya. Bapak lurah. Setiap hari ada saja kegiatan yang harus dilakukannya. Memimpin PKK. Memimpin bakti sosial. Memimpin arisan. Memimpin kerja bakti. Kadang saya ingin bertanya pada ibu, sebenarnya dia ibu lurah atau pembantu umum.

Saya memang berkelimpahan materi saat itu. Bagi saya, orang tua saya adalah uang. Saya senang karena uang. Saya bahagia karena uang. Saya bersedih karena uang. Yang bisa membuat saya tersenyum adalah uang. Yang bisa menenangkan hati saya adalah uang. Yang bisa membuat saya bingung adalah uang. Satu-satu nya benda yang bisa mengingatkan saya pada orang tua saya adalah uang.

Tidak. Saya tidak membenci orang tua saya. saya sangat menyayangi mereka. Hanya mereka yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta di ibukota. Hanya mereka yang mampu menjadikan saya mahasiswa di sebuah universitas di ibukota yang biaya satu semesternya setara dengan harga sapi dewasa di kota kami. Hanya mereka yang mampu memfasilitasi saya sama dengan anak gubernur yang satu kampus dengan saya. hanya mereka yang mampu membuat saya yang biasa saja menjadi berbeda dengan gadis-gadis dikota saya. hanya mereka yang bisa.

Memang hanya orang tua saya yang bisa. Hanya orang tua saya yang bisa membuat saya mendewakan uang. Hanya orang tua saya yang bisa membuat saya bahagia dengan segepok uang. Dan memang hanya orang tua saya saja yang bisa membuat saya melihat kematian yang begitu memilukan. Kematian orang tua saya. kematian pertama saya.

Saya ingat kepulangan saya waktu itu karena mendapat kabar kalau ayah saya sakit. Ketika saya sampai didepan rumah, yang saya lihat adalah neraka. Berpuluh-puluh orang dengan intensitas kemarahan yang sama mengelilingi rumah saya. menyeret ayah dan ibu saya, meneriaki ayah ibu saya. memukul. Meninju. Menendang. Menginjak. Membakar.

Saya hanya bisa terpana. Mulut saya tergembok rapat-rapat. Mata saya terpejam tak mau melihat semua itu. Tubuh saya melayang. Semua gelap. Semua hilang. Saya menikmati kematian saya yang pertama.

Sejak malam itu saya berjanji tidak akan menginjakkan kaki saya lagi ke kota kelahiran saya. kota tempat saya pertama menghirup udara. Kota  tempat saya belajar berjalan. Kota tempat saya menikmati kesendirian saya. kota yang dipenuhi oleh kenangan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Saya mulai kehidupan baru saya. tanpa orang tua. Tanpa uang yang saya dewakan. Saya harus menjual semua yang pernah saya punya, mobil. Perhiasan. Rumah. Bahkan harga diri saya. Yang bisa tetap saya miliki hanya jalan hidup saya. masa lalu saya. masa depan saya.

Hanya itu yang bisa saya ceritakan. Hanya itu yang bisa saya runut dari masa lalu saya. tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang menarik.

 

* * *

Saya bukan siapa-siapa. Saya adalah saya. saya yang hanya memiliki jalan hidup saya, masa lalu saya dan masa depan saya.

Saya sudah lupa bagaimana rasanya bahagia. Ini tidak berarti selama ini saya tidak bahagia. Saya hanya mencoba menikmati lelucon Sang Pencipta. Saya hanya mencoba ikut tertawa. Saya hanya ingin merasuk dalam takdir saya.

Saya tahu banyak orang yang tidak suka pada saya. saya tidak perduli. Saya hanya mencoba bertahan hidup. Toh saya juga tidak pernah merepotkan mereka semua. Bahkan saya adalah penyelamat bagi beberapa orang. Saya adalah dewi bagi beberapa orang.

Saya contohkan politikus tadi. Dia adalah contoh nyata dari orang-orang yang sudah saya tolong. Saya Bantu. Saya selamatkan.

Hanya dengan saya dia bisa menjadi dirinya sendiri. Hanya dengan saya dia tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu memakai topengnya. Tidak perlu menjaga nama baik. Tidak perlu memlih kata-kata yang pantas dia ucapkan. Tidak perlu memikirkan sebuah nilai kepantasan.

Saya yang ada saat dia kecewa. Saya yang ada saat dia tertolak. Saya yang ada saat dia terasing. Saya yang ada saat dia terbuang. Saya yang ada saat dia terjatuh. Saya yang ada. Bukan istrinya. Bukan mertuanya. Bukan orang tuanya. Bukan pacar gelapnya. Padahal saya buka istrinya. Saya bukan mertuanya. Saya bukan orang tuanya. Saya bukan pacar gelapnya. Saya bukan siapa-siapa. Kemana istrinya? Kemana mertuanya? Kemana pacar gelapnya? Yang ada hanya saya.

Selain dia, sudah cukup banyak orang yang saya bantu. Banyak orang dengan masalah yang berbeda-beda pula. Masalah yang membuat mereka harus bersandiwara didepan banyak orang. Bahkan didepan orang yang sangat dekat dengan mereka. Istri. Oranng tua. Pacar. Sahabat. Tidak ada yang bisa mengerti mereka selain saya.

saya kagum pada Sang Pencipta. Dia bisa menciptakan berjuta-juta orang dengan kekomplekannya sendiri-sendiri. Masalahnya sendiri-sendiri. Sifatnya sendiri-sendiri. Pikirannya sendiri-sendiri. Takdirnya sendiri-sendiri. Jalan hidupnya sendiri-sendiri. masa lalunya sendiri-sendiri. masa depannya sendiri-sendiri. bahkan anak kembar sekalipun tidak pernah punya kesamaan selain wajah.

Salah satu orang yang saya bantu adalah seorang anggota DPR-RI. Umurnya sudah tua. Lima puluh tahun. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang hanya bisa menuntut pada suaminya. Anaknya tiga. Yang pertama seumuran dengan saya. bahkan dulu satu kampus dengan saya. Bahkan dia juga pernah saya bantu.

Semua orang yang ada disekitarnya hanya bisa menjilat dia. Kalau didepan dia mereka bisa memuji-muji. Kalau didepan dia, mereka bisa bermulut manis. Penuh madu. Penuh gula. Penuh sirup. Tetapi saya tahu. Dia tahu. Dibelakangnya orang-orang itu akan menghinanya. Mencacinya. Merendahkannya. Menertawakannya.

Saya tahu. Dia tahu. Mereka juga tahu. Kami semua tahu sebenarnya yang mereka hormatinya hanya pangkatnya. Kedudukannya. Gajinya. Uangnya. Hartanya. Mobilnya. Tabungannya. Depositonya. Rumah mewahnya. Kekayaannya. Istrinya.

Saya tahu, sebelum meminta bantuan saya, dia sudah sering meminta bantuan banyak wanita. Tapi mereka sama. Mereka hanya bisa menjilat. Mereka hanya bisa brpura-pura. Saya tahu, bahkan dia juga tahu, dibelakangnya mereka menertawakannya. Menghinanya. Mengejeknya. Menjadikannya olok-olokan. Saya tahu, dan dia juga tahu yang mereka inginkan hanya uangnya. Hanya lembaran rupiah yang dia bawa.

Saya tahu. Dia tahu. Saya berbeda. Saya bisa membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Saya bisa membuat dia lepas dari ketakutannya. Saya bisa mengembalikan kepercayaan dirinya. padahal saya bukan istrinya. Saya bukan anak-anaknya. Saya bukan bawahannya. Saya bukan rekan kerjanya. Saya bukan siapa-siapa.

Saya tahu. Saya tahu bahwa hanya saya yang bisa menghargai dia sebagai manusia. Lepas dari jabatannya. Lepas dari uangnya. Saya hanya menganggap dia pria. Pria lemah yang butuh bantuan saya. pria lemah, sama seperti puluhan pria lainnya. Sama seperti anak pertamanya. Sama seperti politikus itu. Sama seperti dokter itu. Sama seperti sebagian orang yang pernah saya bantu.

 

* * *

Jari tangan dan jari kaki saya sudah tidak cukup lagi untuk menghitung berapa banyak orang yang sudah saya bantu. mungkin saya butuh bantuan jari tangan dan jari kaki lebih dari tiga orang untuk membantu saya menghitung. Tetapi saya juga tidak pernah punya keinginan untuk menghitung. Bahkan kebanyakan saya sudah lupa identitas orang-orang yang sudah saya bantu.

Saya memang baik. Saya selalu membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan saya. saya selalu membagi apa yang bisa saya bagi. Waktu saya. pikiran saya. hati saya. tubuh saya. hanya ada tiga hal yang tidak bisa saya bagi pada siapapun. Jalan hidup saya. masa lalu saya. masa depan saya. tiga hal yang mutlak milik saya sendiri.

Satu-satunya hal yang bisa membuat saya tersenyum adalah ketika saya tahu, saya bisa menjadi harapan yang baru bagi orang yang saya bantu. saya selalu merasa gembira kalau saya bisa melakukan apa yang tidak bisa orang lain lakukan. Saya merasa sempurna kalau saya bisa membuat orang menjadi dirinya sendiri didepan saya. tanpa topeng. Tanpa sandiwara. Saya merasa lega kalau saya bisa mengembalikan kepercaya dirian orang. Tidak peduli apa jabatannya. Tidak peduli betapa kayanya. Betapa kecilnya kelaminnya.

Saya merasa terhormat bisa melakukan itu semua. Padahal saya bukan istrinya. Saya bukan orang tuanya. Saya bukan mertuanya. Saya bukan pacar gelapnya. Saya bukan anaknya. Saya bukan kekasihnya. Saya bukan bawahannya. Saya bukan saingannya. Saya bukan koleganya. Saya bukan kerabatnya. Saya bukan sahabatnya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seorang pelacur.

 

Advertisements

2 responses »

  1. hmmm… tulisan kamu feelnya udah dapet, cukup stronya dengan ke-aku-an (POV pertama) yang kamu pakai. tapi… jujur nih ya, cara kamu bercerita agak monoton. berulang kali kamu ngulang kata yang sama, terutama ‘saya’. seharusnya bisa diperkaya lagi diksinya 🙂

    Aditia

    • makasih masukannya mas 🙂
      sebenernya pengulangan kata yg aku pake itu sengaja sih
      sedikit banyak ak kebawa sama djenar maesa ayu soalnya,
      tapi kayaknya malah jadi agak membosankan ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s