Category Archives: cerita pendek

Cerita Intan

Standard

Intan merapikan lagi kamarnya yang sebenernya sudah rapi. Seharian ini, sudah tiga kali Intan menata ulang interior kamarnya yang tidak seberapa luas. Setiap pojokan di kamarnya ia bersihkan lagi, takut kalau ada barang Dirga yang tercecer.

Dirga, nama yang selama dua tahun ini mengisi relung hati Intan. Dengan senyuman bahagia, dengan gelak tawa yang terbahak-bahak, dengan jerit kemarahan yang membahana dan dengan tangis histeris saat pria itu berlalu. Dua tahun mereka hidup bersama-sama. Namun episode kehadiran Intan pada jalan hidup Dirga sepertinya sudah berakhir.

Semua ketidak cocokan berawal dari hal-hal sepele yang sebenarnya wajar terjadi. Ditambah dengan kejadian saat Dirga membaca pembicaraan antara Intan dengan mantan kekasihnya. Semua menjadi-jadi. Emosi menguasai hati, kata-kata saling memaki, dan cinta sudah tidak ada lagi.

Dirga berlalu. Meninggalkan luka yang teramat dalam di hati Intan. Memang tidak semuanya salah Dirga, tapi Intan sudah terlalu lelah dengan semua pertengkaran yang mereka hadari setiap hari. Intan lelah, Dirga muak, cinta sudah tidak bersisa lagi.

________________

Sambil membereskan file-file foto mereka berdua, lamunan Intan kembali melayang ke bulan-bulan awal mereka menjalin kasih. Cinta yang awalnya tidak direncakan, ternyata menjadi sangat manis dan memabukan. Intan terbawa dalam pesona Dirga yang luar biasa. Senyumnya yang khas, perhatiannya yang meluluhkan hati dan obrolannya yang membuat mereka lupa waktu. Intan tergila-gila.

Seorang Intan yang awalnya sangat membenci pernikahan, bahkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah, mulai terbersit keinginan ingin menikah. Intan ingin menghabiskan hari tua dengan Dirga, menjalani setiap tawa dan canda dengan Dirga dan melewati semua masalah yang tak biasa dengan Dirga.

Pernikahan impian pun sudah terbersit. Dengan alkohol yang memabukan, Intan percaya dia dan Dirga akan bahagia.

Namun sepertinya tidak ada pesta yang tak usai. Perbedaan mulai memisahkan mereka, pertengkaran mulai memenuhi hari-hari mereka lalu semua kebiasaan-kebiasaan sepele yang tadinya masih bisa diterima, menjadi alasan untuk beradu mulut.

Intan lelah, Dirga muak.

Lalu mereka berpisah.

__________________

Suara ketukan di pintu menyadarkan Intan dari lamunan panjangnya. Tanpa ada niatan membuka pintu, Intan kembali termenung. “Ah, pernikahan memang bukan tercipta untuk saya rasakan.” Pelan-pelan kesadarannya kembali.

Babak hidupnya selama dua tahun ke belakang mengajarkan banyak hal. Mungkin Intan memang bukan wanita yang bisa diatur begitu saja. Mungkin Intan terlalu susah untuk diarahkan. Intan terlalu liar untuk ditundukan. Intan terlalu bebas untuk dikekang.

Setetes air mata mengalir membasahi pipi Intan. Sudah dua hari ini Intan tidak keluar kamar. Sudah dua hari ini air mata tidak berhenti membasahi matanya. Sudah dua hari ini berpuluh-puluh batang rokok dihisapnya. Sudah dua hari ini kekosongan menguasai dirinya.

Intan sengaja mematikan semua ponselnya. Dia sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Tidak ingin bertemu siapapun. Dirga sekalipun.

Intan tahu, bukan salah Dirga kalau dia meninggalkannya. Bukan salah Dirga kalau akhirnya dia lelah bertahan. Bukan salah Dirga kalau dia tak sanggup menghadapi tabiat Intan. Ini semua mungkin memang sudah jalannya.

Ah betapa Intan merindukan beer, betapa Intan merindukan pantai.

__________________________

Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar semakin keras. Tak tahan, akhirnya Intan buka juga pintu kamar yang sudah dua hari ini membentenginya dari dunia. Dari Dirga. Dilihatnya wajah-wajah khawatir para sahabatnya yang kemudian berebutan memeluknya. Menghiburnya dengan kata-kata manis. Menguatkannya untuk melepaskan Dirga dari ingatnnya.

Tapi Intan tidak butuh semua itu. Intan hanya mau sendiri. Dalam kegelapan. Bersama beer, rokok dan semua kenangan tentang Dirga.

Intan meronta, Intan berusaha melepaskan diri dari pelukan para sahabatnya. Semua kesakitan yang dia pendam selama ini keluar.

“Gue capek sama semua iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”

“Gue pengeeeen matiiiiiiiiiiiiiiiiii”

“Kalian semua kaya taiiiiiiiiiiiiiiii”

Setelah puas memaki, Intan memandangi wajah bingung sahabat-sahabatnya. Dibantinglah keras-keras pintu kamar Intan sebelum mereka sempat berkata apapun.

Intan mulai meledak. Intan mulai memaki. Intan mulai menghancurkan semua barang yang ada di depan matanya. Buku-buku, piring-piring, laptop, isi lemari dan yang terakhir dirobeknya foto Dirga yang yang sedang memeluknya sambil tersenyum manis!

“Gue capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!”

“Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing”

“Babiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik”

Intan semakin kalap. Gedoran-gedoran dari pintu semakin keras. Lalu semua semakin gelap.

______________________

Intan terbangun di ruangan yang serba putih. Samar-samar dilihatnya ada banyak orang yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Pelan-pelan ia mulai mengenali siapa saja yang ada disekelilingnya. Ada papa, mama, Bila, Riana dan …… Dirga!

Ah nyeri di relung hati Intan datang lagi! Tiba-tiba semua kenangan mereka, dari pertama bertemu, pertama berkencan, pertama berciuman, pertama berbagi badan, pertama bertengkar, pertama berbaikan dan pertama-pertama yang lain mulai menguasai hatinya. Menguasai otaknya.

Tanpa sadar Intan histeris lagi. Ia mulai berteriak-teriak. Semua mundur dari tempat tidurnya, kecuali Dirga. Pria itu malah semakin mendekat. Memeluknya sambil mengucapkan kata cinta. Intan sudah terlalu gila!

Semakin kencang Dirga memeluknya, semakin kuat Intan meronta. Semakin manis Dirga membisikan kata cinta, semakin keras Intan meneriakkan kekecewaannya. Semakin deras air mata yang membahasahi pipinya.

Papa mamanya sudah keluar dari ruangan untuk berbincang dengan dokter. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama ada 4 orang suster yang datang.

Pelan-pelan Dirga mengecup dahinya yang sudah basah oleh keringat

“Baik-baik ya sayang di sini… Cepet sembuh.”

Intan semakin histeris. Keempat suster tadi dengan tanggap dan cepat segera memegangi tangan Intan. Jeritan histeris Intan menggema di selasar Rumah Sakit Jiwa itu.

Jakarta

12 Mei 2015

Kamu Dalam Sebotol Bir

Standard

Kamu dalam sebotol bir. Menggoda untuk ada. Dalam buih yang memilih untuk hadir. Memaksa untuk terlihat mata. Dalam segelas penuh airmata. Candumu sedikit demi sedikit meminta untuk larut dalam darah yang awalnya menolak.

Kamu dalam sebotol bir. Menciptakan tawa yang tak bisa menjadi nyata. Menghadirkan cinta yang seharusnya tak ada. Membuat saya memikirkan sebuah kita yang hanya sekedar bersama bukan untuk selamanya.

Kamu dalam sebotol bir. Berwarna keruh seperti kuning yang bukan kuning. Seperti putih yang hanya sebentar putih. Membawa buih yang tak selamanya menjadi buih. Untuk nyata yang sebenarnya tidak nyata.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir mengisi kebosanan saat jemu mulai mengisi kalbu. Hadir mengisi perih saat hati mulai pulih dari rasa sakit yang merintih. Hadir mengisi diri yang mulai terbiasa sendiri melupakan kata cinta yang dulu menghantui .

Kamu dalam sebotol bir. Menyesap dalam setiap sesapan yang nikmat. Senikmat rasa getir yang mulai bercampur dengan getar yang berbeda. Berbeda menghadirkan irama yang melagukan getar saat melalui ujung lidah yang mulai terbiasa merasakan kehadirannya.

Kamu dalam sebotol bir. Menggambarkan kenangan yang tak sama pada setiap gelasnya. Melarutkan setiap kata yang tertahan dalam lidah untuk sementara. Menciptakan sensasi yang berbeda-beda pada orang yang menikmatinya. Sensasi yang kadang diluar logika yang dianggap sempurna. Sensasi yang melewati batas wajar yang tak langsung ditetapkan. Sensasi yang mungkin akan terulang setiap malam.

Kamu dalam sebotol bir. Memperkenalkan rasa baru yang tak ada duanya. Tidak sekuat Countrue ataupun Tequila yang menyegat. Tidak sepekat Jack Daniel dan Red Label yang banyak penggemarnya. Tidak menghadirkan mabuk yang tak nyata saat penikmatnya ingin lari dari kenyataan yang meminta dilupakan.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak membutuhkan pitcher yang berukuran giga untuk seterusnya. Tidak memaksa sloki untuk selalu menjadi tempat yang sempurna. Tidak meminta malam untuk menjadi teman meminumnya. Namun kamu selalu siap menemani setiap rindu yang menggigit walau tak bisa dipingit. Namun kamu selalu siap untuk menyembuhkan sebuah luka lama yang memaksa untuk diingat.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak memandang rupa  penikmatnya. Tidak memilih siapa yang boleh meneguknya. Tidak mengharuskan syarat umur untuk mencoba rasa yang terkandung dalam setiap tempatnya.

Kamu dalam sebotol bir. Bisa diminum didepan CK. Boleh dicoba saat menghabiskan tiap detik di kursi Sevel. Di cafe. Di bar. Di club malam. Di karaokean. Di dalam kamar sempit. Di atas meja kerja. Di dalam mobil tua. Di hati saya. Dimana saja.

Kamu dalam sebotol bir. Memaksa saya untuk selalu ada gelas selanjutnya. Memaksa saya untuk menikmati lebih banyak lagi cairannya. Memaksa saya untuk larut dalam setiap buih yang sibuk tercipta didalamnya.

Kamu dalam sebotol bir. Selalu siap dinikmati tanpa bisa dimiliki selamanya. Selalu tergoda untuk dicobai oleh anak yang beranjak dewasa. Selalu hadir untuk meramaikan obrolan dua orang teman lama yang tidak akan selamanya. Selalu menyimpan sebuah kisah yang mungkin terlalu menyenangkan untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disimpan.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir meninggalkan bekas luka yang tak mudah menghilang.  Hadir untuk kebahagiaan yang mungkin hanya semu belaka. Hadir melengkapi setiap kebosanan akan sebuah kisah lama yang belum terlihat akhirnya.

Kamu dalam sebotol bir. Tak dapat ditolak pesonanya. Pesona yang menyimpan racun manis yang kadang bisa mematikan. Pesona yang mewarnai sebuah gelas yang menjadi perantara mulut yang mempunyai sejuta makna. Pesona yang membawa saya pada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada menjadi nyata. Pesona yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata penyair jalanan di pinggiran kota. Pesona yang mungkin punya arti yang berbeda bagi saya dan orang lainnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menjadi teman saya menghabiskan malam bersama berbatang-batang rokok yang hancur terbakar bersama kenangan yang mulai memudar. Abu yang menjadi saksi kesakitan yang terlalu merasuk didalam sisi hati yang semakin beku.

Kamu dalam sebotol bir. Menghidupkan lagi hati yang sudah lama dibiarkan mati. Mengajarkan lagi rasa sakit yang selama ini berhenti terakit. Melupakan semua logika yang selama ini selalu dipaksa untuk ada. Menghancurkan lagi setiap inci benteng hati yang perlu banyak waktu untuk membangunnya. Mengisi lagi setiap sudut di hati dengan berbagai rasa yang membuncah, berbagai warna yang meriah. Berbagai luka yang mengiris setiap sendi dari raga ini.

Kamu dalam sebotol bir. Membawa saya pada sebuah kisah saat pertama kali saya mengenangmu bukan sebagai kamu yang hanya kamu. Membawa saya mengenangmu sebagai sebuah kisah yang tak ada akhirnya. Karena kita tak pernah punya awal yang sempurna. Dan kita juga tak punya akhir yang membuat tawa berganti air mata. Saat cinta tak lagi ada. Saat nafsu mulai menemukan sadarnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menemani saya mengarungi lautan kata. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara dan mungkin kini sudah tidak meninggalkan sisa kenangan tentang saya.

Kamu dalam sebotol bir. Hanya meninggalkan sebuah botol sisa yang sudah tak lagi ada isinya. Hanya memberikan bukti kalau bir ini memang pernah hadir dan melengkapi penikmatinya melalui waktu yang kelu. Hanya menjadi sebuah prasasti tentang semua rasa yang sempat hadir bermunculan saat semua masih ada memenuhi gelas ini. Seperti kamu yang tinggal hadir dalam sebuah ingatan yang mereka sebut dengan kenangan. Seperti kamu yang masih ada didepan saya namun sudah tidak dapat saya jangkau lagi seperti waktu itu. Seperti kamu yang mengajarkan saya untuk mengenal rasa sempurna pada kisah asmara kita yang melengkapi setiap hela nafas yang tercipta. Seperti kamu yang berlalu meninggalkan luka yang masih menganga, merah dan perih tanpa bisa dialihkan pada sisi hati yang masih mengharapkan lebih.

Kamu dalam sebotol bir. Nyata. Namun bukan hanya milik saya. Selamanya.

Hari Ini Bapak Tidak Pulang

Standard

 

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini sudah seminggu bapak tidak pulang. Rumah kami yang biasanya penuh dengan tawa mulai beranjak sunyi. Ibu sibuk menangisi bapak di dalam kamar. Saya sibuk melihat ibu menangisi bapak di dalam kamar.

Sebenarnya bukan seminggu ini saja bapak tidak pulang. Dalam sebulan, hanya dua minggu bapak pulang ke rumah kami. Seharusnya ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini, toh hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Namun, sayangnya ibu bukan wanita berhati tegar seperti saya. Setiap bapak tidak pulang, maka ibu akan meratapi kepergian bapak dengan tangis dan sedu sedan tidak berkesudahan di dalam kamar. Sepanjang hari. Sampai bapak pulang.

Kadang saya kesal dengan bapak yang jarang pulang. Kadang saya ingin memaki bapak karena jarang pulang. Kadang saya menggambari foto bapak pada saat bapak jarang pulang. Kadang juga saya merindukan bapak saat bapak jarang pulang. Tetapi saya tidak pernah menangisi bapak sepanjang hari seperti ibu yang menangisi bapak sepanjang hari saat bapak jarang pulang.

Tak jarang saya juga kesal dengan ibu. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari sehingga membuat saya keparan karenan ibu lupa memasak. Sehingga membuat saya kesepian karena tidak ada teman bercerita sepulang sekolah. Sehingga membuat saya keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena tidak ada ibu yang membantu saya jika kesulitan menghitung kuadrat.

Namun, saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan dimana saya harus memasak mie instant atau menggoreng telur dadar sendirian saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya sudah terbiasa bermain sendiri dengan bonekaBarbie untuk meceritakan pengalaman saya memukul hidung seorang teman sekelas saya yang memanggil saya setan betina, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya juga sudah terbiasa mengerjakan sendiri PR matematika dari sekolah, mengarang indah setiap hitungan kuadrat yang tidak dapat saya selesaikan, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan.

**********

Biasanya, kalau bapak pulang saya akan berdiri menyambut di teras depan. Ibu akan berdandan dan memakai baju berenda dari kain katun. Biasanya, kalau bapak pulang saya akan mendapat sebungkus martabak telur yang gurih untuk lauk makan malam. Ibu akan tersenyum riang menyambut bapak dalam pelukan. Hangat dan lama.

Saya sangat senang kalau bapak pulang. Rumah kami akan semarak dengan tawa dan cekikikan. Tak ada lagi ibu yang mengurung diri dikamar untuk menangisi bapak. Ibu akan tertawa bahagia dengan seamplop uang yang tebal pemberian bapak. Saya akan berdendang ceria dengan sebuah baju baru yang bercorak kembang-kembang. Saya senang. Ibu senang. Kami berdua senang.

Saat bapak pulang, saya tidak akan kelaparan sampai harus memasak sendiri mie instantdan terl dadar karena ibu sudah memasak berbagai lauk seperti ayam dan ikan goreng dengan sambal yang membuat ketagihan. Saat bapak pulang, saya tidak akan kesepian sampai harus bercerita pada boneka Barbie tentang pengalaman di sekolah, karena ibu dan bapak akan duduk tenang sambil mendengarkan cerita saya menjawab dengan benar pertanyaan ibu guru. Saat bapak pulang, saya tidak akan keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena ibu dan bapak dengan senang hati akan mengajari saya rumus kuadrat sehingga saya akan menjawab tugas yang diberikan dengan benar. Saya senang. Ibu senang. Bapak senang.

Saat bapak sedang dirumah, saya akan cepat pulang sekolah agar bisa berjalan-jalan sore mengitari komplek rumah dengan bapak saat ibu sibuk memasak menu makan malam kami yang lezat. Saya senang berjalan-jalan mengitari komplek rumah dengan bapak, karena bapak selalu bercerita kepada saya tentang kancil yang mencuri ketimun, tentang asal mula gunung Tangkuban Perahu, tentang perang sebelum jaman kemerdekaan, tentang apa saja yang menambah pengetahuan saya.

**************

Sayangnya, hanya dua minggu bapak pulang. Setelah dua minggu, bapak akan pergi lagi dengan mobil sedan yang berwarna kecoklatan. Meninggalkan saya dan ibu yang mengantar sampai pelataran. Setelah mobil bapak menghilang di tikungan, maka ibu akan memeluk saya sambil menahan tangis yang terlihat jelas. Bila sudah tidak kuat, maka ibu akan berlari menuju kamar sambil mengeluarkan isakan.

Biasanya, kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar menonton TV sampai bosan. Kalau saya sudah kelaparan maka saya akan kembali ke rutinitas saya sebelumnya, memasak mie instan dan menggoreng telur dadar.

Sering saya bilang pada ibu ingin menelepon bapak saat bapak tidak pulang. Tapi yang terjadi isakan ibu menjadi semakin keras, bahkan dia juga meneriaki saya untuk keluar kamar dan jangan mengganggunya. Kalau sudah begitu, saya memilih bermain dengan boneka Barbie sambil menceritakan keluh kesah saya pada barang mati pemberian bapak itu.

Dan kalau hari sudah semakin malam, maka ibu akan keluar dari kamarnya dengan mata merah yang bengkak karena terlalu banyak menangis untuk menyuruh saya mandi air hangat. Setelah mandi, biasanya ibu menyuruh saya belajar sendiri dan mengerjakan PR untuk besok. Kalau saya kesulitan mengerjakan, saya tidak akan bertanya pada ibu. Saya memilih mengacak angka-angka yang tersedia untuk dituliskan asal-asalan dibuku pelajaran saya. Ibu terlalu sibuk untuk bersedu sedan di dalam kamarnya.

**********

Hari ini bapak tidak pulang. Hari ini pula sudah seminggu bapak tidak pulang. Itu berarti sudah seminggu pula ibu sibuk menghabiskan hari dengan tangisan di dalam kamar. Itu berarti seminggu lagi bapak akan pulang. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus makan mie instant dan menggoreng telur sendiri untuk makan. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus bercerita pada boneka Barbie tentang perasaan saya. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus mengarang angka-angka untuk menjawab PR matematika saya.

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini bapak tidak pulang karena harus pulang kerumah istri pertamanya di kota sebelah.

Kerinduan Dalam Sebuah Rumah

Standard

Walaupun jam dinding sudah berdentang sebanyak 10 kali malam ini, tetapi rumah saya tetap sepi. Ayah dan ibu sepertinya tetap belum pulang dari kantor mereka masing-masing. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah yang sudah merawat saya sejak berusia 3 tahun.

 

Sejak saya masuk TK, mbok Inah adalah orang yang selalu hadir buat saya. Mulai menyediakan makanan dan bekal, membantu saya mengerjakan PR, menemani saya bermain dengan Barbie dan rumah-rumahnya yang baru. Mengajari saya naik sepeda roda dua yang dihadiahkan ayah dulu.

 

Bahkan, saat saya mulai beranjak dewasa, mbok Inahlah yang mendengarkan cerita saya tentang pacar-pacar saya. Tentang ciuman di belakang sekolah. Tentang malam mingguan di bioskop yang gelap. Tentang menampar pacar yang ketahuan meniduri teman. Tentang tangisan merindukan pelukan ibu. Tentang segala sesuatu yang pernah saya alami.

 

Tidak, saya tidak menyalahkan ayah dan ibu saya yang terlampau sibuk bekerja. Tanpa mereka saya tidak akan menikmati rumah dengan dua lantai yang megah. Tanpa mereka saya tidak akan mempunyai gadget yang canggih dan mahal. Tanpa mereka saya tidak akan mengendarai sebuah mobil mewah yang membuat iri teman-teman saya. Tanpa mereka saya tidak akan mempunyai uang saku yang berlimpah. Tanpa mereka saya tidak akan menghabiskan waktu bersama mbok Inah di rumah.

 

Kadang, saya merindukan keberadaan mereka. Ayah dan ibu. Mereka selalu berangkat sebelum saya sempat terbangun di pagi hari. Mungkin memang salah saya yang tidak bisa bangun pagi. Mereka selalu pulang di malam atau sore hari, saat saya sedang bermain mengarungi jalanan ibu kota dengan mobil yang mereka beri. Dan akhirnya, saat saya pulang, mereka sudah bergumul dengan mimpi. Apa iya saya akan menganggu mereka yang sedang terlelap dalam lelah setelah seharian bekerja keras?

 

********

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Suami dan anak saya pasti masih keluyuran di jalan. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah. Pembantu yang sudah mengikuti saya selama lebih dari 17 tahun.

 

Sejak sebelum menikah, saya memang sudah bekerja menjadi Senior Copy Writer di sebuah perusahaan Internasional yang memberikan saya gaji lumayan besar. Gaji yang membuat hari-hari saya habis di kantor. Gaji yang membuat saya tertahan dengan berbagai dokumen tebal. Gaji yang membuat saya tidak sempat lagi memasak untuk anak dan suami saya. Gaji yang menjauhkan saya dengan dunia rumah tangga yang kompleks.

 

Bahkan, saat saya mendapatkan promosi dari kantor, kegiatan saya semakin menggila. Dari subuh saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, saya sudah berkelana di jalan meninggal suami yang masih lelap dan anak yang belum tersadar dari mimpinya. Saya jarang melihat sinar matahari karena saat pulang, hari pasti sudah malam, paling cepat semburat sore sudah mengembang.

 

Semua itu demi sebuah keluarga yang berkecukupan. Semua itu itu demi rumah megah dengan dua lantai. Semua itu demi memberikan fasilitas yang maksimal untuk anak saya. Semua itu demi sebuah mobil mewah yang siap melindungi anak saya dari panas dan hujan, dari copet yang nakal dan dari jalanan yang kejam.

 

Jika saya tidak bekerja, bagaimana anak saya bisa menikmati materi yang berkecukupan itu kalau suami saya hanya menjadi bawahan manager di sebuah perusahaan kecil yang tidak berkembang. Dengan gaji yang pas-pasan untuk hidup, saya tentu tidak ingin keluarga saya juga hidup pas-pasan.

 

Kadang saya merindukan keberadaan anak dan suami saya. Anak semata wayang yang selalu menjadi penyemangat saat lelah dan menemukan kebuntuan dalam bekerja. Anak semata wayang yang selalu menjadi motivasi untuk mengambil keputusan-keputusan besar. Oiya, saya juga merindukan suami yang walaupun hanya kerja pas-pasan tetap saja saya cintai. Walaupun diam-diam. Suami yang sudah lama tidak memberikan kehangatan dan kasih sayang. Suami yang terlalu khawatir dengan karir saya yang menjulang. Tapi, saat saya bisa pulang lebih awal, kenapa mereka belum pulang?

 

************

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Istri dan anak saya pasti belum sampai di rumah. Di rumah berlantai dua ini saya hanya berdua saja dengan mbok Inah. Pembantu yang sudah mengikuti saya selama lebih dari 17 tahun.

 

Sejak 10 tahun belakangan ini, saya memang selalu tidur di kamar tamu untuk menghindari istri saya yang dulu saya banggakan. saya memutuskan untuk tidak tidur di dalam kamar itu, karena biasanya istri saya baru pulang dini hari untuk kemudian pergi lagi. Kamar itu terlalu sesak dengan kenangan yang sudah banyak teruntai. Saya tidak sanggup lagi untuk hidup di dalam kenangan yang terlalu manis sendirian.

 

Bagaimana saya tidak bangga dengan istri saya, dia adalah copy writer di sebuah perusahaan asing yang mampu menggajinya dengan 10 kali dari gaji saya. Bagaimana tidak bangga dengan istri saya, dia adalah penyandang dana yang membangun istana megah kami yang berlantai dua. Bagaimana saya tidak bangga dengan istri saya, dia yang menghadiahi saya dan anak kami mobil mewah keluaran terbaru, masing-masing satu.

 

Sadangkan saya. Saya hanyalah pegawai swasta disebuah perusahaan yang tidak berkembang. Saya terlalu takut untuk keluar dari kenyamanan yang diberikan oleh kantor saya walaupun dengan gaji yang tergolong kecil. Lama kelamaan saya menjadi minder, saat istri saya masih sibuk mengejar rupiah, saya hanya sibuk di kantor untuk browsing berita basi. Saat pagi buta istri saya sudah berangkat bekerja, saya masih sibuk menikmati hangatnya selimut mahal yang dibeli istri saya.

 

Bukan saya tidak mau lebih maju. Tapi sekarang sudah terlalu terlambat untuk mengejar karir istri yang yang meroket. Lebih baik saya bersembunyi dalam kamar tamu yang nyaman. Biarlah anak dan istri saya mengira saya masih sibuk lembur di kantor.

 

Kadang saya merindukan keberadaan istri dan anak saya. Istri yang begitu saya kagumi kepandaiannya. Istri yang saya hormati ketegasannya. Istri yang saya benci karena kemampuannya yang melebihi kemampuan saya. Dan anak, anak semata wayang yang saya sayangi. Anak semata wayang yang selalu memuja saya karena dikiranya saya seperti ibunya. Anak semata wayang yang kadang enggan saya temui agar dia tidak tahu apa pekerjaan ayahnya sebenarnya.

 

***************

 

 

 

 

Walaupun jam dinding sudah bedentang 10 kali malam ini, tetapi rumah saya masih tetap sepi. Padahal bapak ibu dan mbak Intan ada di kamarnya masing-masing. Di rumah yang berlantai dua ini semua penghuninya sibuk dengan dunianya masing-masing.

 

Sore ini, ibu tumben pulang cepat. Biasanya, ibu baru pulang kalau jam sudah berdentang 12 kali. Itupun besok subuhnya sudah berangkat lagi. Ibu memang pekerja keras. Sejak 17 tahun lalu saya bekerja di rumah ini, ibulah yang membiayai semua pengeluaran keluarga. Mulai dari membangun rumah, membeli mobil sampai membayar semua tetek bengek urusan rumah tangga, semua keluar dari dompet ibu.

 

Mungkin itulah yang membuat harga diri bapak seperti terinjak-injak. Mungkin itulah yang membuat bapak memilih untuk selalu mengunci diri di kamar tamu sepulang dari kantor. Mungkin itulah yang membuat bapak tidak cukup percaya diri untuk menemani ibu di kamar utama.

 

Kasihan mbak Intan. Sejak kecil mbak Intan tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya kecuali melalui kiriman dan titipan uang dan barang-barang mahal yang belum tentu bisa saya beli.

 

Kadang saya merindukan keberadaan bapak, ibu dan mbak Intan yang berada di dalam satu ruangan. Bukan di kamar masing-masing seperti ini. Bukan dalam kebersamaan yang sendiri-sendiri seperti ini. Bukan dalam kebisuan yang verbal seperti ini.

 

Tapi saya punya hak apa untuk menasehati mereka. Saya hanya mbok Inah yang baru bekerja 17 tahun di rumah ini.

Dongeng yang penuh kebohongan

Standard

 

Ruangan kelas saya sama dinginnya dengan kutub utara. Saya merasa berinkarnasi menjadi penguin. Walau saya tidak percaya kalau reinkarnasi itu ada. Saya dan raga saya memang ada disini, didalam kelas Religion, tetapi mereka semua juga tahu kalu otak dan pikiran saya tidak ada disini. Mereka semua tahu tetapi mereka semua juga tidak ada yang perduli dengan kehadiran dan keberadaan saya. saya pun tidak mau repot-repot mencolok mata mereka agar menyadari keberadaan saya.

Samar-samar saya dengar dosen saya sedang membicarakan tentang berbagai macam penyimpangan yang dilakukan oleh banyak orang pada masa kini. Dari suaranya saya menangkap nada menghakimi yang amat sangat. Dengan berapi-api bapak itu menjelaskan perbedaan kelakuan manusia pada jamannya dan pada tahun-tahun ini.

Pelan saya buka mata saya mencoba melihat reaksi teman-teman saya. Saya bertaruh pada diri saya sendiri kalau mereka akan mengangguk-anguk setuju seperti pajangan porselen china, kalau saya salah saya berjanji saya tidak akan merokok dua hari kedepan. Mata saya sudah benar-benar terbuka, ketika saya melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Pemandangan yang bahkan lebih daripada taruhan saya. Teman-teman sekelas saya tidak hanya mengangguk-angguk tanda setuju, tetapi semua mata secara langsung maupun tidak langsung memandang kearah saya. Saya hanya bisa membalas pandangan mata mereka dengan senyum termanis yang pernah saya punya. Senyum yang biasanya saya sunggingkan saat melihat rekening saya bertambah jumlahnya. Senyum yang membuat semua yang tadi memandang saya membuang muka dengan sangat dramatis.

Kadang saya masih sangat bingung dengan syarat-syarat untuk hidup dan bisa diterima didunia ini. Kadang saya masih sangat rancu dengan syarat-syarat untuk menjadi orang baik didunia ini. Semuanya terasa begitu abstrak. Semuanya terasa begitu semu. Semuanya begitu tidak masuk di akal.

Sejak kecil, saya sudah dijejali dengan dongeng-dongeng yang penuh dengan kebohongan. Sebut saya putri salju, Cinderella, beauty and the beast danalicein wonderland. Itu baru dongeng importnya. Belum dongeng lokalnya seperti bawang merah bawang putih, jaka tarub atau timun mas. Semuanya mempunyai satu inti yang menyesatkan. Semuanya tidak ada yang masuk akal.

Saya beberkan kebohongan yang terkandung pada dongeng yang menjadi inspirasi banyak orang itu.

Pertama. Saya yakin semua orang tahu isi dongeng klasik cinderella maupun cerita bawang merah-bawang putih. Intinya mereka adalah anak tiri yang disia-siakan dan dipekerjakan sebagai pembantu oleh ibu dan saudara tirinya setelah sang ayah yang kaya raya meninggal. Mereka digambarkan sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan menarik. Bahkan jauh lebih cantik daripada saudara tirinya yang dimanja oleh ibu tirinya, ini dia kebohongan pertamanya. Bagaimana mungkin orang yang selalu ditindas dan dijadikan pembantu bisa menjadi lebih cantik dan menarik dari pada anak yang disayang dan selalu bersolek. Mungkin memang benar kedua tokoh dongeng itu memang dilahirkan sebagai gadis cantik, tetapi bila kecantikan itu tidak dirawat atau malah diabaikan karena banyaknya kesibukan pada pekerjaan rumahnya saya berani bertaruh kalau kecantikannya akan tenggelam dalam keletihan dan ketertekanan jiwa raganya. Bagaimana bisa orang yang sejak pagi hari sudah harus mencuci, memasak, membersihkan rumah dan melayani kakak dan ibu tirinya bisa kelihatan semenarik gadis yang baru saja keluar dari salon kecantikan. Kebohongan yang membuat gadis-gadis tidak beruntung lainnya bermimpi akan menjadi secantik Cinderella maupun bawang putih saat mereka selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.

Kedua. Semua dongeng itu pasti akan diakhiri dengan pernikahan sang tokoh wanita dengan pangeran tampan yang kaya raya. Menurut saya ini adalah kesalahan yang paling fatal dari kebanyakan dongeng yang masuk otak kita. Coba perhatikan, kebanyakan dari dongeng yang ada selalu menjadikan pangeran sebagai pusat sentral dari kebahagiaan sang tokoh. Seakan sang pangeran adalah perubah nasib yang tadinya sangat buruk menjadi berbalik. Saya mencoba berpikir dengan logika, secantik-cantiknya seorang gadis yang dianggap pembantu, saya yakin seratus persen, tidak akan bisa membuat seorang pangeran tampan yang kaya raya yang sudah terbiasa melihat gadis cantik, akan jatuh cinta pada gadis yang biasa-biasa saja. Bahkan seorang pria yang notabenenya bukan pangeran tampan yang kaya raya pun selalu mencari pasangan yang kecantikannya diatas rata-rata.

Hal ini adalah suatu bukti nyata kalau dongeng-dongeng yang ada hanyalah sebuah ajang untuk menjual mimpi. Lihat saja gadis-gadis disekitar saya, semuanya sama dan seragam. Dari pemikiran tujuhpuluh persen gadis yang saya kenal, selalu mencari calon pasangan yang kaya. Lebih baik lagi berbonus tampan. Hal inilah yang menjadikan para pria terutama yang kaya, akan dengan gampangnya berganti-ganti pasangan. Lihat saja, sudah tidak ada tempat untuk gadis yang biasa-biasa saja tetapi menyenangkan.

Itu baru aspek pemikirannya, belum lagi penampilan. Sejauh mata saya memandang, yang terlihat hanya gadis-gadis dengan rambut panjang lurus terurai, kadang saya sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang lurus dari lahir, mana yang lurus dari salon. Belum lagi ditambah dengan badan yang beratnya sama dengan berat badan anak SD kelas 6. Kaki mereka selalu dibalut dengan celana jeans beraneka warna norak yang pernah ada. Sudah pasti kaki mereka memakai high heels yang bisa membuat orang masuk rumah sakit bila terkena tendangannya. Sama dan seragam itulah gadis jaman sekarang.

Mungkin juga hal itu pulalah yang membuat para pria dengan gampang berganti-ganti pasangan. Toh mereka tetap jalan dengan orang yang sama otak dan penampilannya, hanya beda wajahnya saja.

Lalu sebenarnya apakah syarat menjadi orang baik? Apakah syarat orang baik itu adalah orang-orang yang selalu memakai celana panjang, baju berkerah lengan panjang, selalu rajin beribadah dan selalu menjauhi larangan Tuhan? Saya pernah bahkan sering bertemu orang seperti itu saat dalam biskotayang mengantar saya ke kampus atau bahkan kemana saja tujuan saya. Waktu itu saya pikir mereka adalah orang-orng baik yang bisa saja jadikan panutan, tetapi kemudian ada hal kecil yang langsung menimbulkan pertanyaan pada saya saat itu juga. Hal kecil yang santa biasa terjadi terjadi kalau kita menaiki angkutan umum. Pengamen. Kadang saya memang merasa terganggu dengan kehadirannya, tetapi saya juga bisa memilah-milah pengamen mana yang menganggu. Waktu itu ada seorang anak kecil yang mengamen di bus yang saya tumpangi. Disitu ada bapak-bapak berpeci yang selalu membawa tasbih kemana-mana. Disitu juga ada ibu-ibu berkerudung yang sedang mengobrol dengan teman disebelahnya tentang pengalamannya naik haji tiga kali. Disitu juga ada seorang pemuda berkalung salib besar yang membawa alkitab, mungkin dia baru pulang dari gereja. Saat anak kecil tadi mulai bernyanyi dengan suara dan alat musik yang pas-pasan, saya lihat bapak berpeci itu mulai menertawakannya dan menjadikan si pengamen kecil itu sebagai bahan olokan dengan temannya sesama bapak berpeci. Si ibu yang berkerudung tiba-tiba diam dan berpura-pura tidur pulas. Padahal 5 menit yang lalu dia masih bersuara kencang.sedangkan pemuda berkalung salib itu langsung mengeluarkan handphonenya dan mengobrol asyik dengan seseorang, yang saya tebak tidak pernah ada. Pada intinya mereka tidak ada yang memberikan barang serupiah pun pada si anak kecilmalangtadi. Saat itu juga pertanyaan saya muncul. Apa itu yang disebut orang baik? Mereka yang selalu berkoar-koar tentang berbagi dengan orang yang membutuhkan. Mereka yang selalu mengkapanyekan sikap peduli sesama. Saya memilih untuk tidak menjadi orang baik kalau apa yang saya lihat itu merupakan syarat menjadi orang baik.

Pikiran saya mulai kembali pada tempatnya ketika saya dengar suara dosen muda nan genit itu meneriakan nama saya. Setelah 2 menit saya memasang tampang bodoh, dia mulai tersenyum sambil memperingati saya untuk mengumpulkan tugas saya yang sudah terlambat satu minggu lamanya. Dalam hati saya tertawa, bukannya saya malas untuk mengerjakan tugas itu, tetapi saya merasa bahwa tidak ada gunanya saya mengerjakan tugas itu karena pada akhirnya saya tetap saja akan mendapat nilai E untuk mata kuliah ini. Saya tahu penolakan saya sebulan yang lalu melukai harga dirinya.

Saya selalu siap dengan semua pembalasan atas semua penolakan yang saya lakukan termasuk pembalasan dari dosen muda itu. Toh mungkin kalau saya menjadi dia saya akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih keji lagi.

Saya pikir kelas kami sudah berakhir, ternyata saya salah. Dia kembali berceramah tentang moral. Kali ini saya ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar dia mengatakan bahwa moral yang baik adalah harta yang paling sempurna di dunia ini. Dan yang lebih menggelikan, sekali lagi saya melihat mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandang kearah saya. Kali ini saya tidak mau repot-repot tersenyum.

Kasihan sekali mereka, semakin lama menjadi semakin munafik. Dengan atau tidak sadar mereka sangat tahu kalau uang adalah harta terbesar yang selalu diinginkan. Lihat saja sekarang uang bisa membeli segalanya. Dalam artian harafiah segalanya. Benda, jabatan, pendidikan, harga diri bahkan manusia itupun dapat di beli dengan uang. Semakin banyak kita mempunyai uang semakin bahagia hidup kita. Buat saya bohong sekali dengan ungkapan uang tidak bisa membeli kebahagian. Bayangkan saja semisal kita tidak punya uang. Kita tidak bisa membeli makanan. Kita tidak bisa membeli pakaian. Kita tidak bisa bersekolah. Kita tidak bisa bersenang-senang. Apa iya kita masih tetap bahagia. Kalau saya pribadi dengan tegas saya katakan saya tidak akan bahagia tanpa uang.

Dan dengan jujur saya akui bahwa tubuh saya pun sering terbeli dengan uang. Demi mendapatkan banyak uang saya memang harus menjual tubuh saya. Tetapi toh saya masih punya hak untuk menentukan siapa-siapa saja yang boleh membeli tubuh saya. Siapa-siapa saja yang saya ijinkan menikmati tubuh saya. Dan sayangnya, dosen muda itu tidak termasuk dalam daftar orang yang saya ijinkan. Mungkin karena itu harga dirinya terlukai. Bayangkan saja bagaimana reaksi orang kalau tahu dia, yang selama ini disukai oleh banyak mahasiswi perempuan karena ketampanannya, ditolak oleh seorang pelacur yang direndahkan oleh banyak penggemarnya. Betapa malunya dia.

Tetapi saya punya alasan kuat kenapa saya menolaknya. Saya tahu siapa dia. Saya tahu bagaimana selama ini dia hanya memenfaatkan ketampanannya untuk mendapatkan tubuh gadis-gadis yang memujanya. Bagaimana selama ini dia mematahkan hati banyak gadis yang datang padanya. Memepermainkan mereka sesuka hatinya. Tanpa rasa bersalah. Pernah juga saya dengar dia bilang bahwa sudah sewajarnya dia dikejar seperti itu. Sudah sepantasnya dia mencari yang terbaik bagi dirinya bila memang dia belum menemukan kesempurnaan pada gadis yang dia tiduri. Betapa ingin saya menampar wajahnya dengan sepatu high heels saya.

Saya memang pelacur, tetapi juka saya disuruh memilih menjadi pelacur atau menjadi gadis yang kaanya baik-baik seperti teman-teman sekelas saya ini, saya tetap memilih menjadi pelacur. Paling tidak saya masih lebih kuat dari pada mereka. Paling tidak saya masih dibayar ketika seorang pria menikmati tubuh saya. Paling tidak saya tidak pernah menggunakan hati saya untuk menangisi pria-pria tidak tahu diri seperti dosen saya ini.

Hawa dingin dari Air Conditioner dikelas saya semakin meguarkan dinginnya. Membuat saya semakin merapatkan jaket yang saya kenakan. Saya lirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan saya. Sudah satu setengah jam saya berada dikelas ini. Mendengarkan semua omong kosong tentang moral. Dalam hati, saya berdoa semoga kelas ini cepat berakhir. Saya masih punya banyak janji yang harus dilakukan. Saya masih harus ke salon untuk melakukan perawatan rutin karena nanti malam saya harus menemani salah satu pelanggan saya yang sedang berulang tahun untuk menghabiskan malam disalah satu club termahal dikota ini yang sudah dia sewa untuk melakukan private party. Dan setahu saya, orang yang akan datang nanti malam tidak hanya saya di kelas ini. Saya tahu ada beberapa teman wanita saya yang juga diundang. Bedanya saya dan mereka adalah saya mengakui kalau saya pelacur sedangkan mereka tidak.

Lamunan saya terhenti ketika akhirnya saya dengar dosen muda itu mengakhiri kuliahnya. Dengan bergegas saya memberesi barang-barang saya. Dengan langkah riang saya keluar dari kelas ini.

Hari Ini Bapak Tidak Pulang

Standard

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini sudah seminggu bapak tidak pulang. Rumah kami yang biasanya penuh dengan tawa mulai beranjak sunyi. Ibu sibuk menangisi bapak di dalam kamar. Saya sibuk melihat ibu menangisi bapak di dalam kamar.

Sebenarnya bukan seminggu ini saja bapak tidak pulang. Dalam sebulan, hanya dua minggu bapak pulang ke rumah kami. Seharusnya ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini, toh hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Namun, sayangnya ibu bukan wanita berhati tegar seperti saya. Setiap bapak tidak pulang, maka ibu akan meratapi kepergian bapak dengan tangis dan sedu sedan tidak berkesudahan di dalam kamar. Sepanjang hari. Sampai bapak pulang.

Kadang saya kesal dengan bapak yang jarang pulang. Kadang saya ingin memaki bapak karena jarang pulang. Kadang saya menggambari foto bapak pada saat bapak jarang pulang. Kadang juga saya merindukan bapak saat bapak jarang pulang. Tetapi saya tidak pernah menangisi bapak sepanjang hari seperti ibu yang menangisi bapak sepanjang hari saat bapak jarang pulang.

Tak jarang saya juga kesal dengan ibu. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari sehingga membuat saya keparan karenan ibu lupa memasak. Sehingga membuat saya kesepian karena tidak ada teman bercerita sepulang sekolah. Sehingga membuat saya keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena tidak ada ibu yang membantu saya jika kesulitan menghitung kuadrat.

Namun, saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan dimana saya harus memasak mie instant atau menggoreng telur dadar sendirian saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya sudah terbiasa bermain sendiri dengan boneka Barbie untuk meceritakan pengalaman saya memukul hidung seorang teman sekelas saya yang memanggil saya setan betina, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya juga sudah terbiasa mengerjakan sendiri PR matematika dari sekolah, mengarang indah setiap hitungan kuadrat yang tidak dapat saya selesaikan, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan.

**********

Biasanya, kalau bapak pulang saya akan berdiri menyambut di teras depan. Ibu akan berdandan dan memakai baju berenda dari kain katun. Biasanya, kalau bapak pulang saya akan mendapat sebungkus martabak telur yang gurih untuk lauk makan malam. Ibu akan tersenyum riang menyambut bapak dalam pelukan. Hangat dan lama.

Saya sangat senang kalau bapak pulang. Rumah kami akan semarak dengan tawa dan cekikikan. Tak ada lagi ibu yang mengurung diri dikamar untuk menangisi bapak. Ibu akan tertawa bahagia dengan seamplop uang yang tebal pemberian bapak. Saya akan berdendang ceria dengan sebuah baju baru yang bercorak kembang-kembang. Saya senang. Ibu senang. Kami berdua senang.

Saat bapak pulang, saya tidak akan kelaparan sampai harus memasak sendiri mie instant dan terl dadar karena ibu sudah memasak berbagai lauk seperti ayam dan ikan goreng dengan sambal yang membuat ketagihan. Saat bapak pulang, saya tidak akan kesepian sampai harus bercerita pada boneka Barbie tentang pengalaman di sekolah, karena ibu dan bapak akan duduk tenang sambil mendengarkan cerita saya menjawab dengan benar pertanyaan ibu guru. Saat bapak pulang, saya tidak akan keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena ibu dan bapak dengan senang hati akan mengajari saya rumus kuadrat sehingga saya akan menjawab tugas yang diberikan dengan benar. Saya senang. Ibu senang. Bapak senang.

Saat bapak sedang dirumah, saya akan cepat pulang sekolah agar bisa berjalan-jalan sore mengitari komplek rumah dengan bapak saat ibu sibuk memasak menu makan malam kami yang lezat. Saya senang berjalan-jalan mengitari komplek rumah dengan bapak, karena bapak selalu bercerita kepada saya tentang kancil yang mencuri ketimun, tentang asal mula gunung Tangkuban Perahu, tentang perang sebelum jaman kemerdekaan, tentang apa saja yang menambah pengetahuan saya.

**************

Sayangnya, hanya dua minggu bapak pulang. Setelah dua minggu, bapak akan pergi lagi dengan mobil sedan yang berwarna kecoklatan. Meninggalkan saya dan ibu yang mengantar sampai pelataran. Setelah mobil bapak menghilang di tikungan, maka ibu akan memeluk saya sambil menahan tangis yang terlihat jelas. Bila sudah tidak kuat, maka ibu akan berlari menuju kamar sambil mengeluarkan isakan.

Biasanya, kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar menonton TV sampai bosan. Kalau saya sudah kelaparan maka saya akan kembali ke rutinitas saya sebelumnya, memasak mie instan dan menggoreng telur dadar.

Sering saya bilang pada ibu ingin menelepon bapak saat bapak tidak pulang. Tapi yang terjadi isakan ibu menjadi semakin keras, bahkan dia juga meneriaki saya untuk keluar kamar dan jangan mengganggunya. Kalau sudah begitu, saya memilih bermain dengan boneka Barbie sambil menceritakan keluh kesah saya pada barang mati pemberian bapak itu.

Dan kalau hari sudah semakin malam, maka ibu akan keluar dari kamarnya dengan mata merah yang bengkak karena terlalu banyak menangis untuk menyuruh saya mandi air hangat. Setelah mandi, biasanya ibu menyuruh saya belajar sendiri dan mengerjakan PR untuk besok. Kalau saya kesulitan mengerjakan, saya tidak akan bertanya pada ibu. Saya memilih mengacak angka-angka yang tersedia untuk dituliskan asal-asalan dibuku pelajaran saya. Ibu terlalu sibuk untuk bersedu sedan di dalam kamarnya.

**********

Hari ini bapak tidak pulang. Hari ini pula sudah seminggu bapak tidak pulang. Itu berarti sudah seminggu pula ibu sibuk menghabiskan hari dengan tangisan di dalam kamar. Itu berarti seminggu lagi bapak akan pulang. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus makan mie instant dan menggoreng telur sendiri untuk makan. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus bercerita pada boneka Barbie tentang perasaan saya. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus mengarang angka-angka untuk menjawab PR matematika saya.

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini bapak tidak pulang karena harus pulang kerumah istri pertamanya di kota sebelah.

 

Cerita Intan

Standard

Kaki-kaki mungil Intan berjalan riang melewati deretan rumah tua yang akan menjadi pemandangannya menuju rumah nenekn yang sudah empat tahun ini dia tinggali. Empat tahun pula sejak kematian ibu di tangan keras bapak yang rajin memberikan pukulan, tamparan bahkan tak jarang juga tendangan di tubuh ringkih ibu sejak Intan masih kecil. Ah, kenangan empat tahun yang lalu masih sering menyinggahi mimpi-mimpi Intan sampai sekarang. malam itu saat bapak pulang dengan bau mulut yang menyengat dan badan yang sempoyongan, yang kata orang mereka namai mabuk, memang sudah tak asing lagi sejak Intan masih balita. Namun malam itu pukulan bapak lebih banyak dari biasanya, tamparan bapak lebih keras dari biasanya, tendangan bapak juga lebih sering dari biasanya dan jeritan ibu lebih keras dari biasanya. Intan hanya bisa mengintip dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat. Sambil menangis tanpa suara.

Dan ternyata malam itu, empat tahun yang lalu adalah malam terakhir bapak memukuli ibu, menampari ibu dan menendangi ibu. Sejak malam itu ibu terus diam. sejak malam itu ibu terus diam dalam lara yang mencekam. Sejak malam itu ibu terus diam dalam lara yang mencekam dan meninggalkan Intan dalam keheningan malam.

Bapak minggat. Meninggalkan Intan yang baru enambelas tahun bersama jasad ibu yang terdiam dalam kelu. Bapak minggat. Meninggalkan luka yang teramat dalam dalam hidup Intan. Bapak minggat.

Sejak itu Intan sangat membenci laki-laki, baginya laki-laki hanya makhluk tidak berhati yang harus dijauhi. Sejak itu Intan memilih tinggal dirumah neneknya yang hanya tinggal dengan seorang pembantu tua bernama mbok Jum. Sejak itu Intan selalu memilih kekasih perempuan untuk menemani hari-harinya.

*********

Siang ini kaki-kaki mungil Intan berjalan riang melewati deretan rumah tua yang akan menjadi pemandangannya menuju rumah nenek yang sudah tiga tahun ini dia tinggali. Hari ini, Intan berulang tahun yang keduapuluh, hari ini tulisan Intan dimuat dalam tajuk sastra sebuah Koran harian, hari ini Intan bahagia.

Semakin dekat rumah nenek yang teduh dan rimbun. Dari kejauhan dilihatnya nenek sedang duduk di teras dengan seseorang yang sudah dia kenal. Seseorang yang sangat dia benci. Seseorang yang selalu mengganggu mimpi-mimpinya dimalam hari. Seseorang yang sudah merenggut ibunya empat tahun yang lalu. Seseorang yang tidak pernah dia akui sebagai ayahnya.

Langkah-langkah riang Intan mulai digantikan dengan tapak-tapak ragu yang bercampur dengan kemarahan yang sudah mengendap selama empat tahun ini. Laki-laki itulah yang membuat dia sendirian menjalani setahun sejak kematian ibunya. laki-laki itulah yang membuat dia terjebak dalam ketakutan dan kebencian yang teramat sangat pada lawan jenisnya. Laki-laki itulah yang membuat dia lebih memilih berkencan dan mempunyai pasangan perempuan. Laki-laki itulah yang menghancurnya hidupnya, masa depannya dan harapannya. Sekarang untuk apa laki-laki itu ada didepan rumah neneknya yang sudah memberikan ketenangan dan keamanan selama empat tahun ini?

Semakin dekat kaki Intan dengan rumah tua nenek yang teduh dan rimbun, semakin sesak dada Intan menahan semua perasaan yang bercampur aduk. Campur aduk antara marah, benci, takut dan kesal. Didengarnya nenek memanggil namanya, “Intan, sini sayang.” Dengan perasaan yang masih tidak keruan Intan memasuki teras.

“Intan, ini bapak nak…”

“……”

“Intan maafkan bapak nak.”

“……..”

“Intan jawab nak …”

Namun Intan hanya terdiam, terpaku dan membeku pada sebuah ingatan yang menyakitkan. Ingatan yang merubah jalan hidupnya. Ingatan yang merenggut ibunya. Ingatan yang tidak ingin dia ingat. Dalam diam Intan masuk kedalam rumahnya tanpa menoleh sedikitpun pada laki-laki yang masih memanggil namanya berkali-kali dari teras.

Beribu pertanyaan berjejalan diotaknya, untuk apa laki-laki itu datang lagi didalam hidupnya? Kenapa laki-laki itu masih hidup? Mengapa nenek memperbolehkan laki-laki itu menginjakkan kaki di rumahnya? Laki-laki itu bukan bapaknya, dia penjahat.

Sambil masih menahan tangis, samar-samar Intan mendengar pembicaraan neneknya dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai bapak Intan dari sela-sela pintu dan jendela yang terbuka dari ruang tamu.

“sudahlah, pulang saja sana. Intan belum mau menemuimu.” Suara nenek terdengar menasehati.

“tapi saya kangen anak saya buk.”

“tidak sekarang. Dia masih belum bisa memaafkanmu.”

“tapi saya sudah berubah buk, saya sudah berubah.”

Cih! Mendengar kata “berubah” dari laki-laki itu membuat Intan bergidik, mana mungkin iblis yang selalu menyiksa ibunya yang cantik dapat berubah. Kemana saja dia selama empat tahun ini, kenapa baru hari ini dia datang dengan membawa-bawa kata kangen. “tai kucing!’ maki Intan tanpa sadar.

Diluar sana, didengarnya laki-laki itu masih mengajak bicara nenek, sambil memohon-mohon untuk diizinkan menginap di rumah. Hati Intan semakin sesak, luka lama yang selama ini sudah mongering tiba-tiba terbuka lagi. Perih dan berdarah. Pelan-pelan luka yang menganga ini membentuk menjadi segumpal dendam yang membara. Dendam menuntun Intan untuk mengambil sebilah pisau. Dendam yang menuntun Intan untuk mengambil sebilah pisau tajam dari dapur. Dendam yang menuntun Intan mengambil sebilah pisau tajam dari dapur yang siap dihunuskan tepat di dada. Dendam yang menuntun Intan mengambil sebilah pisau tajam dari dapur yang siap dihunuskan tepat di dada laki-laki yang mengaku dirinya sebagai bapak.

Salatiga, 17.19, 2012

“ini dari ibu!” teriak Intan sambil berlari dari dalam ruang tamu dan menghunuskan pisau daging yang tajam itu tepat di dada bapaknya.

Darah mengalir. Intan tertawa bahagia. Nenek menjerit kaget. Bapak meregang nyawa.