Dongeng yang penuh kebohongan

Standard

 

Ruangan kelas saya sama dinginnya dengan kutub utara. Saya merasa berinkarnasi menjadi penguin. Walau saya tidak percaya kalau reinkarnasi itu ada. Saya dan raga saya memang ada disini, didalam kelas Religion, tetapi mereka semua juga tahu kalu otak dan pikiran saya tidak ada disini. Mereka semua tahu tetapi mereka semua juga tidak ada yang perduli dengan kehadiran dan keberadaan saya. saya pun tidak mau repot-repot mencolok mata mereka agar menyadari keberadaan saya.

Samar-samar saya dengar dosen saya sedang membicarakan tentang berbagai macam penyimpangan yang dilakukan oleh banyak orang pada masa kini. Dari suaranya saya menangkap nada menghakimi yang amat sangat. Dengan berapi-api bapak itu menjelaskan perbedaan kelakuan manusia pada jamannya dan pada tahun-tahun ini.

Pelan saya buka mata saya mencoba melihat reaksi teman-teman saya. Saya bertaruh pada diri saya sendiri kalau mereka akan mengangguk-anguk setuju seperti pajangan porselen china, kalau saya salah saya berjanji saya tidak akan merokok dua hari kedepan. Mata saya sudah benar-benar terbuka, ketika saya melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Pemandangan yang bahkan lebih daripada taruhan saya. Teman-teman sekelas saya tidak hanya mengangguk-angguk tanda setuju, tetapi semua mata secara langsung maupun tidak langsung memandang kearah saya. Saya hanya bisa membalas pandangan mata mereka dengan senyum termanis yang pernah saya punya. Senyum yang biasanya saya sunggingkan saat melihat rekening saya bertambah jumlahnya. Senyum yang membuat semua yang tadi memandang saya membuang muka dengan sangat dramatis.

Kadang saya masih sangat bingung dengan syarat-syarat untuk hidup dan bisa diterima didunia ini. Kadang saya masih sangat rancu dengan syarat-syarat untuk menjadi orang baik didunia ini. Semuanya terasa begitu abstrak. Semuanya terasa begitu semu. Semuanya begitu tidak masuk di akal.

Sejak kecil, saya sudah dijejali dengan dongeng-dongeng yang penuh dengan kebohongan. Sebut saya putri salju, Cinderella, beauty and the beast danalicein wonderland. Itu baru dongeng importnya. Belum dongeng lokalnya seperti bawang merah bawang putih, jaka tarub atau timun mas. Semuanya mempunyai satu inti yang menyesatkan. Semuanya tidak ada yang masuk akal.

Saya beberkan kebohongan yang terkandung pada dongeng yang menjadi inspirasi banyak orang itu.

Pertama. Saya yakin semua orang tahu isi dongeng klasik cinderella maupun cerita bawang merah-bawang putih. Intinya mereka adalah anak tiri yang disia-siakan dan dipekerjakan sebagai pembantu oleh ibu dan saudara tirinya setelah sang ayah yang kaya raya meninggal. Mereka digambarkan sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan menarik. Bahkan jauh lebih cantik daripada saudara tirinya yang dimanja oleh ibu tirinya, ini dia kebohongan pertamanya. Bagaimana mungkin orang yang selalu ditindas dan dijadikan pembantu bisa menjadi lebih cantik dan menarik dari pada anak yang disayang dan selalu bersolek. Mungkin memang benar kedua tokoh dongeng itu memang dilahirkan sebagai gadis cantik, tetapi bila kecantikan itu tidak dirawat atau malah diabaikan karena banyaknya kesibukan pada pekerjaan rumahnya saya berani bertaruh kalau kecantikannya akan tenggelam dalam keletihan dan ketertekanan jiwa raganya. Bagaimana bisa orang yang sejak pagi hari sudah harus mencuci, memasak, membersihkan rumah dan melayani kakak dan ibu tirinya bisa kelihatan semenarik gadis yang baru saja keluar dari salon kecantikan. Kebohongan yang membuat gadis-gadis tidak beruntung lainnya bermimpi akan menjadi secantik Cinderella maupun bawang putih saat mereka selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.

Kedua. Semua dongeng itu pasti akan diakhiri dengan pernikahan sang tokoh wanita dengan pangeran tampan yang kaya raya. Menurut saya ini adalah kesalahan yang paling fatal dari kebanyakan dongeng yang masuk otak kita. Coba perhatikan, kebanyakan dari dongeng yang ada selalu menjadikan pangeran sebagai pusat sentral dari kebahagiaan sang tokoh. Seakan sang pangeran adalah perubah nasib yang tadinya sangat buruk menjadi berbalik. Saya mencoba berpikir dengan logika, secantik-cantiknya seorang gadis yang dianggap pembantu, saya yakin seratus persen, tidak akan bisa membuat seorang pangeran tampan yang kaya raya yang sudah terbiasa melihat gadis cantik, akan jatuh cinta pada gadis yang biasa-biasa saja. Bahkan seorang pria yang notabenenya bukan pangeran tampan yang kaya raya pun selalu mencari pasangan yang kecantikannya diatas rata-rata.

Hal ini adalah suatu bukti nyata kalau dongeng-dongeng yang ada hanyalah sebuah ajang untuk menjual mimpi. Lihat saja gadis-gadis disekitar saya, semuanya sama dan seragam. Dari pemikiran tujuhpuluh persen gadis yang saya kenal, selalu mencari calon pasangan yang kaya. Lebih baik lagi berbonus tampan. Hal inilah yang menjadikan para pria terutama yang kaya, akan dengan gampangnya berganti-ganti pasangan. Lihat saja, sudah tidak ada tempat untuk gadis yang biasa-biasa saja tetapi menyenangkan.

Itu baru aspek pemikirannya, belum lagi penampilan. Sejauh mata saya memandang, yang terlihat hanya gadis-gadis dengan rambut panjang lurus terurai, kadang saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang lurus dari lahir, mana yang lurus dari salon. Belum lagi ditambah dengan badan yang beratnya sama dengan berat badan anak SD kelas 6. Kaki mereka selalu dibalut dengan celana jeans beraneka warna norak yang pernah ada. Sudah pasti kaki mereka memakai high heels yang bisa membuat orang masuk rumah sakit bila terkena tendangannya. Sama dan seragam itulah gadis jaman sekarang.

Mungkin juga hal itu pulalah yang membuat para pria dengan gampang berganti-ganti pasangan. Toh mereka tetap jalan dengan orang yang sama otak dan penampilannya, hanya beda wajahnya saja.

Lalu sebenarnya apakah syarat menjadi orang baik? Apakah syarat orang baik itu adalah orang-orang yang selalu memakai celana panjang, baju berkerah lengan panjang, selalu rajin beribadah dan selalu menjauhi larangan Tuhan? Saya pernah bahkan sering bertemu orang seperti itu saat dalam biskotayang mengantar saya ke kampus atau bahkan kemana saja tujuan saya. Waktu itu saya pikir mereka adalah orang-orng baik yang bisa saja jadikan panutan, tetapi kemudian ada hal kecil yang langsung menimbulkan pertanyaan pada saya saat itu juga. Hal kecil yang santa biasa terjadi terjadi kalau kita menaiki angkutan umum. Pengamen. Kadang saya memang merasa terganggu dengan kehadirannya, tetapi saya juga bisa memilah-milah pengamen mana yang menganggu. Waktu itu ada seorang anak kecil yang mengamen di bus yang saya tumpangi. Disitu ada bapak-bapak berpeci yang selalu membawa tasbih kemana-mana. Disitu juga ada ibu-ibu berkerudung yang sedang mengobrol dengan teman disebelahnya tentang pengalamannya naik haji tiga kali. Disitu juga ada seorang pemuda berkalung salib besar yang membawa alkitab, mungkin dia baru pulang dari gereja. Saat anak kecil tadi mulai bernyanyi dengan suara dan alat musik yang pas-pasan, saya lihat bapak berpeci itu mulai menertawakannya dan menjadikan si pengamen kecil itu sebagai bahan olokan dengan temannya sesama bapak berpeci. Si ibu yang berkerudung tiba-tiba diam dan berpura-pura tidur pulas. Padahal 5 menit yang lalu dia masih bersuara kencang.sedangkan pemuda berkalung salib itu langsung mengeluarkan handphonenya dan mengobrol asyik dengan seseorang, yang saya tebak tidak pernah ada. Pada intinya mereka tidak ada yang memberikan barang serupiah pun pada si anak kecilmalangtadi. Saat itu juga pertanyaan saya muncul. Apa itu yang disebut orang baik? Mereka yang selalu berkoar-koar tentang berbagi dengan orang yang membutuhkan. Mereka yang selalu mengkapanyekan sikap peduli sesama. Saya memilih untuk tidak menjadi orang baik kalau apa yang saya lihat itu merupakan syarat menjadi orang baik.

Pikiran saya mulai kembali pada tempatnya ketika saya dengar suara dosen muda nan genit itu meneriakan nama saya. Setelah 2 menit saya memasang tampang bodoh, dia mulai tersenyum sambil memperingati saya untuk mengumpulkan tugas saya yang sudah terlambat satu minggu lamanya. Dalam hati saya tertawa, bukannya saya malas untuk mengerjakan tugas itu, tetapi saya merasa bahwa tidak ada gunanya saya mengerjakan tugas itu karena pada akhirnya saya tetap saja akan mendapat nilai E untuk mata kuliah ini. Saya tahu penolakan saya sebulan yang lalu melukai harga dirinya.

Saya selalu siap dengan semua pembalasan atas semua penolakan yang saya lakukan termasuk pembalasan dari dosen muda itu. Toh mungkin kalau saya menjadi dia saya akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih keji lagi.

Saya pikir kelas kami sudah berakhir, ternyata saya salah. Dia kembali berceramah tentang moral. Kali ini saya ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar dia mengatakan bahwa moral yang baik adalah harta yang paling sempurna di dunia ini. Dan yang lebih menggelikan, sekali lagi saya melihat mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandang kearah saya. Kali ini saya tidak mau repot-repot tersenyum.

Kasihan sekali mereka, semakin lama menjadi semakin munafik. Dengan atau tidak sadar mereka sangat tahu kalau uang adalah harta terbesar yang selalu diinginkan. Lihat saja sekarang uang bisa membeli segalanya. Dalam artian harafiah segalanya. Benda, jabatan, pendidikan, harga diri bahkan manusia itupun dapat di beli dengan uang. Semakin banyak kita mempunyai uang semakin bahagia hidup kita. Buat saya bohong sekali dengan ungkapan uang tidak bisa membeli kebahagian. Bayangkan saja semisal kita tidak punya uang. Kita tidak bisa membeli makanan. Kita tidak bisa membeli pakaian. Kita tidak bisa bersekolah. Kita tidak bisa bersenang-senang. Apa iya kita masih tetap bahagia. Kalau saya pribadi dengan tegas saya katakan saya tidak akan bahagia tanpa uang.

Dan dengan jujur saya akui bahwa tubuh saya pun sering terbeli dengan uang. Demi mendapatkan banyak uang saya memang harus menjual tubuh saya. Tetapi toh saya masih punya hak untuk menentukan siapa-siapa saja yang boleh membeli tubuh saya. Siapa-siapa saja yang saya ijinkan menikmati tubuh saya. Dan sayangnya, dosen muda itu tidak termasuk dalam daftar orang yang saya ijinkan. Mungkin karena itu harga dirinya terlukai. Bayangkan saja bagaimana reaksi orang kalau tahu dia, yang selama ini disukai oleh banyak mahasiswi perempuan karena ketampanannya, ditolak oleh seorang pelacur yang direndahkan oleh banyak penggemarnya. Betapa malunya dia.

Tetapi saya punya alasan kuat kenapa saya menolaknya. Saya tahu siapa dia. Saya tahu bagaimana selama ini dia hanya memenfaatkan ketampanannya untuk mendapatkan tubuh gadis-gadis yang memujanya. Bagaimana selama ini dia mematahkan hati banyak gadis yang datang padanya. Memepermainkan mereka sesuka hatinya. Tanpa rasa bersalah. Pernah juga saya dengar dia bilang bahwa sudah sewajarnya dia dikejar seperti itu. Sudah sepantasnya dia mencari yang terbaik bagi dirinya bila memang dia belum menemukan kesempurnaan pada gadis yang dia tiduri. Betapa ingin saya menampar wajahnya dengan sepatu high heels saya.

Saya memang pelacur, tetapi juka saya disuruh memilih menjadi pelacur atau menjadi gadis yang kaanya baik-baik seperti teman-teman sekelas saya ini, saya tetap memilih menjadi pelacur. Paling tidak saya masih lebih kuat dari pada mereka. Paling tidak saya masih dibayar ketika seorang pria menikmati tubuh saya. Paling tidak saya tidak pernah menggunakan hati saya untuk menangisi pria-pria tidak tahu diri seperti dosen saya ini.

Hawa dingin dari Air Conditioner dikelas saya semakin meguarkan dinginnya. Membuat saya semakin merapatkan jaket yang saya kenakan. Saya lirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan saya. Sudah satu setengah jam saya berada dikelas ini. Mendengarkan semua omong kosong tentang moral. Dalam hati, saya berdoa semoga kelas ini cepat berakhir. Saya masih punya banyak janji yang harus dilakukan. Saya masih harus ke salon untuk melakukan perawatan rutin karena nanti malam saya harus menemani salah satu pelanggan saya yang sedang berulang tahun untuk menghabiskan malam disalah satu club termahal dikota ini yang sudah dia sewa untuk melakukan private party. Dan setahu saya, orang yang akan datang nanti malam tidak hanya saya di kelas ini. Saya tahu ada beberapa teman wanita saya yang juga diundang. Bedanya saya dan mereka adalah saya mengakui kalau saya pelacur sedangkan mereka tidak.

Lamunan saya terhenti ketika akhirnya saya dengar dosen muda itu mengakhiri kuliahnya. Dengan bergegas saya memberesi barang-barang saya. Dengan langkah riang saya keluar dari kelas ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s