Hari Ini Bapak Tidak Pulang

Standard

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini sudah seminggu bapak tidak pulang. Rumah kami yang biasanya penuh dengan tawa mulai beranjak sunyi. Ibu sibuk menangisi bapak di dalam kamar. Saya sibuk melihat ibu menangisi bapak di dalam kamar.

Sebenarnya bukan seminggu ini saja bapak tidak pulang. Dalam sebulan, hanya dua minggu bapak pulang ke rumah kami. Seharusnya ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini, toh hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Namun, sayangnya ibu bukan wanita berhati tegar seperti saya. Setiap bapak tidak pulang, maka ibu akan meratapi kepergian bapak dengan tangis dan sedu sedan tidak berkesudahan di dalam kamar. Sepanjang hari. Sampai bapak pulang.

Kadang saya kesal dengan bapak yang jarang pulang. Kadang saya ingin memaki bapak karena jarang pulang. Kadang saya menggambari foto bapak pada saat bapak jarang pulang. Kadang juga saya merindukan bapak saat bapak jarang pulang. Tetapi saya tidak pernah menangisi bapak sepanjang hari seperti ibu yang menangisi bapak sepanjang hari saat bapak jarang pulang.

Tak jarang saya juga kesal dengan ibu. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari sehingga membuat saya keparan karenan ibu lupa memasak. Sehingga membuat saya kesepian karena tidak ada teman bercerita sepulang sekolah. Sehingga membuat saya keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena tidak ada ibu yang membantu saya jika kesulitan menghitung kuadrat.

Namun, saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan dimana saya harus memasak mie instant atau menggoreng telur dadar sendirian saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya sudah terbiasa bermain sendiri dengan boneka Barbie untuk meceritakan pengalaman saya memukul hidung seorang teman sekelas saya yang memanggil saya setan betina, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya juga sudah terbiasa mengerjakan sendiri PR matematika dari sekolah, mengarang indah setiap hitungan kuadrat yang tidak dapat saya selesaikan, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan.

**********

Biasanya, kalau bapak pulang saya akan berdiri menyambut di teras depan. Ibu akan berdandan dan memakai baju berenda dari kain katun. Biasanya, kalau bapak pulang saya akan mendapat sebungkus martabak telur yang gurih untuk lauk makan malam. Ibu akan tersenyum riang menyambut bapak dalam pelukan. Hangat dan lama.

Saya sangat senang kalau bapak pulang. Rumah kami akan semarak dengan tawa dan cekikikan. Tak ada lagi ibu yang mengurung diri dikamar untuk menangisi bapak. Ibu akan tertawa bahagia dengan seamplop uang yang tebal pemberian bapak. Saya akan berdendang ceria dengan sebuah baju baru yang bercorak kembang-kembang. Saya senang. Ibu senang. Kami berdua senang.

Saat bapak pulang, saya tidak akan kelaparan sampai harus memasak sendiri mie instant dan terl dadar karena ibu sudah memasak berbagai lauk seperti ayam dan ikan goreng dengan sambal yang membuat ketagihan. Saat bapak pulang, saya tidak akan kesepian sampai harus bercerita pada boneka Barbie tentang pengalaman di sekolah, karena ibu dan bapak akan duduk tenang sambil mendengarkan cerita saya menjawab dengan benar pertanyaan ibu guru. Saat bapak pulang, saya tidak akan keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena ibu dan bapak dengan senang hati akan mengajari saya rumus kuadrat sehingga saya akan menjawab tugas yang diberikan dengan benar. Saya senang. Ibu senang. Bapak senang.

Saat bapak sedang dirumah, saya akan cepat pulang sekolah agar bisa berjalan-jalan sore mengitari komplek rumah dengan bapak saat ibu sibuk memasak menu makan malam kami yang lezat. Saya senang berjalan-jalan mengitari komplek rumah dengan bapak, karena bapak selalu bercerita kepada saya tentang kancil yang mencuri ketimun, tentang asal mula gunung Tangkuban Perahu, tentang perang sebelum jaman kemerdekaan, tentang apa saja yang menambah pengetahuan saya.

**************

Sayangnya, hanya dua minggu bapak pulang. Setelah dua minggu, bapak akan pergi lagi dengan mobil sedan yang berwarna kecoklatan. Meninggalkan saya dan ibu yang mengantar sampai pelataran. Setelah mobil bapak menghilang di tikungan, maka ibu akan memeluk saya sambil menahan tangis yang terlihat jelas. Bila sudah tidak kuat, maka ibu akan berlari menuju kamar sambil mengeluarkan isakan.

Biasanya, kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar menonton TV sampai bosan. Kalau saya sudah kelaparan maka saya akan kembali ke rutinitas saya sebelumnya, memasak mie instan dan menggoreng telur dadar.

Sering saya bilang pada ibu ingin menelepon bapak saat bapak tidak pulang. Tapi yang terjadi isakan ibu menjadi semakin keras, bahkan dia juga meneriaki saya untuk keluar kamar dan jangan mengganggunya. Kalau sudah begitu, saya memilih bermain dengan boneka Barbie sambil menceritakan keluh kesah saya pada barang mati pemberian bapak itu.

Dan kalau hari sudah semakin malam, maka ibu akan keluar dari kamarnya dengan mata merah yang bengkak karena terlalu banyak menangis untuk menyuruh saya mandi air hangat. Setelah mandi, biasanya ibu menyuruh saya belajar sendiri dan mengerjakan PR untuk besok. Kalau saya kesulitan mengerjakan, saya tidak akan bertanya pada ibu. Saya memilih mengacak angka-angka yang tersedia untuk dituliskan asal-asalan dibuku pelajaran saya. Ibu terlalu sibuk untuk bersedu sedan di dalam kamarnya.

**********

Hari ini bapak tidak pulang. Hari ini pula sudah seminggu bapak tidak pulang. Itu berarti sudah seminggu pula ibu sibuk menghabiskan hari dengan tangisan di dalam kamar. Itu berarti seminggu lagi bapak akan pulang. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus makan mie instant dan menggoreng telur sendiri untuk makan. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus bercerita pada boneka Barbie tentang perasaan saya. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus mengarang angka-angka untuk menjawab PR matematika saya.

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini bapak tidak pulang karena harus pulang kerumah istri pertamanya di kota sebelah.

 

Advertisements

2 responses »

  1. hhmmmm menarik sekali penggunaan gaya bahasa repetisinya. gaya bahasa macam itu cukup mampu menimbulkan kesan puitis atau utk mempertegas kondisi batin seseorang. Mungkin harus agak sedikit hati2 dan berhemat agar tidak jadi pengulangan2 yang bisa membosankan. Saya menemukannya tetapi sedikit sekali. Overall cerpenmu ini cukup kuat terutama kharakter si ibu dan si penutur. Endingnya juga cukup shocking.
    Aku suka cerpenmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s