tattoo

Standard

in my childhood, orang tua saya mengajarkan indirectly kalau tattoo itu means preman.

at that time, saya percaya.

alasannya, saya selalu melihat tattoo di tangan preman,

saya melihat tattoo di kaki gali

saya melihat tattoo di punggung copet

saya melihat tattoo di dada pengamen

dan buat saya mereka semua jahat.

jadi waktu itu saya menyimpulkan kalau tattoo itu lambang kejahatan.

saya sebagai anak gadis baik-baik waktu itu, sangat menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan tattoo.

then, first time saya mempunyai tattoo (temporary) saat saya berada di kelas 2 SMA.

waktu itu saya sedang berlibur ke bali.

disana tattoo di pantai adalah hal wajib untuk menjadi bukti saya pernah berada di bali.

pemikiran bodoh memang.

saya masih ingat menggambar tribal di pergelangan kaki kiri.

bagus.

sejak itu saya mulai menyukai tattoo

semua paradigma tentang tattoo yang dulu saya percayai mulai meluntur.

somehow saya ingin mempunyai the real tattoo, but i am not brave enough yet.

sejak itu, setiap saya menemukan kesempatan untuk membuat tattoo temporary,

dikampus saat pesta budaya

di maliboro saat djalanjalan

di studio tattoo

dari tattoo rosario

butterfly

sampai quote.

day by day yang saya lalui semakin berat

berat oleh masalah

masalah yang pertama kali saya alami

hingga saya masih bertahan sampai saat ini

walau terluka

walau berdarah

walau terseok

toh saya masi ada dan bertahan.

kemudian saya menemukan qoute itu

you never know how strong you are, until being strong is the only choice you have.

it means a lot

it became my faith

inspiration.

that why finally i decided to make the real one on the left side.

buat saya, tattoo bukan sekedar fashion, trends or soon

tattoo menjadi sebuah tanda, bahwa saya pernah sanggup melewati salah satu fase dalam hidup saya

yang terburuk

yang tersakit

yang terberat

yang tersusah

walau ada air mata yang mengalir

walau ada kesakitan yang menguar

walau ada teriakan yang melengking

saya hanya ingin mengejawantahkan sakit didalam hati saya

menjadi sakit nyata yang tertulis selama nya di tubuh saya,

sehingga saya punya alasan untuk menangis, menghiba dan berteriak.

tattoo ini lah yang mengingatkan saya kalau saya pernah melewati jalan yang tidak dilewati oleh kebanyan orang.

tattoo membuat saya istimewa karena berani sakit dan menjadi beda dari kebanyakan orang.

for me, tattoo is not only art, it is symbol of my strength when someday i trapped in the problem.

i am superwoman for me myself

Advertisements

10 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s