Menari Untuk Malam

Standard

Aku mencintai malam, bukan karena membenci terang. Aku hanya terbiasa menari dalam gelap yang merentang #puisimalam

Suara adzan Maghrib membangunkan saya dari tidur panjang yang merentas mimpi tentang pantai yang membuai. Sambil masih mengumpulkan nyawa yang baru setengah ada, saya mencoba menenggak air yang ada di sisi meja. Pening di kepala ternyata masih meradang, padahal saya sudah tidur seharian sampai petang.

Perlahan, saya mencoba bangkit dari peraduan, menyambar ponsel yang berkedip di ujung dipan. Ada beberapa pesan yang menunggu untuk dibaca. Dari seorang teman yang menanyakan waktu untuk bertemu, ada seorang kawan yang mengingatkan jadwal nanti malam, ada seorang rekan yang berjanji untuk datang dan masih ada dia yang tidak berhenti menanyakan tentang rasa.

Ah persetan dengan semua!

Saya menyalakan televisi yang tidak seberapa besar. Ada kabar tentang presiden yang tidak mau memberikan komentar, ah bosan. Ganti channel yang lain, ada seorang artis ibukota yang sedang tersenyum lebar pamer pacar baru yang berbadan kekar, ah basi. Cari acara lain, ada sinetron tentang pelacur yang mempunyai anak namun ditukar, biar sudah tidak ada channel acara lainnya.

Saya nyalakan sebatang rokok dengan pemantik biru bergambar lucu. Setiap hembusan yang saya hisap saya keluarkan pelan-pelan. Bukankan sensasi dalam merokok adalah mengeluarkan pelan-pelan, agar rasanya tidak cepat hilang? Kadang saya merasa lucu, melihat sepasang remaja yang merokok hanya untuk bergaya. Hanya untuk menjadi luar biasa di mata sebayanya.

Sambil masing mengeluarkan asap dari mulut dan hidung saya memandang kosong layar televisi yang menyala terang. otak saya berkerja cepat untuk merunut apa yang terjadi pada hidup saya setahun ke belakang. Saya selalu menyukai nostalgia tentang cerita yang sudah lama terjadi dan meninggalkan kenangan usang.

Tahun lalu, di sore seperti ini mungkin saya baru pulang kuliah dengan hati riang. Atau malah sedang sibuk menghabiskan waktu di café untuk menunggu malam datang. Tak jarang, saya akan mengisi petang dengan menari hingga hati, tubuh dan jiwa beroleh tenang.

Namun, sekarang semua berubah. Saat petang menjelang, saya baru tersadar dari tidur panjang. Bukan karena saya lari dari terang, namun karena raga terlalu lelah untuk menentang hari yang panjang. Bagaimana tidak, saya baru pulang saat pagi datang, saat para ibu sibuk memasak sarapan, saat para bapak sibuk berkemas dan berdandan, saat para anak bersiap untuk pergi ke sekolahan.

Kata orang, pekerjaan yang saya lakukan bukan pekerjaan halal. Bukan pekerjaan terhormat yang berkantong tebal. Bukan pekerjaan bergengsi yang bisa membeli mobil mahal. Tapi saya tidak perduli, selama saya masih bisa berusaha sendiri saya tidak akan berhenti.

Tahu apa mereka tentang halal dan haram, sementara mereka sibuk memakai uang yang bukan milik mereka. Tahu apa mereka tentang pekerjaan terhormat, kalau bahkan seorang presiden, menteri atau bahkan anggota dewan yang katanya terhormat tidak pernah berhenti mencela atas musibah yang menimpa. Tahu apa mereka dengan mobil mahal kalau hanya untuk menyombongkan kekayaan.

Saya tidak menggugat, saya hanya mengingat, bagaimana saya harus bertahan sendiri dengan penat dan ton-tonan maksiat yang selama ini mengikat. Sejak rumah dibakar oleh segerombolon pria berjubah putih pekat. Sejak ayah dan ibu saya disikat dengan pukulan, tendangan dan makian hingga sekarat. Sejak masa depan saya terenggut dengan tidak hormat. Sekarang hanya ada luka. Sekarang hanya ada pahit, sekarang hanya ada sakit.

Hanya karena restoran keluarga kami buka di siang bolong beberapa minggu sebelum hari raya, sekelompok orang yang meneriakkan Tuhan menyerang. Membumi hanguskan setiap sekat yang ada di restoran kami. Mengambil nyawa ayah dan ibu yang sudah sekarat. Meninggalkan saya terkapar dalam diam yang melumat.

Saya tidak membenci terang, saya hanya lebih nyaman dalam gelap malam yang membentang.

Sejak siang itu, semua berubah. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka memanggil saya wanita jalang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka terpesona melihat saya menari telanjang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya saya memuaskan imajinasi mereka demi segepok uang.

Ada satu masa, saat menari menjadi salah satu menu makan siang. Kini, menari menjadi obat tenang yang membuat saya melupakan semua kenangan yang menyakitkan. Menari membuat saya terbebas dari kekangan dendam yang tak kunjung hilang. Menari membuat saya kembali ke masa silam saat menari menjadi salah satu menu makan siang.

Ya, hanya dengan menari saya masih bisa bertahan hidup. Pelan-pelan saya matikan sisa puntung rokok pada asbak yang mulai penuh. Pelan-pelan saya ambil handuk untuk membilas badan yang basah oleh peluh. Pelan-pelan saya beranjak ke kamar mandi untuk kembali menjadi utuh. Pelan-pelan saya berdandan untuk siap menari dalam malam yang disinari bulan purnama penuh. Pelan-pelan saya meninggalkan kamar sewaan dan menuju tempat mencari nafkah.

Dragon Fly Nightclubs

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s