Kerinduan Dalam Sebuah Rumah

Standard

Walaupun jam dinding sudah berdentang sebanyak 10 kali malam ini, tetapi rumah saya tetap sepi. Ayah dan ibu sepertinya tetap belum pulang dari kantor mereka masing-masing. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah yang sudah merawat saya sejak berusia 3 tahun.

 

Sejak saya masuk TK, mbok Inah adalah orang yang selalu hadir buat saya. Mulai menyediakan makanan dan bekal, membantu saya mengerjakan PR, menemani saya bermain dengan Barbie dan rumah-rumahnya yang baru. Mengajari saya naik sepeda roda dua yang dihadiahkan ayah dulu.

 

Bahkan, saat saya mulai beranjak dewasa, mbok Inahlah yang mendengarkan cerita saya tentang pacar-pacar saya. Tentang ciuman di belakang sekolah. Tentang malam mingguan di bioskop yang gelap. Tentang menampar pacar yang ketahuan meniduri teman. Tentang tangisan merindukan pelukan ibu. Tentang segala sesuatu yang pernah saya alami.

 

Tidak, saya tidak menyalahkan ayah dan ibu saya yang terlampau sibuk bekerja. Tanpa mereka saya tidak akan menikmati rumah dengan dua lantai yang megah. Tanpa mereka saya tidak akan mempunyai gadget yang canggih dan mahal. Tanpa mereka saya tidak akan mengendarai sebuah mobil mewah yang membuat iri teman-teman saya. Tanpa mereka saya tidak akan mempunyai uang saku yang berlimpah. Tanpa mereka saya tidak akan menghabiskan waktu bersama mbok Inah di rumah.

 

Kadang, saya merindukan keberadaan mereka. Ayah dan ibu. Mereka selalu berangkat sebelum saya sempat terbangun di pagi hari. Mungkin memang salah saya yang tidak bisa bangun pagi. Mereka selalu pulang di malam atau sore hari, saat saya sedang bermain mengarungi jalanan ibu kota dengan mobil yang mereka beri. Dan akhirnya, saat saya pulang, mereka sudah bergumul dengan mimpi. Apa iya saya akan menganggu mereka yang sedang terlelap dalam lelah setelah seharian bekerja keras?

 

********

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Suami dan anak saya pasti masih keluyuran di jalan. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah. Pembantu yang sudah mengikuti saya selama lebih dari 17 tahun.

 

Sejak sebelum menikah, saya memang sudah bekerja menjadi Senior Copy Writer di sebuah perusahaan Internasional yang memberikan saya gaji lumayan besar. Gaji yang membuat hari-hari saya habis di kantor. Gaji yang membuat saya tertahan dengan berbagai dokumen tebal. Gaji yang membuat saya tidak sempat lagi memasak untuk anak dan suami saya. Gaji yang menjauhkan saya dengan dunia rumah tangga yang kompleks.

 

Bahkan, saat saya mendapatkan promosi dari kantor, kegiatan saya semakin menggila. Dari subuh saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, saya sudah berkelana di jalan meninggal suami yang masih lelap dan anak yang belum tersadar dari mimpinya. Saya jarang melihat sinar matahari karena saat pulang, hari pasti sudah malam, paling cepat semburat sore sudah mengembang.

 

Semua itu demi sebuah keluarga yang berkecukupan. Semua itu itu demi rumah megah dengan dua lantai. Semua itu demi memberikan fasilitas yang maksimal untuk anak saya. Semua itu demi sebuah mobil mewah yang siap melindungi anak saya dari panas dan hujan, dari copet yang nakal dan dari jalanan yang kejam.

 

Jika saya tidak bekerja, bagaimana anak saya bisa menikmati materi yang berkecukupan itu kalau suami saya hanya menjadi bawahan manager di sebuah perusahaan kecil yang tidak berkembang. Dengan gaji yang pas-pasan untuk hidup, saya tentu tidak ingin keluarga saya juga hidup pas-pasan.

 

Kadang saya merindukan keberadaan anak dan suami saya. Anak semata wayang yang selalu menjadi penyemangat saat lelah dan menemukan kebuntuan dalam bekerja. Anak semata wayang yang selalu menjadi motivasi untuk mengambil keputusan-keputusan besar. Oiya, saya juga merindukan suami yang walaupun hanya kerja pas-pasan tetap saja saya cintai. Walaupun diam-diam. Suami yang sudah lama tidak memberikan kehangatan dan kasih sayang. Suami yang terlalu khawatir dengan karir saya yang menjulang. Tapi, saat saya bisa pulang lebih awal, kenapa mereka belum pulang?

 

************

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Istri dan anak saya pasti belum sampai di rumah. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah. Pembantu yang sudah mengikuti saya selama lebih dari 17 tahun.

 

Sejak 10 tahun belakangan ini, saya memang selalu tidur di kamar tamu untuk menghindari istri saya yang dulu saya banggakan. saya memutuskan untuk tidak tidur di dalam kamar itu, karena biasanya istri saya baru pulang dini hari untuk kemudian pergi lagi. Kamar itu terlalu sesak dengan kenangan yang sudah banyak teruntai. Saya tidak sanggup lagi untuk hidup di dalam kenangan yang terlalu manis sendirian.

 

Bagaimana saya tidak bangga dengan istri saya, dia adalah copy writer di sebuah perusahaan asing yang mampu menggajinya dengan 10 kali dari gaji saya. Bagaimana tidak bangga dengan istri saya, dia adalah penyandang dana yang membangun istana megah kami yang berlantai dua. Bagaimana saya tidak bangga dengan istri saya, dia yang menghadiahi saya dan anak kami mobil mewah keluaran terbaru, masing-masing satu.

 

Sadangkan saya. Saya hanyalah pegawai swasta disebuah perusahaan yang tidak berkembang. Saya terlalu takut untuk keluar dari kenyamanan yang diberikan oleh kantor saya walaupun dengan gaji yang tergolong kecil. Lama kelamaan saya menjadi minder, saat istri saya masih sibuk mengejar rupiah, saya hanya sibuk di kantor untuk browsing berita basi. Saat pagi buta istri saya sudah berangkat bekerja, saya masih sibuk menikmati hangatnya selimut mahal yang dibeli istri saya.

 

Bukan saya tidak mau lebih maju. Tapi sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengejar karir istri yang yang meroket. Lebih baik saya bersembunyi dalam kamar tamu yang nyaman. Biarlah anak dan istri saya mengira saya masih sibuk lembur di kantor.

 

Kadang saya merindukan keberadaan istri dan anak saya. Istri yang begitu saya kagumi kepandaiannya. Istri yang saya hormati ketegasannya. Istri yang saya benci karena kemampuannya yang melebihi kemampuan saya. Dan anak, anak semata wayang yang saya sayangi. Anak semata wayang yang selalu memuja saya karena dikiranya saya seperti ibunya. Anak semata wayang yang kadang enggan saya temui agar dia tidak tahu apa pekerjaan ayahnya sebenarnya.

 

***************

 

 

 

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Padahal bapak ibu dan mbak Intan ada di kamarnya masing-masing. Di rumah yang berlantai dua ini semua penghuninya sibuk dengan dunianya masing-masing.

 

Sore ini, ibu tumben pulang cepat. Biasanya, ibu baru pulang kalau jam sudah berdentang 12 kali. Itupun besok subuhnya sudah berangkat lagi. Ibu memang pekerja keras. Sejak 17 tahun lalu saya bekerja di rumah ini, ibulah yang membiayai semua pengeluaran keluarga. Mulai dari membangun rumah, membeli mobil sampai membayar semua tetek bengek urusan rumah tangga, semua keluar dari dompet ibu.

 

Mungkin itulah yang membuat harga diri bapak seperti terinjak-injak. Mungkin itulah yang membuat bapak memilih untuk selalu mengunci diri di kamar tamu sepulang dari kantor. Mungkin itulah yang membuat bapak tidak cukup percaya diri untuk menemani ibu di kamar utama.

 

Kasihan mbak Intan. Sejak kecil mbak Intan tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya kecuali melalui kiriman dan titipan uang dan barang-barang mahal yang belum tentu bisa saya beli.

 

Kadang saya merindukan keberadaan bapak, ibu dan mbak Intan yang berada di dalam satu ruangan. Bukan di kamar masing-masing seperti ini. Bukan dalam kebersamaan yang sendiri-sendiri seperti ini. Bukan dalam kebisuan yang verbal seperti ini.

 

Tapi saya punya hak apa untuk menasehati mereka. Saya hanya mbok Inah yang baru bekerja 17 tahun di rumah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s