Seandainya Bisa

Standard

Seandainya bisa, ingin sekali tangan mungil Intan membalas semua tamparan kuat dari tangan kekar bapak diatas pipinya yang sekarang terasa panas ini. Bukan untuk membalaskan rasa sakit yang dia rasakan sekarang. Bukan karena tidak menghormati bapaknya. Bukan karena ingin melawan otoritas bapaknya. Namun untuk memberikan satu pelajaran bahwa sebuah tamparan tetap saja menjadi sebuah tamparan yang tidak hanya menampar pipi kecilnya saja tetapi juga menampar hatinya, menampar otaknya, menampar harga dirinya. Sebagai anak. Sebagai perempuan.
Bukan sekali ini saja bapak menampar pipinya. Tamparan itu sudah akrab dipipinya sejak Intan berusia 12 tahun. Sejak bapak dipecat dari kantornya karena ketahuan selingkuh dengan istri atasannya. Sejak ibu meninggalkan rumah untuk mencari rupiah di seberang benua.
Sebenarnya bukan hanya tamparan, tetapi juga tendangan diperut dan tempelengan di kepala sering sekali diberikan bapak kepada Intan. Apalagi kalau bapak baru pulang berjudi dengan mulut yang masih menguarkan bau alcohol yang menyengat. Tidak peduli siang, tidak peduli malam, tidak peduli waktu.

Beberapa orang yang melihat Intan ditampar, biasanya akan meneriaki bapak untuk berhenti menampar Intan. Namun sebagian juga tak jarang yang pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak melihat. Pura-pura tidak ada disana. Sebagian yang berteriak akan menunda tamparan bapak, tendangan bapak dan tempelengan bapak untuk sementara waktu. Sebagian yang pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak ada disana hanya akan menjadi saksi betapa keras tamparan bapak, tendangan bapak dan tempelengan bapak. Namun mereka semua sama, tidak ada yang mampu menghentikan tamparan bapak, tendangan bapak dan tempelengan bapak.

Banyak sekali alasan yang digunakan oleh bapak saat memberikan tamparan, tendangan dan tempelengan. Mulai dari nilai sekolah Intan yang katanya jelek dan memalukan. Kelakuan intan yang katanya sembarangan dan tidak tahu aturan. Melihat rumah yang jarang dibersihkan. Tidak menemukan masakan untuk dimakan. Sampai alasan dtidak masuk akal, seperti kalah judi semalaman. Tidak mandi seharian. Tidak dapat pekerjaan.
Seandainya bisa ingin sekali Intan menggugat. Intan tidak berhak mendapat setiap tamparan, tendangan dan tempelengan yang begitu menyakitkan. Hanya bapak yang bilang nilai sekolahnya jelek dan memalukan. Hanya karena Intan dapat 8 sedangkan anak mantan atasannya dapat 8,5. Hanya bapak yang bilang kalau kelakuan Intan sembarangan dan tidak tahu aturan. Hanya karena Intan memukul semua pria yang menghina dirinya. Hanya bapak yang bilang rumah jarang dibersihkan. Karena bapak muntah di ruang makan setelah mabuk semalaman. Hanya bapak yang bilang tidak menemukan masakan untuk dimakan. Hanya karena Intan hanya memasak sayur asam.

Untuk alasan yang lainnya, ingin rasanya Intan berteriak didepan muka bapak. Bukan salahnya kalau bapak kalah judi semalaman. Bukan salahnya kalau bapak tidak dapat untung, malah harus pulang memalukan. Bukan salahnya kalau bapak tidak mandi seharian. Siapa suruh tidak bayar air lima bulan. Bukan salahnya kalau bapak tidak dapat kerjaan. Siapa suruh jadi orang sebodoh itu. Ngetik di laptop tidak bisa. Browsing di internet tidak tahu. Jadi buruh kasar tidak mau. Makanlah itu gengsi!

Seandainya bisa ingin rasanya Intan melaporkan bapak ke polisi. Namun dia tahu hal itu hanya akan menambah masalah saja. Dia belum punya cukup uang untuk membayar polisi-polisi sok gagah yang selama ini sering lewat depan rumahnya. Pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak melihat. Pura-pura tidak ada disana. Buat apa Intan minta tolong pada orang-orang bermental tempe seperti mereka. Yang ada dia malah akan semakin ditindas.

Seandainya bisa ingin rasanya Intan memberitahu ibu tentang kelakuan bapak yang mengancam. Namun dia tahu hal itu hanya akan menambah masalah saja. Kasian kalau ibu banyak pikiran. Pikiran tentang suami yang tidak tahu diri. Suami yang tidak tahu malu. Suami yang seharusnya mati saja.

Seandainya bisa ingin rasanya Intan membagikan masalah dengan bapaknya ini dengan kakek nenek dan saudara-saudaranya yang lain. Namun Intan tahu ini hanya akan menambah masalah saja. Bapak belajar menampar, menendang dan menempeleng dari ayahnya. Dan ibunya pun sudah pernah bilang pada Intan kalau dia masih beruntung bapak hanya menamparnya. Bapak hanya menendangnya. Bapak hanya menempelengnya. Tidak memperkosa Intan. Tidak menjual Intan.

Keluarga yang sakit jiwa! Teriak Intan kala itu. Mana ada beruntung saat ditampar, ditendang dan ditempeleng? Mana ada beruntung saat tidak diperkosa oleh ayah kandungnya? Mana ada beruntung saat tidak dijual oleh ayah kandungnya? Hey, dia manusia. Bukan property atau harta benda yang tidak bernyawa. Ingin rasanya Intan menangis saking malunya lahir pada keluarga yang sebodoh ini. Tidak punya otak!

Seandainya bisa memilih keluarga, pasti dia memilih tidak usah ada. Mungkin lebih baik dia dulu digugurkan saja. Namun apa daya Intan tidak punya kuasa apapun atas hidupnya. Terlalu banyak aturan yang membela bapaknya. Baik aturan tertulis maupun aturan tidak tertulis. Intan masih ingat dulu ibu bilang kalau mereka harus “njunjung duwur, mendem jero” semua kelakuan bapaknya. Bapaknya yang suka menampar, menendang dan menempeleng. Bapaknya yang hanya bisa bermain judi dan mabuk-mabukan setelah dipecat dari kepolisian, karena ketahuan selingkuh dengan istri atasannya. Bapak yang tidak lebih dari preman pasar saat dirumah
Kalau Intan menjadi ibunya, dia tidak akan menangisi bapaknya setiap malam seperti ibu. Intan tidak akan mengalah pada tamparan, tendangan dan tempelengan bapak seperti ibu. Intan tidak akan diam saja mengetahui perselingkuhan bapak seperti ibu yang hanya takut diceraikan. Intan tidak akan bertahan dengan segala tekanan dari orang tua bapak yang menyalahkan ibu karena gagal memuaskan suami seperti ibu. Tapi, Intan bukan ibunya yang akan lari dari kenyataan setelah gagal menyimpan dalam semua luka yang menganga. Intan tidak mau mengikuti jejak ibunya yang penurut itu.

Seandainya bisa mengulang waktu ingin rasanya Intan mengulang malam itu. Saat bapak baru pulang dari berjudi dengan mulut yang berbau alcohol yang sangat menyengat. Saat bapak bilang temannya mau datang. Saat bapak bilang temannya mau datang untuk membawanya pergi. Saat bapak bilang temannya mau datang saat bapak bilang temannya mau datang untuk membawanya pergi semalam karena bapak kalah judi. Taruhannya adalah keperawanannya. Intan ingin sekali mengulang malam itu agar dia bisa mengulang berbagai makiannya pada bapak yang selama ini dipendam. Intan ingin sekali mengulang malam itu agar dia bisa mengulang berulang-ulang tusukan pisau dapur diperut bapak sebelum temannya datang.

 

-salatiga 09.08 2012-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s