Sang Penari

Standard

yuhuuuu!

akhirnya film kesukaan gue sukses menyabet gelar film terbaik 2011 di ajang FFI beberapa waktu yang lalu. well, sebenarnya udah lama gue pengen mereview tentang film keren yang membanggakan perfilman Indonesia ini.

for your info, gue pertama kali membaca buku Ronggeng Dukuh Paruk yang menginspirasi film Sang Penari, pas jaman gue SMP atau sekitar 10 tahun yang lalu. perlu waktu yang nggak sebentar buat gue membaca trilogi yang cukup tebal ini. honestly, there are many part of the book that i don’t get the idea of the author, Ahmand Tohari in his great book. wajar sih, karena content bukunya sendiri lebih diperuntukan oleh orang ‘gede’ hihihi

and the story goes, gue juga udah lupa sama cerita hidup Srintil sampai pas kuliah gue nyewa-nyewa buku di persewaan gitu, and nemu (sekali lagi) Ronggeng Dukuh Paruk. so, once again gue membaca inspiring book ini dan (still) bingung dengan beberapa part yang diceritakan oleh Ahmad Tohari. sampai akhirnya gue nonton Sang Penari. well, this is the story.

Sang Penari yang diambil dari Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan kisah hidup seorang wanita bernama Srintil yang tinggal di Dukuh Paruk, sebuah dukuh kecil yang terpencil di Jawa Tengah (more Banyumasan) nah, ada sebuah tradisi yang mengakar di sana kalau Ronggeng adalah sebuah kebanggan karena inang (leluhur) yang mendiami tubuh sang Ronggeng merupakan pilihan dari Eyang Secamenggala yang merupakan pendiri dukuh ini.

dan, sejak kecil Srintil selalu suka melihat pertunjukan ronggeng dan meniru gerakan sang ronggeng. sampai ada sebuah tragedi yang menewaskan satu-satunya Ronggeng di dukuh karena kesalahan orang tua Srintil. sejak itu semua berubah. Srintil yang punya sahabat sejak kecil bernama Rasus. pada Rasus lah Srintil mencurahkan semua unek-uneknya mengenai obsesinya menjadi seorang Ronggeng, disisi lain Rasus sendiri juga diam-diam mencintai Srintil dan bercita-cita membangun rumah tangga dengan bocah cantik ini.

jut info, seorang ronggeng dituntut untuk menjadi sempurna nggak hanya pada dunia menari tetapi juga lelaki. just like geisha, ronggeng juga punya pesona yang sulit ditolak bahkan dianggap kekuatan magis yang diberikan oleh leluhur.  contohnya, seorang istri yang belom diberi keturunan percaya bahwa dia akan hamil setelah suaminya ditiduri oleh seorang ronggeng. absurd! but that the reality at that time.

wajar kalau akhirnya Rasus memilih pergi dari srintil ketika sang penari semakin melambung namanya. everything goes through until PKI became one of the great party in Indonesia. Rasus yang saat itu sudah menjadi seorang tentara harus dilanda kebimbangan antara menyelamatkan dusun dan Srintil-nya atau melaksanakan tugas negara.

nggak hanya itu saja, pada film ini diperlihatkan bagaimana sejarah kelam bangsa yang selama ini disembunyikan dan direkayasa oleh beberapa pihak. so, dramatic and funny as we can laugh when we are crying.

buat gue sendiri film ini memberikan berbagai macam penjelasan atas kebingungan gue ketika membaca buku Ronggeng Dukuh Paruk. mulai dari pertanyaan simple seperti dengan siapa Srinyil akhirnya ‘bukak klambu’ , bagaimana rasus bisa menjadi tentara dan mengapa Srintil begitu terobsesi menjadi seorang ronggeng. sampai pada pertanyaan yang mendasar seperti apa tujuan si lukman sardi (gue lupa siapa namanya di film) mendekati Srintil dan dukuh Paruk, apa yang sudah di lakukan rasus untuk srintil sampai pada alasan pembumihangusan dukuh Paruk yang sadis. buat gue film ini menerangkan semua maksud buku walaupun ada beberapa perubahan disebagian cerita yang bertujuan mempermudah penonton dalam mengerti isi film.

overall, there are a great combination between great director (Isya Isfansyah), great DOP ( yadi sugandhi), great crew, great story (Ahmad Tohari), great music (Titi nd aksan Stjuman) and great talent (Prisia Nasution, Oka Antara, Lukman Sardi and many more)! hasilnya? sebuah film yang mengangkat sejarah, kebudayaan, roman dan keindahan alam dalam satu judul yang sukses membuat gue terkagum-kagum, ketawa, marah dan nangis bareng satu studio. what a great movie! dan lo harus rasain sendiri apa yang gue rasain saat nonton film ini 🙂

the book by ahmad tohari

the trilogy's book cover

Sang Penari's cover

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s