Story of Broken-Hearted Girl

Standard

bb.jpg

Tak ada pesta yang tak usai

Sepotong kalimat yang sebenarnya sudah lama saya yakini, namun terlupakan selama beberapa tahun belakangan ini. Saya terlena dengan kisah bersama dia yang selama ini “baik-baik” saja. Bukan berarti saya tidak pernah beradu pendapat, sering bahkan terlalu sering. Namun sepertinya ini adalah akhir dari pesta saya bersama dia.

Hampir tiga tahun bersama-sama, begitu banyak cerita yang sudah terangkai berdua. Manis untuk dikenang namun juga terlalu sakit untuk diteruskan. Tak ada sedetikpun waktu yang terlewatkan tanpa teringat dengan dia. Apalah daya mungkin bukan takdir kami untuk bersama.

Gym, segudang kerjaan dan  berepisode serial film sudah saya coba untuk melupakan bayangannya. Tapi apa daya hati ini terlalu lemah untuk melupkan, otak ini terlalu sesak dengan kenangan. Entah bagaimana ke depannya saya bisa menjalani hari-hari sibuk yang sudah menanti di depan mata. Tapi sepertinya sesibuk apapun itu, masih belum cukup untuk mengusir satu nama yang terlanjur sudah mendarah daging di kepala.

Hasrat hati ini ingin benar-benar tidak menghubungi dia, tapi apa daya tangan tak kuasa menahan getaran yang melumpuhkan akal sehat. Yang bisa saya lakukan sekarang, mengirimkan pesan di dada dengan permintaan untuk tidak dijawab. Karena satu kata dari dia, akan menghancurkan semua pertahanan untuk terus mengakhiri kisah ini.

Jika ditanya, seberapa besar cinta ini untuknya? Jawabannya saya hanya bisa meraba-raba. Yang pasti, tak ada satu haripun yang bisa membuat saya melupakan kenangannya. Tak peduli sesibuk apa. Tak peduli selelah apa.

Bahkan, setelah ini pun saya tidak tau harus melanjutkan hidup yang seperti apa. Apapun yang direncakan oleh otak saya, selalu gagal dilakukan karena hati saya. Mungkin sebagian berkata saya bodoh, sebagian lagi mengecam saya lemah. Saya tak bisa menyangkal meraka. Begitulah adanya.

Terlalu banyak cerita baik suka atau duka, terlalu banyak hari yang dibagi baik dengan tawa atau makian bersamanya.  Terlalu sering mata ini memandangnya, terlalu sering mulut ini menciumnya, terlalu sering hati ini jatuh cinta padanya.

Sebagian teman bilang saya butuh liburan, sebagian lagi menyarankan untuk lebih fokus pada kerjaan. Tapi tau kah mereka yang saya butuh hanya dia? Diakui atau disangkal oleh otak saya sendiri. Mungkin otak saya benar, saya harus merelakan. Tapi bagaimana saya bisa merelakan kalau semua barang, semua jalan, semua tempat atau bahkan semua tulisan mengingatkan saya tentang dia.

Saya pernah lari ke minuman, saya pernah lari ke obat penenang, saya pernah lari ke apapun yang bisa membuat saya melupakan. Tapi semua gagal. Semua tak bisa membuat saya kembali seperti sebelum saya mengenal dia.

Entah sampai kapan sakit ini akan mengendap, entah sampai kapan perih ini akan merajai hari-hari. Yang saya tau, saya hanya berusaha mengembalikan akal sehat ini untuk bisa tetap berjalan ke depan menjalani masalah-masalah lain yang sudah menunggu untuk memperberat hidup saya.

Mungkin saat ini saya hanya butuh kesendirian, atau mungkin saat ini saya hanya butuh keramaian. Entah. Kembali kata-kata memenuhi tiap sudut otak saya.

Mata ini sibuk mencari tau apakah dia sudah membaca pesan yang tadi saya kirim. Tangan ini sibuk merangkai kata untuk menutupi semua luka di dada. Hati ini sibuk meraba-raba apa yang sedang dia lakukan tanpa saya. Semua sibuk. Sibuk untuk sesuatu yang yang tidak tau pasti.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya patah hati. Tapi untuk kesekian kalinya patah hati, ini yang tersakit. Ini yang terperih. Ini yang paling menguras air mata. Ini yang paling membuat saya jadi gila. Saya bisa apa?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s