Author Archives: nenonenoo

About nenonenoo

I am a girl with a mind, a bitch with an attitude and a lady with class.

Story of Broken-Hearted Girl

Standard

bb.jpg

Tak ada pesta yang tak usai

Sepotong kalimat yang sebenarnya sudah lama saya yakini, namun terlupakan selama beberapa tahun belakangan ini. Saya terlena dengan kisah bersama dia yang selama ini “baik-baik” saja. Bukan berarti saya tidak pernah beradu pendapat, sering bahkan terlalu sering. Namun sepertinya ini adalah akhir dari pesta saya bersama dia.

Hampir tiga tahun bersama-sama, begitu banyak cerita yang sudah terangkai berdua. Manis untuk dikenang namun juga terlalu sakit untuk diteruskan. Tak ada sedetikpun waktu yang terlewatkan tanpa teringat dengan dia. Apalah daya mungkin bukan takdir kami untuk bersama.

Gym, segudang kerjaan dan  berepisode serial film sudah saya coba untuk melupakan bayangannya. Tapi apa daya hati ini terlalu lemah untuk melupkan, otak ini terlalu sesak dengan kenangan. Entah bagaimana ke depannya saya bisa menjalani hari-hari sibuk yang sudah menanti di depan mata. Tapi sepertinya sesibuk apapun itu, masih belum cukup untuk mengusir satu nama yang terlanjur sudah mendarah daging di kepala.

Hasrat hati ini ingin benar-benar tidak menghubungi dia, tapi apa daya tangan tak kuasa menahan getaran yang melumpuhkan akal sehat. Yang bisa saya lakukan sekarang, mengirimkan pesan di dada dengan permintaan untuk tidak dijawab. Karena satu kata dari dia, akan menghancurkan semua pertahanan untuk terus mengakhiri kisah ini.

Jika ditanya, seberapa besar cinta ini untuknya? Jawabannya saya hanya bisa meraba-raba. Yang pasti, tak ada satu haripun yang bisa membuat saya melupakan kenangannya. Tak peduli sesibuk apa. Tak peduli selelah apa.

Bahkan, setelah ini pun saya tidak tau harus melanjutkan hidup yang seperti apa. Apapun yang direncakan oleh otak saya, selalu gagal dilakukan karena hati saya. Mungkin sebagian berkata saya bodoh, sebagian lagi mengecam saya lemah. Saya tak bisa menyangkal meraka. Begitulah adanya.

Terlalu banyak cerita baik suka atau duka, terlalu banyak hari yang dibagi baik dengan tawa atau makian bersamanya.  Terlalu sering mata ini memandangnya, terlalu sering mulut ini menciumnya, terlalu sering hati ini jatuh cinta padanya.

Sebagian teman bilang saya butuh liburan, sebagian lagi menyarankan untuk lebih fokus pada kerjaan. Tapi tau kah mereka yang saya butuh hanya dia? Diakui atau disangkal oleh otak saya sendiri. Mungkin otak saya benar, saya harus merelakan. Tapi bagaimana saya bisa merelakan kalau semua barang, semua jalan, semua tempat atau bahkan semua tulisan mengingatkan saya tentang dia.

Saya pernah lari ke minuman, saya pernah lari ke obat penenang, saya pernah lari ke apapun yang bisa membuat saya melupakan. Tapi semua gagal. Semua tak bisa membuat saya kembali seperti sebelum saya mengenal dia.

Entah sampai kapan sakit ini akan mengendap, entah sampai kapan perih ini akan merajai hari-hari. Yang saya tau, saya hanya berusaha mengembalikan akal sehat ini untuk bisa tetap berjalan ke depan menjalani masalah-masalah lain yang sudah menunggu untuk memperberat hidup saya.

Mungkin saat ini saya hanya butuh kesendirian, atau mungkin saat ini saya hanya butuh keramaian. Entah. Kembali kata-kata memenuhi tiap sudut otak saya.

Mata ini sibuk mencari tau apakah dia sudah membaca pesan yang tadi saya kirim. Tangan ini sibuk merangkai kata untuk menutupi semua luka di dada. Hati ini sibuk meraba-raba apa yang sedang dia lakukan tanpa saya. Semua sibuk. Sibuk untuk sesuatu yang yang tidak tau pasti.

Sebenarnya ini bukan pertama kali saya patah hati. Tapi untuk kesekian kalinya patah hati, ini yang tersakit. Ini yang terperih. Ini yang paling menguras air mata. Ini yang paling membuat saya jadi gila. Saya bisa apa?

 

Advertisements

Cerita Intan

Standard

Intan merapikan lagi kamarnya yang sebenernya sudah rapi. Seharian ini, sudah tiga kali Intan menata ulang interior kamarnya yang tidak seberapa luas. Setiap pojokan di kamarnya ia bersihkan lagi, takut kalau ada barang Dirga yang tercecer.

Dirga, nama yang selama dua tahun ini mengisi relung hati Intan. Dengan senyuman bahagia, dengan gelak tawa yang terbahak-bahak, dengan jerit kemarahan yang membahana dan dengan tangis histeris saat pria itu berlalu. Dua tahun mereka hidup bersama-sama. Namun episode kehadiran Intan pada jalan hidup Dirga sepertinya sudah berakhir.

Semua ketidak cocokan berawal dari hal-hal sepele yang sebenarnya wajar terjadi. Ditambah dengan kejadian saat Dirga membaca pembicaraan antara Intan dengan mantan kekasihnya. Semua menjadi-jadi. Emosi menguasai hati, kata-kata saling memaki, dan cinta sudah tidak ada lagi.

Dirga berlalu. Meninggalkan luka yang teramat dalam di hati Intan. Memang tidak semuanya salah Dirga, tapi Intan sudah terlalu lelah dengan semua pertengkaran yang mereka hadari setiap hari. Intan lelah, Dirga muak, cinta sudah tidak bersisa lagi.

________________

Sambil membereskan file-file foto mereka berdua, lamunan Intan kembali melayang ke bulan-bulan awal mereka menjalin kasih. Cinta yang awalnya tidak direncakan, ternyata menjadi sangat manis dan memabukan. Intan terbawa dalam pesona Dirga yang luar biasa. Senyumnya yang khas, perhatiannya yang meluluhkan hati dan obrolannya yang membuat mereka lupa waktu. Intan tergila-gila.

Seorang Intan yang awalnya sangat membenci pernikahan, bahkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah, mulai terbersit keinginan ingin menikah. Intan ingin menghabiskan hari tua dengan Dirga, menjalani setiap tawa dan canda dengan Dirga dan melewati semua masalah yang tak biasa dengan Dirga.

Pernikahan impian pun sudah terbersit. Dengan alkohol yang memabukan, Intan percaya dia dan Dirga akan bahagia.

Namun sepertinya tidak ada pesta yang tak usai. Perbedaan mulai memisahkan mereka, pertengkaran mulai memenuhi hari-hari mereka lalu semua kebiasaan-kebiasaan sepele yang tadinya masih bisa diterima, menjadi alasan untuk beradu mulut.

Intan lelah, Dirga muak.

Lalu mereka berpisah.

__________________

Suara ketukan di pintu menyadarkan Intan dari lamunan panjangnya. Tanpa ada niatan membuka pintu, Intan kembali termenung. “Ah, pernikahan memang bukan tercipta untuk saya rasakan.” Pelan-pelan kesadarannya kembali.

Babak hidupnya selama dua tahun ke belakang mengajarkan banyak hal. Mungkin Intan memang bukan wanita yang bisa diatur begitu saja. Mungkin Intan terlalu susah untuk diarahkan. Intan terlalu liar untuk ditundukan. Intan terlalu bebas untuk dikekang.

Setetes air mata mengalir membasahi pipi Intan. Sudah dua hari ini Intan tidak keluar kamar. Sudah dua hari ini air mata tidak berhenti membasahi matanya. Sudah dua hari ini berpuluh-puluh batang rokok dihisapnya. Sudah dua hari ini kekosongan menguasai dirinya.

Intan sengaja mematikan semua ponselnya. Dia sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Tidak ingin bertemu siapapun. Dirga sekalipun.

Intan tahu, bukan salah Dirga kalau dia meninggalkannya. Bukan salah Dirga kalau akhirnya dia lelah bertahan. Bukan salah Dirga kalau dia tak sanggup menghadapi tabiat Intan. Ini semua mungkin memang sudah jalannya.

Ah betapa Intan merindukan beer, betapa Intan merindukan pantai.

__________________________

Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar semakin keras. Tak tahan, akhirnya Intan buka juga pintu kamar yang sudah dua hari ini membentenginya dari dunia. Dari Dirga. Dilihatnya wajah-wajah khawatir para sahabatnya yang kemudian berebutan memeluknya. Menghiburnya dengan kata-kata manis. Menguatkannya untuk melepaskan Dirga dari ingatnnya.

Tapi Intan tidak butuh semua itu. Intan hanya mau sendiri. Dalam kegelapan. Bersama beer, rokok dan semua kenangan tentang Dirga.

Intan meronta, Intan berusaha melepaskan diri dari pelukan para sahabatnya. Semua kesakitan yang dia pendam selama ini keluar.

“Gue capek sama semua iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”

“Gue pengeeeen matiiiiiiiiiiiiiiiiii”

“Kalian semua kaya taiiiiiiiiiiiiiiii”

Setelah puas memaki, Intan memandangi wajah bingung sahabat-sahabatnya. Dibantinglah keras-keras pintu kamar Intan sebelum mereka sempat berkata apapun.

Intan mulai meledak. Intan mulai memaki. Intan mulai menghancurkan semua barang yang ada di depan matanya. Buku-buku, piring-piring, laptop, isi lemari dan yang terakhir dirobeknya foto Dirga yang yang sedang memeluknya sambil tersenyum manis!

“Gue capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!”

“Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing”

“Babiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik”

Intan semakin kalap. Gedoran-gedoran dari pintu semakin keras. Lalu semua semakin gelap.

______________________

Intan terbangun di ruangan yang serba putih. Samar-samar dilihatnya ada banyak orang yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Pelan-pelan ia mulai mengenali siapa saja yang ada disekelilingnya. Ada papa, mama, Bila, Riana dan …… Dirga!

Ah nyeri di relung hati Intan datang lagi! Tiba-tiba semua kenangan mereka, dari pertama bertemu, pertama berkencan, pertama berciuman, pertama berbagi badan, pertama bertengkar, pertama berbaikan dan pertama-pertama yang lain mulai menguasai hatinya. Menguasai otaknya.

Tanpa sadar Intan histeris lagi. Ia mulai berteriak-teriak. Semua mundur dari tempat tidurnya, kecuali Dirga. Pria itu malah semakin mendekat. Memeluknya sambil mengucapkan kata cinta. Intan sudah terlalu gila!

Semakin kencang Dirga memeluknya, semakin kuat Intan meronta. Semakin manis Dirga membisikan kata cinta, semakin keras Intan meneriakkan kekecewaannya. Semakin deras air mata yang membahasahi pipinya.

Papa mamanya sudah keluar dari ruangan untuk berbincang dengan dokter. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama ada 4 orang suster yang datang.

Pelan-pelan Dirga mengecup dahinya yang sudah basah oleh keringat

“Baik-baik ya sayang di sini… Cepet sembuh.”

Intan semakin histeris. Keempat suster tadi dengan tanggap dan cepat segera memegangi tangan Intan. Jeritan histeris Intan menggema di selasar Rumah Sakit Jiwa itu.

Jakarta

12 Mei 2015

One Step Closer!

Standard

tumblr_lt4vpne11c1qhnq1co1_1280

Time flies so fucking fast rite?

And one thing this sure, everybody changing! I mean look at me? Many times ago, I am the one who said “I DO NOT WANNA MARRIED” loudly. However, now I am starting to think about my dream wedding. For me it is a big “BIG TOUGHT”!

Wedding party usually seems boring and waste money. Yup, gue nggak nyangka seorang ARGA sekarang berhasil buat bikin gue punya dream wedding, or I should call it dream weeding. LOL! Well, everything not as easy as it seems. I Mean, gue sama Arga literally different in some ways of life, but love become a bridge for us. Gue dengan kehidupan fake gue dan dia dengan kehidupan acak adulnya. Once he said, “kalau semua udah jadi bubur, yang bisa kita lakuin cuma nambahin cakwe, kerupuk sama gorengan biar bubur kita makin enak.” Rite?

Anywho, some situation me us think about wedding and I know the party will be my parents. Not mine or us. So, let it happen because they paid for it. Couple weeks ago, we are invited to attend friends of mine’s wedding party. I have to say, it is the coolest wedding ever. With the garden, the aisle, the food, the people and of course the after party!

Moreover, that wedding inspire me a lot to think about mine. Or us anyway. Pastinya after the sakramen in Wonosobo, I have to be a good daughter for my parent and allow them to hold any party they want. We just become a puppet.

Seems nice because we will never have to think about how much money waste because they will pay it. However, now I seems to think about my own wedding party which I have to throw in celebrating my own wedding. Some discussing with Arga plus talked about it with couple of friends I have clearer vision about my wedding party.

Start with the invitation, we’ll maybe have our own invitation that not expensive, but shows who we really are. Just so us!

One of the idea, but we'll make one of us soon

One of the idea, but we’ll make one of us soon

It will be start couple days after my parents’ party. Me and Arga will be in Salatiga. We will wear our own dream wedding’s costume. Arga will be in his fav jaket kulit and shoes, and I will wearing little black dress.

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

We will inviting some friends, not much maybe only 50. Then, kita bakalan ngumpul di depan kampus UKSW sekitar jam 4 sore dan bakalan bareng-bareng menuju tempat party which is in a villa located in Bandungan or Kopeng. Yup a villa with some bedroom on it riding a jeep.

This will be our perfect ride!

This will be our perfect ride!

Sampai di sana, kita bakalan disambut sama dekorasi supersimple. Some flower and cute lamp outside and inside the villa. There will be no formal situation, only celebrating our wedding. Of course there will be a LOT of beers, liquor, maybe a weed and mushroom. The food? Hmm, we will consider about that that but we not sure it will too delicious.

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

There will be no “pelaminan”, so you don’t have to shake hands with me. Let us to mingle and you can celebrate us personally. Semakin malam party ini bakalan semakin hot! I am sure some of you will be baked and losing your mind, that why you can use the bedroom. *if you know what I mean. Sounds so us isn’t it?

 

You are allowed to get your first one night stand :))))

You are allowed to get your first one night stand :))))

The rest of the party? Let’s we please give it to the liquors and beers. They will find the way to your own fun babe!

 

OMG, i don't have any idea who i am so brave to write all of this :)

OMG, i don’t have any idea who i am so brave to write all of this 🙂

Kamu Dalam Sebotol Bir

Standard

Kamu dalam sebotol bir. Menggoda untuk ada. Dalam buih yang memilih untuk hadir. Memaksa untuk terlihat mata. Dalam segelas penuh airmata. Candumu sedikit demi sedikit meminta untuk larut dalam darah yang awalnya menolak.

Kamu dalam sebotol bir. Menciptakan tawa yang tak bisa menjadi nyata. Menghadirkan cinta yang seharusnya tak ada. Membuat saya memikirkan sebuah kita yang hanya sekedar bersama bukan untuk selamanya.

Kamu dalam sebotol bir. Berwarna keruh seperti kuning yang bukan kuning. Seperti putih yang hanya sebentar putih. Membawa buih yang tak selamanya menjadi buih. Untuk nyata yang sebenarnya tidak nyata.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir mengisi kebosanan saat jemu mulai mengisi kalbu. Hadir mengisi perih saat hati mulai pulih dari rasa sakit yang merintih. Hadir mengisi diri yang mulai terbiasa sendiri melupakan kata cinta yang dulu menghantui .

Kamu dalam sebotol bir. Menyesap dalam setiap sesapan yang nikmat. Senikmat rasa getir yang mulai bercampur dengan getar yang berbeda. Berbeda menghadirkan irama yang melagukan getar saat melalui ujung lidah yang mulai terbiasa merasakan kehadirannya.

Kamu dalam sebotol bir. Menggambarkan kenangan yang tak sama pada setiap gelasnya. Melarutkan setiap kata yang tertahan dalam lidah untuk sementara. Menciptakan sensasi yang berbeda-beda pada orang yang menikmatinya. Sensasi yang kadang diluar logika yang dianggap sempurna. Sensasi yang melewati batas wajar yang tak langsung ditetapkan. Sensasi yang mungkin akan terulang setiap malam.

Kamu dalam sebotol bir. Memperkenalkan rasa baru yang tak ada duanya. Tidak sekuat Countrue ataupun Tequila yang menyegat. Tidak sepekat Jack Daniel dan Red Label yang banyak penggemarnya. Tidak menghadirkan mabuk yang tak nyata saat penikmatnya ingin lari dari kenyataan yang meminta dilupakan.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak membutuhkan pitcher yang berukuran giga untuk seterusnya. Tidak memaksa sloki untuk selalu menjadi tempat yang sempurna. Tidak meminta malam untuk menjadi teman meminumnya. Namun kamu selalu siap menemani setiap rindu yang menggigit walau tak bisa dipingit. Namun kamu selalu siap untuk menyembuhkan sebuah luka lama yang memaksa untuk diingat.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak memandang rupa  penikmatnya. Tidak memilih siapa yang boleh meneguknya. Tidak mengharuskan syarat umur untuk mencoba rasa yang terkandung dalam setiap tempatnya.

Kamu dalam sebotol bir. Bisa diminum didepan CK. Boleh dicoba saat menghabiskan tiap detik di kursi Sevel. Di cafe. Di bar. Di club malam. Di karaokean. Di dalam kamar sempit. Di atas meja kerja. Di dalam mobil tua. Di hati saya. Dimana saja.

Kamu dalam sebotol bir. Memaksa saya untuk selalu ada gelas selanjutnya. Memaksa saya untuk menikmati lebih banyak lagi cairannya. Memaksa saya untuk larut dalam setiap buih yang sibuk tercipta didalamnya.

Kamu dalam sebotol bir. Selalu siap dinikmati tanpa bisa dimiliki selamanya. Selalu tergoda untuk dicobai oleh anak yang beranjak dewasa. Selalu hadir untuk meramaikan obrolan dua orang teman lama yang tidak akan selamanya. Selalu menyimpan sebuah kisah yang mungkin terlalu menyenangkan untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disimpan.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir meninggalkan bekas luka yang tak mudah menghilang.  Hadir untuk kebahagiaan yang mungkin hanya semu belaka. Hadir melengkapi setiap kebosanan akan sebuah kisah lama yang belum terlihat akhirnya.

Kamu dalam sebotol bir. Tak dapat ditolak pesonanya. Pesona yang menyimpan racun manis yang kadang bisa mematikan. Pesona yang mewarnai sebuah gelas yang menjadi perantara mulut yang mempunyai sejuta makna. Pesona yang membawa saya pada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada menjadi nyata. Pesona yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata penyair jalanan di pinggiran kota. Pesona yang mungkin punya arti yang berbeda bagi saya dan orang lainnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menjadi teman saya menghabiskan malam bersama berbatang-batang rokok yang hancur terbakar bersama kenangan yang mulai memudar. Abu yang menjadi saksi kesakitan yang terlalu merasuk didalam sisi hati yang semakin beku.

Kamu dalam sebotol bir. Menghidupkan lagi hati yang sudah lama dibiarkan mati. Mengajarkan lagi rasa sakit yang selama ini berhenti terakit. Melupakan semua logika yang selama ini selalu dipaksa untuk ada. Menghancurkan lagi setiap inci benteng hati yang perlu banyak waktu untuk membangunnya. Mengisi lagi setiap sudut di hati dengan berbagai rasa yang membuncah, berbagai warna yang meriah. Berbagai luka yang mengiris setiap sendi dari raga ini.

Kamu dalam sebotol bir. Membawa saya pada sebuah kisah saat pertama kali saya mengenangmu bukan sebagai kamu yang hanya kamu. Membawa saya mengenangmu sebagai sebuah kisah yang tak ada akhirnya. Karena kita tak pernah punya awal yang sempurna. Dan kita juga tak punya akhir yang membuat tawa berganti air mata. Saat cinta tak lagi ada. Saat nafsu mulai menemukan sadarnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menemani saya mengarungi lautan kata. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara dan mungkin kini sudah tidak meninggalkan sisa kenangan tentang saya.

Kamu dalam sebotol bir. Hanya meninggalkan sebuah botol sisa yang sudah tak lagi ada isinya. Hanya memberikan bukti kalau bir ini memang pernah hadir dan melengkapi penikmatinya melalui waktu yang kelu. Hanya menjadi sebuah prasasti tentang semua rasa yang sempat hadir bermunculan saat semua masih ada memenuhi gelas ini. Seperti kamu yang tinggal hadir dalam sebuah ingatan yang mereka sebut dengan kenangan. Seperti kamu yang masih ada didepan saya namun sudah tidak dapat saya jangkau lagi seperti waktu itu. Seperti kamu yang mengajarkan saya untuk mengenal rasa sempurna pada kisah asmara kita yang melengkapi setiap hela nafas yang tercipta. Seperti kamu yang berlalu meninggalkan luka yang masih menganga, merah dan perih tanpa bisa dialihkan pada sisi hati yang masih mengharapkan lebih.

Kamu dalam sebotol bir. Nyata. Namun bukan hanya milik saya. Selamanya.

Hari Ini Bapak Tidak Pulang

Standard

 

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini sudah seminggu bapak tidak pulang. Rumah kami yang biasanya penuh dengan tawa mulai beranjak sunyi. Ibu sibuk menangisi bapak di dalam kamar. Saya sibuk melihat ibu menangisi bapak di dalam kamar.

Sebenarnya bukan seminggu ini saja bapak tidak pulang. Dalam sebulan, hanya dua minggu bapak pulang ke rumah kami. Seharusnya ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini, toh hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Namun, sayangnya ibu bukan wanita berhati tegar seperti saya. Setiap bapak tidak pulang, maka ibu akan meratapi kepergian bapak dengan tangis dan sedu sedan tidak berkesudahan di dalam kamar. Sepanjang hari. Sampai bapak pulang.

Kadang saya kesal dengan bapak yang jarang pulang. Kadang saya ingin memaki bapak karena jarang pulang. Kadang saya menggambari foto bapak pada saat bapak jarang pulang. Kadang juga saya merindukan bapak saat bapak jarang pulang. Tetapi saya tidak pernah menangisi bapak sepanjang hari seperti ibu yang menangisi bapak sepanjang hari saat bapak jarang pulang.

Tak jarang saya juga kesal dengan ibu. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari sehingga membuat saya keparan karenan ibu lupa memasak. Sehingga membuat saya kesepian karena tidak ada teman bercerita sepulang sekolah. Sehingga membuat saya keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena tidak ada ibu yang membantu saya jika kesulitan menghitung kuadrat.

Namun, saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan dimana saya harus memasak mie instant atau menggoreng telur dadar sendirian saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya sudah terbiasa bermain sendiri dengan bonekaBarbie untuk meceritakan pengalaman saya memukul hidung seorang teman sekelas saya yang memanggil saya setan betina, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya juga sudah terbiasa mengerjakan sendiri PR matematika dari sekolah, mengarang indah setiap hitungan kuadrat yang tidak dapat saya selesaikan, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan.

**********

Biasanya, kalau bapak pulang saya akan berdiri menyambut di teras depan. Ibu akan berdandan dan memakai baju berenda dari kain katun. Biasanya, kalau bapak pulang saya akan mendapat sebungkus martabak telur yang gurih untuk lauk makan malam. Ibu akan tersenyum riang menyambut bapak dalam pelukan. Hangat dan lama.

Saya sangat senang kalau bapak pulang. Rumah kami akan semarak dengan tawa dan cekikikan. Tak ada lagi ibu yang mengurung diri dikamar untuk menangisi bapak. Ibu akan tertawa bahagia dengan seamplop uang yang tebal pemberian bapak. Saya akan berdendang ceria dengan sebuah baju baru yang bercorak kembang-kembang. Saya senang. Ibu senang. Kami berdua senang.

Saat bapak pulang, saya tidak akan kelaparan sampai harus memasak sendiri mie instantdan terl dadar karena ibu sudah memasak berbagai lauk seperti ayam dan ikan goreng dengan sambal yang membuat ketagihan. Saat bapak pulang, saya tidak akan kesepian sampai harus bercerita pada boneka Barbie tentang pengalaman di sekolah, karena ibu dan bapak akan duduk tenang sambil mendengarkan cerita saya menjawab dengan benar pertanyaan ibu guru. Saat bapak pulang, saya tidak akan keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena ibu dan bapak dengan senang hati akan mengajari saya rumus kuadrat sehingga saya akan menjawab tugas yang diberikan dengan benar. Saya senang. Ibu senang. Bapak senang.

Saat bapak sedang dirumah, saya akan cepat pulang sekolah agar bisa berjalan-jalan sore mengitari komplek rumah dengan bapak saat ibu sibuk memasak menu makan malam kami yang lezat. Saya senang berjalan-jalan mengitari komplek rumah dengan bapak, karena bapak selalu bercerita kepada saya tentang kancil yang mencuri ketimun, tentang asal mula gunung Tangkuban Perahu, tentang perang sebelum jaman kemerdekaan, tentang apa saja yang menambah pengetahuan saya.

**************

Sayangnya, hanya dua minggu bapak pulang. Setelah dua minggu, bapak akan pergi lagi dengan mobil sedan yang berwarna kecoklatan. Meninggalkan saya dan ibu yang mengantar sampai pelataran. Setelah mobil bapak menghilang di tikungan, maka ibu akan memeluk saya sambil menahan tangis yang terlihat jelas. Bila sudah tidak kuat, maka ibu akan berlari menuju kamar sambil mengeluarkan isakan.

Biasanya, kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar menonton TV sampai bosan. Kalau saya sudah kelaparan maka saya akan kembali ke rutinitas saya sebelumnya, memasak mie instan dan menggoreng telur dadar.

Sering saya bilang pada ibu ingin menelepon bapak saat bapak tidak pulang. Tapi yang terjadi isakan ibu menjadi semakin keras, bahkan dia juga meneriaki saya untuk keluar kamar dan jangan mengganggunya. Kalau sudah begitu, saya memilih bermain dengan boneka Barbie sambil menceritakan keluh kesah saya pada barang mati pemberian bapak itu.

Dan kalau hari sudah semakin malam, maka ibu akan keluar dari kamarnya dengan mata merah yang bengkak karena terlalu banyak menangis untuk menyuruh saya mandi air hangat. Setelah mandi, biasanya ibu menyuruh saya belajar sendiri dan mengerjakan PR untuk besok. Kalau saya kesulitan mengerjakan, saya tidak akan bertanya pada ibu. Saya memilih mengacak angka-angka yang tersedia untuk dituliskan asal-asalan dibuku pelajaran saya. Ibu terlalu sibuk untuk bersedu sedan di dalam kamarnya.

**********

Hari ini bapak tidak pulang. Hari ini pula sudah seminggu bapak tidak pulang. Itu berarti sudah seminggu pula ibu sibuk menghabiskan hari dengan tangisan di dalam kamar. Itu berarti seminggu lagi bapak akan pulang. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus makan mie instant dan menggoreng telur sendiri untuk makan. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus bercerita pada boneka Barbie tentang perasaan saya. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus mengarang angka-angka untuk menjawab PR matematika saya.

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini bapak tidak pulang karena harus pulang kerumah istri pertamanya di kota sebelah.

Menari Untuk Malam

Standard

Aku mencintai malam, bukan karena membenci terang. Aku hanya terbiasa menari dalam gelap yang merentang #puisimalam

Suara adzan Maghrib membangunkan saya dari tidur panjang yang merentas mimpi tentang pantai yang membuai. Sambil masih mengumpulkan nyawa yang baru setengah ada, saya mencoba menenggak air yang ada di sisi meja. Pening di kepala ternyata masih meradang, padahal saya sudah tidur seharian sampai petang.

Perlahan, saya mencoba bangkit dari peraduan, menyambar ponsel yang berkedip di ujung dipan. Ada beberapa pesan yang menunggu untuk dibaca. Dari seorang teman yang menanyakan waktu untuk bertemu, ada seorang kawan yang mengingatkan jadwal nanti malam, ada seorang rekan yang berjanji untuk datang dan masih ada dia yang tidak berhenti menanyakan tentang rasa.

Ah persetan dengan semua!

Saya menyalakan televisi yang tidak seberapa besar. Ada kabar tentang presiden yang tidak mau memberikan komentar, ah bosan. Ganti channel yang lain, ada seorang artis ibukota yang sedang tersenyum lebar pamer pacar baru yang berbadan kekar, ah basi. Cari acara lain, ada sinetron tentang pelacur yang mempunyai anak namun ditukar, biar sudah tidak ada channel acara lainnya.

Saya nyalakan sebatang rokok dengan pemantik biru bergambar lucu. Setiap hembusan yang saya hisap saya keluarkan pelan-pelan. Bukankan sensasi dalam merokok adalah mengeluarkan pelan-pelan, agar rasanya tidak cepat hilang? Kadang saya merasa lucu, melihat sepasang remaja yang merokok hanya untuk bergaya. Hanya untuk menjadi luar biasa di mata sebayanya.

Sambil masing mengeluarkan asap dari mulut dan hidung saya memandang kosong layar televisi yang menyala terang. otak saya berkerja cepat untuk merunut apa yang terjadi pada hidup saya setahun ke belakang. Saya selalu menyukai nostalgia tentang cerita yang sudah lama terjadi dan meninggalkan kenangan usang.

Tahun lalu, di sore seperti ini mungkin saya baru pulang kuliah dengan hati riang. Atau malah sedang sibuk menghabiskan waktu di café untuk menunggu malam datang. Tak jarang, saya akan mengisi petang dengan menari hingga hati, tubuh dan jiwa beroleh tenang.

Namun, sekarang semua berubah. Saat petang menjelang, saya baru tersadar dari tidur panjang. Bukan karena saya lari dari terang, namun karena raga terlalu lelah untuk menentang hari yang panjang. Bagaimana tidak, saya baru pulang saat pagi datang, saat para ibu sibuk memasak sarapan, saat para bapak sibuk berkemas dan berdandan, saat para anak bersiap untuk pergi ke sekolahan.

Kata orang, pekerjaan yang saya lakukan bukan pekerjaan halal. Bukan pekerjaan terhormat yang berkantong tebal. Bukan pekerjaan bergengsi yang bisa membeli mobil mahal. Tapi saya tidak perduli, selama saya masih bisa berusaha sendiri saya tidak akan berhenti.

Tahu apa mereka tentang halal dan haram, sementara mereka sibuk memakai uang yang bukan milik mereka. Tahu apa mereka tentang pekerjaan terhormat, kalau bahkan seorang presiden, menteri atau bahkan anggota dewan yang katanya terhormat tidak pernah berhenti mencela atas musibah yang menimpa. Tahu apa mereka dengan mobil mahal kalau hanya untuk menyombongkan kekayaan.

Saya tidak menggugat, saya hanya mengingat, bagaimana saya harus bertahan sendiri dengan penat dan ton-tonan maksiat yang selama ini mengikat. Sejak rumah dibakar oleh segerombolon pria berjubah putih pekat. Sejak ayah dan ibu saya disikat dengan pukulan, tendangan dan makian hingga sekarat. Sejak masa depan saya terenggut dengan tidak hormat. Sekarang hanya ada luka. Sekarang hanya ada pahit, sekarang hanya ada sakit.

Hanya karena restoran keluarga kami buka di siang bolong beberapa minggu sebelum hari raya, sekelompok orang yang meneriakkan Tuhan menyerang. Membumi hanguskan setiap sekat yang ada di restoran kami. Mengambil nyawa ayah dan ibu yang sudah sekarat. Meninggalkan saya terkapar dalam diam yang melumat.

Saya tidak membenci terang, saya hanya lebih nyaman dalam gelap malam yang membentang.

Sejak siang itu, semua berubah. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka memanggil saya wanita jalang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka terpesona melihat saya menari telanjang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya saya memuaskan imajinasi mereka demi segepok uang.

Ada satu masa, saat menari menjadi salah satu menu makan siang. Kini, menari menjadi obat tenang yang membuat saya melupakan semua kenangan yang menyakitkan. Menari membuat saya terbebas dari kekangan dendam yang tak kunjung hilang. Menari membuat saya kembali ke masa silam saat menari menjadi salah satu menu makan siang.

Ya, hanya dengan menari saya masih bisa bertahan hidup. Pelan-pelan saya matikan sisa puntung rokok pada asbak yang mulai penuh. Pelan-pelan saya ambil handuk untuk membilas badan yang basah oleh peluh. Pelan-pelan saya beranjak ke kamar mandi untuk kembali menjadi utuh. Pelan-pelan saya berdandan untuk siap menari dalam malam yang disinari bulan purnama penuh. Pelan-pelan saya meninggalkan kamar sewaan dan menuju tempat mencari nafkah.

Dragon Fly Nightclubs

I Called it Heartbeat

Standard
Do it right now

Do it right now

After long time stucked in flat relationship, this month is another 5 months-single-of-me. There are a lot interesting happening in my life recently. Just like what i said before in my post, now i working in Jakarta as Sosial Media of fashion website. Thank God i get such as interesting job. Besides job, i also having relationship where i called it heartbeat. curious aren’t you?

Lemme explain, as the time goes i realize that in the past i get hurt when i am in a relationship because i have such as hope and expectation to get loved back. Yes, it sound normal when you love someone and you want them love you back. However, you may not realize this kind of thought will make you much more easier getting hurted. I mean, hey who want to be ignore by someone they loved? But yes, you have to lower you expectation if you do not want to dissapoint.

Why i said that, because i am experiencing this kind of situation. Have you imagine that you even meet with someone that connected with you in almost of your thought, habit and point of view? If you have that kind of person, never let them go. I mean, you can not force person to stay in your life, but you can make them willing to stay because they want it. If you ask how? There is very easy way. The thing that you can do is follow your heart, throw you ego and never make any expectation. These all not easy, but once you can do it you will enjoy every little details that you spend with them. No matter what risk that waiting of you later on.

Honestly, in my life before, I never let somebody get too far into my life because i am afraid to get hurt. However, lately i realize that what i did just wrong. As your expectation get higher, you will be easier to feel disappointed with the reality. I believe when you brave enough to fall in love, you have to brave enough to face all the worst chance. Because fall is never be easy, because fall is always make you get hurt.

I am trying to convince myself that when i am starting to like someone, the best thing to do is shows it no matter how hurt it will. My beloved lecture, Bu Neny once said to me, “Enjoy while it happening.” This simple sentence make me realize that all the thing that i can do is enjoying the time, so there will be no regret when it ends. Believe me, what that truly yours will be yours no matter what and what is not yours never be yours no matter how hard you try to get it.

This remain me to old sentence, “If loving you was wrong, i do not wanna be right”, Yes, i meant it, even i will shared the tears i will stop fighting of in sof way, showing what actually i feel, as long as i can stand. So, if you ever feel like liking someone, just never stop, never expect he/she will like you back until you really tired of trying. If there’s still a reason to stay, just stay because when she/he meant to be yours, they will be.

This time, i still learning to prove my sentence. Of course its not easy, of course it sound silly but at least i am trying and standing for what i believe. We never know what the future brings because life is always bring surprises, but we always can pretending that there no reason to knock down ourselves.

Old Javanese people once said, there always good side in every bad side. Yes, i agree with that because i there always be a lesson behind something bad that happened in my life. Well, the night getting old, the conversation getting heavy and the feeling getting strong. That’s why i called it heartbeat.