Kamu Dalam Sebotol Bir

Standard

Kamu dalam sebotol bir. Menggoda untuk ada. Dalam buih yang memilih untuk hadir. Memaksa untuk terlihat mata. Dalam segelas penuh airmata. Candumu sedikit demi sedikit meminta untuk larut dalam darah yang awalnya menolak.

Kamu dalam sebotol bir. Menciptakan tawa yang tak bisa menjadi nyata. Menghadirkan cinta yang seharusnya tak ada. Membuat saya memikirkan sebuah kita yang hanya sekedar bersama bukan untuk selamanya.

Kamu dalam sebotol bir. Berwarna keruh seperti kuning yang bukan kuning. Seperti putih yang hanya sebentar putih. Membawa buih yang tak selamanya menjadi buih. Untuk nyata yang sebenarnya tidak nyata.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir mengisi kebosanan saat jemu mulai mengisi kalbu. Hadir mengisi perih saat hati mulai pulih dari rasa sakit yang merintih. Hadir mengisi diri yang mulai terbiasa sendiri melupakan kata cinta yang dulu menghantui .

Kamu dalam sebotol bir. Menyesap dalam setiap sesapan yang nikmat. Senikmat rasa getir yang mulai bercampur dengan getar yang berbeda. Berbeda menghadirkan irama yang melagukan getar saat melalui ujung lidah yang mulai terbiasa merasakan kehadirannya.

Kamu dalam sebotol bir. Menggambarkan kenangan yang tak sama pada setiap gelasnya. Melarutkan setiap kata yang tertahan dalam lidah untuk sementara. Menciptakan sensasi yang berbeda-beda pada orang yang menikmatinya. Sensasi yang kadang diluar logika yang dianggap sempurna. Sensasi yang melewati batas wajar yang tak langsung ditetapkan. Sensasi yang mungkin akan terulang setiap malam.

Kamu dalam sebotol bir. Memperkenalkan rasa baru yang tak ada duanya. Tidak sekuat Countrue ataupun Tequila yang menyegat. Tidak sepekat Jack Daniel dan Red Label yang banyak penggemarnya. Tidak menghadirkan mabuk yang tak nyata saat penikmatnya ingin lari dari kenyataan yang meminta dilupakan.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak membutuhkan pitcher yang berukuran giga untuk seterusnya. Tidak memaksa sloki untuk selalu menjadi tempat yang sempurna. Tidak meminta malam untuk menjadi teman meminumnya. Namun kamu selalu siap menemani setiap rindu yang menggigit walau tak bisa dipingit. Namun kamu selalu siap untuk menyembuhkan sebuah luka lama yang memaksa untuk diingat.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak memandang rupa  penikmatnya. Tidak memilih siapa yang boleh meneguknya. Tidak mengharuskan syarat umur untuk mencoba rasa yang terkandung dalam setiap tempatnya.

Kamu dalam sebotol bir. Bisa diminum didepan CK. Boleh dicoba saat menghabiskan tiap detik di kursi Sevel. Di cafe. Di bar. Di club malam. Di karaokean. Di dalam kamar sempit. Di atas meja kerja. Di dalam mobil tua. Di hati saya. Dimana saja.

Kamu dalam sebotol bir. Memaksa saya untuk selalu ada gelas selanjutnya. Memaksa saya untuk menikmati lebih banyak lagi cairannya. Memaksa saya untuk larut dalam setiap buih yang sibuk tercipta didalamnya.

Kamu dalam sebotol bir. Selalu siap dinikmati tanpa bisa dimiliki selamanya. Selalu tergoda untuk dicobai oleh anak yang beranjak dewasa. Selalu hadir untuk meramaikan obrolan dua orang teman lama yang tidak akan selamanya. Selalu menyimpan sebuah kisah yang mungkin terlalu menyenangkan untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disimpan.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir meninggalkan bekas luka yang tak mudah menghilang.  Hadir untuk kebahagiaan yang mungkin hanya semu belaka. Hadir melengkapi setiap kebosanan akan sebuah kisah lama yang belum terlihat akhirnya.

Kamu dalam sebotol bir. Tak dapat ditolak pesonanya. Pesona yang menyimpan racun manis yang kadang bisa mematikan. Pesona yang mewarnai sebuah gelas yang menjadi perantara mulut yang mempunyai sejuta makna. Pesona yang membawa saya pada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada menjadi nyata. Pesona yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata penyair jalanan di pinggiran kota. Pesona yang mungkin punya arti yang berbeda bagi saya dan orang lainnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menjadi teman saya menghabiskan malam bersama berbatang-batang rokok yang hancur terbakar bersama kenangan yang mulai memudar. Abu yang menjadi saksi kesakitan yang terlalu merasuk didalam sisi hati yang semakin beku.

Kamu dalam sebotol bir. Menghidupkan lagi hati yang sudah lama dibiarkan mati. Mengajarkan lagi rasa sakit yang selama ini berhenti terakit. Melupakan semua logika yang selama ini selalu dipaksa untuk ada. Menghancurkan lagi setiap inci benteng hati yang perlu banyak waktu untuk membangunnya. Mengisi lagi setiap sudut di hati dengan berbagai rasa yang membuncah, berbagai warna yang meriah. Berbagai luka yang mengiris setiap sendi dari raga ini.

Kamu dalam sebotol bir. Membawa saya pada sebuah kisah saat pertama kali saya mengenangmu bukan sebagai kamu yang hanya kamu. Membawa saya mengenangmu sebagai sebuah kisah yang tak ada akhirnya. Karena kita tak pernah punya awal yang sempurna. Dan kita juga tak punya akhir yang membuat tawa berganti air mata. Saat cinta tak lagi ada. Saat nafsu mulai menemukan sadarnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menemani saya mengarungi lautan kata. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara dan mungkin kini sudah tidak meninggalkan sisa kenangan tentang saya.

Kamu dalam sebotol bir. Hanya meninggalkan sebuah botol sisa yang sudah tak lagi ada isinya. Hanya memberikan bukti kalau bir ini memang pernah hadir dan melengkapi penikmatinya melalui waktu yang kelu. Hanya menjadi sebuah prasasti tentang semua rasa yang sempat hadir bermunculan saat semua masih ada memenuhi gelas ini. Seperti kamu yang tinggal hadir dalam sebuah ingatan yang mereka sebut dengan kenangan. Seperti kamu yang masih ada didepan saya namun sudah tidak dapat saya jangkau lagi seperti waktu itu. Seperti kamu yang mengajarkan saya untuk mengenal rasa sempurna pada kisah asmara kita yang melengkapi setiap hela nafas yang tercipta. Seperti kamu yang berlalu meninggalkan luka yang masih menganga, merah dan perih tanpa bisa dialihkan pada sisi hati yang masih mengharapkan lebih.

Kamu dalam sebotol bir. Nyata. Namun bukan hanya milik saya. Selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s