Cerita Intan

Standard

Kaki-kaki mungil Intan berjalan riang melewati deretan rumah tua yang akan menjadi pemandangannya menuju rumah nenekn yang sudah empat tahun ini dia tinggali. Empat tahun pula sejak kematian ibu di tangan keras bapak yang rajin memberikan pukulan, tamparan bahkan tak jarang juga tendangan di tubuh ringkih ibu sejak Intan masih kecil. Ah, kenangan empat tahun yang lalu masih sering menyinggahi mimpi-mimpi Intan sampai sekarang. malam itu saat bapak pulang dengan bau mulut yang menyengat dan badan yang sempoyongan, yang kata orang mereka namai mabuk, memang sudah tak asing lagi sejak Intan masih balita. Namun malam itu pukulan bapak lebih banyak dari biasanya, tamparan bapak lebih keras dari biasanya, tendangan bapak juga lebih sering dari biasanya dan jeritan ibu lebih keras dari biasanya. Intan hanya bisa mengintip dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat. Sambil menangis tanpa suara.

Dan ternyata malam itu, empat tahun yang lalu adalah malam terakhir bapak memukuli ibu, menampari ibu dan menendangi ibu. Sejak malam itu ibu terus diam. sejak malam itu ibu terus diam dalam lara yang mencekam. Sejak malam itu ibu terus diam dalam lara yang mencekam dan meninggalkan Intan dalam keheningan malam.

Bapak minggat. Meninggalkan Intan yang baru enambelas tahun bersama jasad ibu yang terdiam dalam kelu. Bapak minggat. Meninggalkan luka yang teramat dalam dalam hidup Intan. Bapak minggat.

Sejak itu Intan sangat membenci laki-laki, baginya laki-laki hanya makhluk tidak berhati yang harus dijauhi. Sejak itu Intan memilih tinggal dirumah neneknya yang hanya tinggal dengan seorang pembantu tua bernama mbok Jum. Sejak itu Intan selalu memilih kekasih perempuan untuk menemani hari-harinya.

*********

Siang ini kaki-kaki mungil Intan berjalan riang melewati deretan rumah tua yang akan menjadi pemandangannya menuju rumah nenek yang sudah tiga tahun ini dia tinggali. Hari ini, Intan berulang tahun yang keduapuluh, hari ini tulisan Intan dimuat dalam tajuk sastra sebuah Koran harian, hari ini Intan bahagia.

Semakin dekat rumah nenek yang teduh dan rimbun. Dari kejauhan dilihatnya nenek sedang duduk di teras dengan seseorang yang sudah dia kenal. Seseorang yang sangat dia benci. Seseorang yang selalu mengganggu mimpi-mimpinya dimalam hari. Seseorang yang sudah merenggut ibunya empat tahun yang lalu. Seseorang yang tidak pernah dia akui sebagai ayahnya.

Langkah-langkah riang Intan mulai digantikan dengan tapak-tapak ragu yang bercampur dengan kemarahan yang sudah mengendap selama empat tahun ini. Laki-laki itulah yang membuat dia sendirian menjalani setahun sejak kematian ibunya. laki-laki itulah yang membuat dia terjebak dalam ketakutan dan kebencian yang teramat sangat pada lawan jenisnya. Laki-laki itulah yang membuat dia lebih memilih berkencan dan mempunyai pasangan perempuan. Laki-laki itulah yang menghancurnya hidupnya, masa depannya dan harapannya. Sekarang untuk apa laki-laki itu ada didepan rumah neneknya yang sudah memberikan ketenangan dan keamanan selama empat tahun ini?

Semakin dekat kaki Intan dengan rumah tua nenek yang teduh dan rimbun, semakin sesak dada Intan menahan semua perasaan yang bercampur aduk. Campur aduk antara marah, benci, takut dan kesal. Didengarnya nenek memanggil namanya, “Intan, sini sayang.” Dengan perasaan yang masih tidak keruan Intan memasuki teras.

“Intan, ini bapak nak…”

“……”

“Intan maafkan bapak nak.”

“……..”

“Intan jawab nak …”

Namun Intan hanya terdiam, terpaku dan membeku pada sebuah ingatan yang menyakitkan. Ingatan yang merubah jalan hidupnya. Ingatan yang merenggut ibunya. Ingatan yang tidak ingin dia ingat. Dalam diam Intan masuk kedalam rumahnya tanpa menoleh sedikitpun pada laki-laki yang masih memanggil namanya berkali-kali dari teras.

Beribu pertanyaan berjejalan diotaknya, untuk apa laki-laki itu datang lagi didalam hidupnya? Kenapa laki-laki itu masih hidup? Mengapa nenek memperbolehkan laki-laki itu menginjakkan kaki di rumahnya? Laki-laki itu bukan bapaknya, dia penjahat.

Sambil masih menahan tangis, samar-samar Intan mendengar pembicaraan neneknya dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai bapak Intan dari sela-sela pintu dan jendela yang terbuka dari ruang tamu.

“sudahlah, pulang saja sana. Intan belum mau menemuimu.” Suara nenek terdengar menasehati.

“tapi saya kangen anak saya buk.”

“tidak sekarang. Dia masih belum bisa memaafkanmu.”

“tapi saya sudah berubah buk, saya sudah berubah.”

Cih! Mendengar kata “berubah” dari laki-laki itu membuat Intan bergidik, mana mungkin iblis yang selalu menyiksa ibunya yang cantik dapat berubah. Kemana saja dia selama empat tahun ini, kenapa baru hari ini dia datang dengan membawa-bawa kata kangen. “tai kucing!’ maki Intan tanpa sadar.

Diluar sana, didengarnya laki-laki itu masih mengajak bicara nenek, sambil memohon-mohon untuk diizinkan menginap di rumah. Hati Intan semakin sesak, luka lama yang selama ini sudah mongering tiba-tiba terbuka lagi. Perih dan berdarah. Pelan-pelan luka yang menganga ini membentuk menjadi segumpal dendam yang membara. Dendam menuntun Intan untuk mengambil sebilah pisau. Dendam yang menuntun Intan untuk mengambil sebilah pisau tajam dari dapur. Dendam yang menuntun Intan mengambil sebilah pisau tajam dari dapur yang siap dihunuskan tepat di dada. Dendam yang menuntun Intan mengambil sebilah pisau tajam dari dapur yang siap dihunuskan tepat di dada laki-laki yang mengaku dirinya sebagai bapak.

Salatiga, 17.19, 2012

“ini dari ibu!” teriak Intan sambil berlari dari dalam ruang tamu dan menghunuskan pisau daging yang tajam itu tepat di dada bapaknya.

Darah mengalir. Intan tertawa bahagia. Nenek menjerit kaget. Bapak meregang nyawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s