One Step Closer!

Standard

tumblr_lt4vpne11c1qhnq1co1_1280

Time flies so fucking fast rite?

And one thing this sure, everybody changing! I mean look at me? Many times ago, I am the one who said “I DO NOT WANNA MARRIED” loudly. However, now I am starting to think about my dream wedding. For me it is a big “BIG TOUGHT”!

Wedding party usually seems boring and waste money. Yup, gue nggak nyangka seorang ARGA sekarang berhasil buat bikin gue punya dream wedding, or I should call it dream weeding. LOL! Well, everything not as easy as it seems. I Mean, gue sama Arga literally different in some ways of life, but love become a bridge for us. Gue dengan kehidupan fake gue dan dia dengan kehidupan acak adulnya. Once he said, “kalau semua udah jadi bubur, yang bisa kita lakuin cuma nambahin cakwe, kerupuk sama gorengan biar bubur kita makin enak.” Rite?

Anywho, some situation me us think about wedding and I know the party will be my parents. Not mine or us. So, let it happen because they paid for it. Couple weeks ago, we are invited to attend friends of mine’s wedding party. I have to say, it is the coolest wedding ever. With the garden, the aisle, the food, the people and of course the after party!

Moreover, that wedding inspire me a lot to think about mine. Or us anyway. Pastinya after the sakramen in Wonosobo, I have to be a good daughter for my parent and allow them to hold any party they want. We just become a puppet.

Seems nice because we will never have to think about how much money waste because they will pay it. However, now I seems to think about my own wedding party which I have to throw in celebrating my own wedding. Some discussing with Arga plus talked about it with couple of friends I have clearer vision about my wedding party.

Start with the invitation, we’ll maybe have our own invitation that not expensive, but shows who we really are. Just so us!

One of the idea, but we'll make one of us soon

One of the idea, but we’ll make one of us soon

It will be start couple days after my parents’ party. Me and Arga will be in Salatiga. We will wear our own dream wedding’s costume. Arga will be in his fav jaket kulit and shoes, and I will wearing little black dress.

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

YES, it will be short dress and leather jacket because we are ROCK!

We will inviting some friends, not much maybe only 50. Then, kita bakalan ngumpul di depan kampus UKSW sekitar jam 4 sore dan bakalan bareng-bareng menuju tempat party which is in a villa located in Bandungan or Kopeng. Yup a villa with some bedroom on it riding a jeep.

This will be our perfect ride!

This will be our perfect ride!

Sampai di sana, kita bakalan disambut sama dekorasi supersimple. Some flower and cute lamp outside and inside the villa. There will be no formal situation, only celebrating our wedding. Of course there will be a LOT of beers, liquor, maybe a weed and mushroom. The food? Hmm, we will consider about that that but we not sure it will too delicious.

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

Just surrounded with lovely besties in our lovely moment

There will be no “pelaminan”, so you don’t have to shake hands with me. Let us to mingle and you can celebrate us personally. Semakin malam party ini bakalan semakin hot! I am sure some of you will be baked and losing your mind, that why you can use the bedroom. *if you know what I mean. Sounds so us isn’t it?

 

You are allowed to get your first one night stand :))))

You are allowed to get your first one night stand :))))

The rest of the party? Let’s we please give it to the liquors and beers. They will find the way to your own fun babe!

 

OMG, i don't have any idea who i am so brave to write all of this :)

OMG, i don’t have any idea who i am so brave to write all of this 🙂

Advertisements

Kamu Dalam Sebotol Bir

Standard

Kamu dalam sebotol bir. Menggoda untuk ada. Dalam buih yang memilih untuk hadir. Memaksa untuk terlihat mata. Dalam segelas penuh airmata. Candumu sedikit demi sedikit meminta untuk larut dalam darah yang awalnya menolak.

Kamu dalam sebotol bir. Menciptakan tawa yang tak bisa menjadi nyata. Menghadirkan cinta yang seharusnya tak ada. Membuat saya memikirkan sebuah kita yang hanya sekedar bersama bukan untuk selamanya.

Kamu dalam sebotol bir. Berwarna keruh seperti kuning yang bukan kuning. Seperti putih yang hanya sebentar putih. Membawa buih yang tak selamanya menjadi buih. Untuk nyata yang sebenarnya tidak nyata.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir mengisi kebosanan saat jemu mulai mengisi kalbu. Hadir mengisi perih saat hati mulai pulih dari rasa sakit yang merintih. Hadir mengisi diri yang mulai terbiasa sendiri melupakan kata cinta yang dulu menghantui .

Kamu dalam sebotol bir. Menyesap dalam setiap sesapan yang nikmat. Senikmat rasa getir yang mulai bercampur dengan getar yang berbeda. Berbeda menghadirkan irama yang melagukan getar saat melalui ujung lidah yang mulai terbiasa merasakan kehadirannya.

Kamu dalam sebotol bir. Menggambarkan kenangan yang tak sama pada setiap gelasnya. Melarutkan setiap kata yang tertahan dalam lidah untuk sementara. Menciptakan sensasi yang berbeda-beda pada orang yang menikmatinya. Sensasi yang kadang diluar logika yang dianggap sempurna. Sensasi yang melewati batas wajar yang tak langsung ditetapkan. Sensasi yang mungkin akan terulang setiap malam.

Kamu dalam sebotol bir. Memperkenalkan rasa baru yang tak ada duanya. Tidak sekuat Countrue ataupun Tequila yang menyegat. Tidak sepekat Jack Daniel dan Red Label yang banyak penggemarnya. Tidak menghadirkan mabuk yang tak nyata saat penikmatnya ingin lari dari kenyataan yang meminta dilupakan.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak membutuhkan pitcher yang berukuran giga untuk seterusnya. Tidak memaksa sloki untuk selalu menjadi tempat yang sempurna. Tidak meminta malam untuk menjadi teman meminumnya. Namun kamu selalu siap menemani setiap rindu yang menggigit walau tak bisa dipingit. Namun kamu selalu siap untuk menyembuhkan sebuah luka lama yang memaksa untuk diingat.

Kamu dalam sebotol bir. Tidak memandang rupa  penikmatnya. Tidak memilih siapa yang boleh meneguknya. Tidak mengharuskan syarat umur untuk mencoba rasa yang terkandung dalam setiap tempatnya.

Kamu dalam sebotol bir. Bisa diminum didepan CK. Boleh dicoba saat menghabiskan tiap detik di kursi Sevel. Di cafe. Di bar. Di club malam. Di karaokean. Di dalam kamar sempit. Di atas meja kerja. Di dalam mobil tua. Di hati saya. Dimana saja.

Kamu dalam sebotol bir. Memaksa saya untuk selalu ada gelas selanjutnya. Memaksa saya untuk menikmati lebih banyak lagi cairannya. Memaksa saya untuk larut dalam setiap buih yang sibuk tercipta didalamnya.

Kamu dalam sebotol bir. Selalu siap dinikmati tanpa bisa dimiliki selamanya. Selalu tergoda untuk dicobai oleh anak yang beranjak dewasa. Selalu hadir untuk meramaikan obrolan dua orang teman lama yang tidak akan selamanya. Selalu menyimpan sebuah kisah yang mungkin terlalu menyenangkan untuk dibuang, namun terlalu menyakitkan untuk disimpan.

Kamu dalam sebotol bir. Hadir meninggalkan bekas luka yang tak mudah menghilang.  Hadir untuk kebahagiaan yang mungkin hanya semu belaka. Hadir melengkapi setiap kebosanan akan sebuah kisah lama yang belum terlihat akhirnya.

Kamu dalam sebotol bir. Tak dapat ditolak pesonanya. Pesona yang menyimpan racun manis yang kadang bisa mematikan. Pesona yang mewarnai sebuah gelas yang menjadi perantara mulut yang mempunyai sejuta makna. Pesona yang membawa saya pada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada menjadi nyata. Pesona yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata penyair jalanan di pinggiran kota. Pesona yang mungkin punya arti yang berbeda bagi saya dan orang lainnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menjadi teman saya menghabiskan malam bersama berbatang-batang rokok yang hancur terbakar bersama kenangan yang mulai memudar. Abu yang menjadi saksi kesakitan yang terlalu merasuk didalam sisi hati yang semakin beku.

Kamu dalam sebotol bir. Menghidupkan lagi hati yang sudah lama dibiarkan mati. Mengajarkan lagi rasa sakit yang selama ini berhenti terakit. Melupakan semua logika yang selama ini selalu dipaksa untuk ada. Menghancurkan lagi setiap inci benteng hati yang perlu banyak waktu untuk membangunnya. Mengisi lagi setiap sudut di hati dengan berbagai rasa yang membuncah, berbagai warna yang meriah. Berbagai luka yang mengiris setiap sendi dari raga ini.

Kamu dalam sebotol bir. Membawa saya pada sebuah kisah saat pertama kali saya mengenangmu bukan sebagai kamu yang hanya kamu. Membawa saya mengenangmu sebagai sebuah kisah yang tak ada akhirnya. Karena kita tak pernah punya awal yang sempurna. Dan kita juga tak punya akhir yang membuat tawa berganti air mata. Saat cinta tak lagi ada. Saat nafsu mulai menemukan sadarnya.

Kamu dalam sebotol bir. Menemani saya mengarungi lautan kata. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara. Menemani saya mengarungi lautan kata yang tak ada batasnya untuk menceritakan kenangan kita akan sebuah cinta yang hanya sementara dan mungkin kini sudah tidak meninggalkan sisa kenangan tentang saya.

Kamu dalam sebotol bir. Hanya meninggalkan sebuah botol sisa yang sudah tak lagi ada isinya. Hanya memberikan bukti kalau bir ini memang pernah hadir dan melengkapi penikmatinya melalui waktu yang kelu. Hanya menjadi sebuah prasasti tentang semua rasa yang sempat hadir bermunculan saat semua masih ada memenuhi gelas ini. Seperti kamu yang tinggal hadir dalam sebuah ingatan yang mereka sebut dengan kenangan. Seperti kamu yang masih ada didepan saya namun sudah tidak dapat saya jangkau lagi seperti waktu itu. Seperti kamu yang mengajarkan saya untuk mengenal rasa sempurna pada kisah asmara kita yang melengkapi setiap hela nafas yang tercipta. Seperti kamu yang berlalu meninggalkan luka yang masih menganga, merah dan perih tanpa bisa dialihkan pada sisi hati yang masih mengharapkan lebih.

Kamu dalam sebotol bir. Nyata. Namun bukan hanya milik saya. Selamanya.

Hari Ini Bapak Tidak Pulang

Standard

 

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini sudah seminggu bapak tidak pulang. Rumah kami yang biasanya penuh dengan tawa mulai beranjak sunyi. Ibu sibuk menangisi bapak di dalam kamar. Saya sibuk melihat ibu menangisi bapak di dalam kamar.

Sebenarnya bukan seminggu ini saja bapak tidak pulang. Dalam sebulan, hanya dua minggu bapak pulang ke rumah kami. Seharusnya ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini, toh hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Namun, sayangnya ibu bukan wanita berhati tegar seperti saya. Setiap bapak tidak pulang, maka ibu akan meratapi kepergian bapak dengan tangis dan sedu sedan tidak berkesudahan di dalam kamar. Sepanjang hari. Sampai bapak pulang.

Kadang saya kesal dengan bapak yang jarang pulang. Kadang saya ingin memaki bapak karena jarang pulang. Kadang saya menggambari foto bapak pada saat bapak jarang pulang. Kadang juga saya merindukan bapak saat bapak jarang pulang. Tetapi saya tidak pernah menangisi bapak sepanjang hari seperti ibu yang menangisi bapak sepanjang hari saat bapak jarang pulang.

Tak jarang saya juga kesal dengan ibu. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari. Tak jarang saya juga kesal dengan ibu yang selalu menangisi bapak sepanjang hari sehingga membuat saya keparan karenan ibu lupa memasak. Sehingga membuat saya kesepian karena tidak ada teman bercerita sepulang sekolah. Sehingga membuat saya keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena tidak ada ibu yang membantu saya jika kesulitan menghitung kuadrat.

Namun, saya sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan dimana saya harus memasak mie instant atau menggoreng telur dadar sendirian saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya sudah terbiasa bermain sendiri dengan bonekaBarbie untuk meceritakan pengalaman saya memukul hidung seorang teman sekelas saya yang memanggil saya setan betina, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan. Saya juga sudah terbiasa mengerjakan sendiri PR matematika dari sekolah, mengarang indah setiap hitungan kuadrat yang tidak dapat saya selesaikan, saat bapak jarang pulang dan ibu sibuk meratap dalam sedu sedan.

**********

Biasanya, kalau bapak pulang saya akan berdiri menyambut di teras depan. Ibu akan berdandan dan memakai baju berenda dari kain katun. Biasanya, kalau bapak pulang saya akan mendapat sebungkus martabak telur yang gurih untuk lauk makan malam. Ibu akan tersenyum riang menyambut bapak dalam pelukan. Hangat dan lama.

Saya sangat senang kalau bapak pulang. Rumah kami akan semarak dengan tawa dan cekikikan. Tak ada lagi ibu yang mengurung diri dikamar untuk menangisi bapak. Ibu akan tertawa bahagia dengan seamplop uang yang tebal pemberian bapak. Saya akan berdendang ceria dengan sebuah baju baru yang bercorak kembang-kembang. Saya senang. Ibu senang. Kami berdua senang.

Saat bapak pulang, saya tidak akan kelaparan sampai harus memasak sendiri mie instantdan terl dadar karena ibu sudah memasak berbagai lauk seperti ayam dan ikan goreng dengan sambal yang membuat ketagihan. Saat bapak pulang, saya tidak akan kesepian sampai harus bercerita pada boneka Barbie tentang pengalaman di sekolah, karena ibu dan bapak akan duduk tenang sambil mendengarkan cerita saya menjawab dengan benar pertanyaan ibu guru. Saat bapak pulang, saya tidak akan keteteran mengerjakan PR matematika dari sekolah, karena ibu dan bapak dengan senang hati akan mengajari saya rumus kuadrat sehingga saya akan menjawab tugas yang diberikan dengan benar. Saya senang. Ibu senang. Bapak senang.

Saat bapak sedang dirumah, saya akan cepat pulang sekolah agar bisa berjalan-jalan sore mengitari komplek rumah dengan bapak saat ibu sibuk memasak menu makan malam kami yang lezat. Saya senang berjalan-jalan mengitari komplek rumah dengan bapak, karena bapak selalu bercerita kepada saya tentang kancil yang mencuri ketimun, tentang asal mula gunung Tangkuban Perahu, tentang perang sebelum jaman kemerdekaan, tentang apa saja yang menambah pengetahuan saya.

**************

Sayangnya, hanya dua minggu bapak pulang. Setelah dua minggu, bapak akan pergi lagi dengan mobil sedan yang berwarna kecoklatan. Meninggalkan saya dan ibu yang mengantar sampai pelataran. Setelah mobil bapak menghilang di tikungan, maka ibu akan memeluk saya sambil menahan tangis yang terlihat jelas. Bila sudah tidak kuat, maka ibu akan berlari menuju kamar sambil mengeluarkan isakan.

Biasanya, kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar menonton TV sampai bosan. Kalau saya sudah kelaparan maka saya akan kembali ke rutinitas saya sebelumnya, memasak mie instan dan menggoreng telur dadar.

Sering saya bilang pada ibu ingin menelepon bapak saat bapak tidak pulang. Tapi yang terjadi isakan ibu menjadi semakin keras, bahkan dia juga meneriaki saya untuk keluar kamar dan jangan mengganggunya. Kalau sudah begitu, saya memilih bermain dengan boneka Barbie sambil menceritakan keluh kesah saya pada barang mati pemberian bapak itu.

Dan kalau hari sudah semakin malam, maka ibu akan keluar dari kamarnya dengan mata merah yang bengkak karena terlalu banyak menangis untuk menyuruh saya mandi air hangat. Setelah mandi, biasanya ibu menyuruh saya belajar sendiri dan mengerjakan PR untuk besok. Kalau saya kesulitan mengerjakan, saya tidak akan bertanya pada ibu. Saya memilih mengacak angka-angka yang tersedia untuk dituliskan asal-asalan dibuku pelajaran saya. Ibu terlalu sibuk untuk bersedu sedan di dalam kamarnya.

**********

Hari ini bapak tidak pulang. Hari ini pula sudah seminggu bapak tidak pulang. Itu berarti sudah seminggu pula ibu sibuk menghabiskan hari dengan tangisan di dalam kamar. Itu berarti seminggu lagi bapak akan pulang. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus makan mie instant dan menggoreng telur sendiri untuk makan. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus bercerita pada boneka Barbie tentang perasaan saya. Itu berarti masih seminggu lagi saya harus mengarang angka-angka untuk menjawab PR matematika saya.

Hari ini Bapak tidak pulang. Saya tahu. Ibu tahu. Kami tahu kenapa bapak tidak pulang. Bukan karena terjebak macet di jalan. Bukan karena diculik ninja amatiran. Bukan karena lembur kerja di kantornya yang nyaman. Hari ini bapak tidak pulang karena harus pulang kerumah istri pertamanya di kota sebelah.

Menari Untuk Malam

Standard

Aku mencintai malam, bukan karena membenci terang. Aku hanya terbiasa menari dalam gelap yang merentang #puisimalam

Suara adzan Maghrib membangunkan saya dari tidur panjang yang merentas mimpi tentang pantai yang membuai. Sambil masih mengumpulkan nyawa yang baru setengah ada, saya mencoba menenggak air yang ada di sisi meja. Pening di kepala ternyata masih meradang, padahal saya sudah tidur seharian sampai petang.

Perlahan, saya mencoba bangkit dari peraduan, menyambar ponsel yang berkedip di ujung dipan. Ada beberapa pesan yang menunggu untuk dibaca. Dari seorang teman yang menanyakan waktu untuk bertemu, ada seorang kawan yang mengingatkan jadwal nanti malam, ada seorang rekan yang berjanji untuk datang dan masih ada dia yang tidak berhenti menanyakan tentang rasa.

Ah persetan dengan semua!

Saya menyalakan televisi yang tidak seberapa besar. Ada kabar tentang presiden yang tidak mau memberikan komentar, ah bosan. Ganti channel yang lain, ada seorang artis ibukota yang sedang tersenyum lebar pamer pacar baru yang berbadan kekar, ah basi. Cari acara lain, ada sinetron tentang pelacur yang mempunyai anak namun ditukar, biar sudah tidak ada channel acara lainnya.

Saya nyalakan sebatang rokok dengan pemantik biru bergambar lucu. Setiap hembusan yang saya hisap saya keluarkan pelan-pelan. Bukankan sensasi dalam merokok adalah mengeluarkan pelan-pelan, agar rasanya tidak cepat hilang? Kadang saya merasa lucu, melihat sepasang remaja yang merokok hanya untuk bergaya. Hanya untuk menjadi luar biasa di mata sebayanya.

Sambil masing mengeluarkan asap dari mulut dan hidung saya memandang kosong layar televisi yang menyala terang. otak saya berkerja cepat untuk merunut apa yang terjadi pada hidup saya setahun ke belakang. Saya selalu menyukai nostalgia tentang cerita yang sudah lama terjadi dan meninggalkan kenangan usang.

Tahun lalu, di sore seperti ini mungkin saya baru pulang kuliah dengan hati riang. Atau malah sedang sibuk menghabiskan waktu di café untuk menunggu malam datang. Tak jarang, saya akan mengisi petang dengan menari hingga hati, tubuh dan jiwa beroleh tenang.

Namun, sekarang semua berubah. Saat petang menjelang, saya baru tersadar dari tidur panjang. Bukan karena saya lari dari terang, namun karena raga terlalu lelah untuk menentang hari yang panjang. Bagaimana tidak, saya baru pulang saat pagi datang, saat para ibu sibuk memasak sarapan, saat para bapak sibuk berkemas dan berdandan, saat para anak bersiap untuk pergi ke sekolahan.

Kata orang, pekerjaan yang saya lakukan bukan pekerjaan halal. Bukan pekerjaan terhormat yang berkantong tebal. Bukan pekerjaan bergengsi yang bisa membeli mobil mahal. Tapi saya tidak perduli, selama saya masih bisa berusaha sendiri saya tidak akan berhenti.

Tahu apa mereka tentang halal dan haram, sementara mereka sibuk memakai uang yang bukan milik mereka. Tahu apa mereka tentang pekerjaan terhormat, kalau bahkan seorang presiden, menteri atau bahkan anggota dewan yang katanya terhormat tidak pernah berhenti mencela atas musibah yang menimpa. Tahu apa mereka dengan mobil mahal kalau hanya untuk menyombongkan kekayaan.

Saya tidak menggugat, saya hanya mengingat, bagaimana saya harus bertahan sendiri dengan penat dan ton-tonan maksiat yang selama ini mengikat. Sejak rumah dibakar oleh segerombolon pria berjubah putih pekat. Sejak ayah dan ibu saya disikat dengan pukulan, tendangan dan makian hingga sekarat. Sejak masa depan saya terenggut dengan tidak hormat. Sekarang hanya ada luka. Sekarang hanya ada pahit, sekarang hanya ada sakit.

Hanya karena restoran keluarga kami buka di siang bolong beberapa minggu sebelum hari raya, sekelompok orang yang meneriakkan Tuhan menyerang. Membumi hanguskan setiap sekat yang ada di restoran kami. Mengambil nyawa ayah dan ibu yang sudah sekarat. Meninggalkan saya terkapar dalam diam yang melumat.

Saya tidak membenci terang, saya hanya lebih nyaman dalam gelap malam yang membentang.

Sejak siang itu, semua berubah. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka memanggil saya wanita jalang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya mereka terpesona melihat saya menari telanjang. Jangan salahkan saya kalau akhirnya saya memuaskan imajinasi mereka demi segepok uang.

Ada satu masa, saat menari menjadi salah satu menu makan siang. Kini, menari menjadi obat tenang yang membuat saya melupakan semua kenangan yang menyakitkan. Menari membuat saya terbebas dari kekangan dendam yang tak kunjung hilang. Menari membuat saya kembali ke masa silam saat menari menjadi salah satu menu makan siang.

Ya, hanya dengan menari saya masih bisa bertahan hidup. Pelan-pelan saya matikan sisa puntung rokok pada asbak yang mulai penuh. Pelan-pelan saya ambil handuk untuk membilas badan yang basah oleh peluh. Pelan-pelan saya beranjak ke kamar mandi untuk kembali menjadi utuh. Pelan-pelan saya berdandan untuk siap menari dalam malam yang disinari bulan purnama penuh. Pelan-pelan saya meninggalkan kamar sewaan dan menuju tempat mencari nafkah.

Dragon Fly Nightclubs

I Called it Heartbeat

Standard
Do it right now

Do it right now

After long time stucked in flat relationship, this month is another 5 months-single-of-me. There are a lot interesting happening in my life recently. Just like what i said before in my post, now i working in Jakarta as Sosial Media of fashion website. Thank God i get such as interesting job. Besides job, i also having relationship where i called it heartbeat. curious aren’t you?

Lemme explain, as the time goes i realize that in the past i get hurt when i am in a relationship because i have such as hope and expectation to get loved back. Yes, it sound normal when you love someone and you want them love you back. However, you may not realize this kind of thought will make you much more easier getting hurted. I mean, hey who want to be ignore by someone they loved? But yes, you have to lower you expectation if you do not want to dissapoint.

Why i said that, because i am experiencing this kind of situation. Have you imagine that you even meet with someone that connected with you in almost of your thought, habit and point of view? If you have that kind of person, never let them go. I mean, you can not force person to stay in your life, but you can make them willing to stay because they want it. If you ask how? There is very easy way. The thing that you can do is follow your heart, throw you ego and never make any expectation. These all not easy, but once you can do it you will enjoy every little details that you spend with them. No matter what risk that waiting of you later on.

Honestly, in my life before, I never let somebody get too far into my life because i am afraid to get hurt. However, lately i realize that what i did just wrong. As your expectation get higher, you will be easier to feel disappointed with the reality. I believe when you brave enough to fall in love, you have to brave enough to face all the worst chance. Because fall is never be easy, because fall is always make you get hurt.

I am trying to convince myself that when i am starting to like someone, the best thing to do is shows it no matter how hurt it will. My beloved lecture, Bu Neny once said to me, “Enjoy while it happening.” This simple sentence make me realize that all the thing that i can do is enjoying the time, so there will be no regret when it ends. Believe me, what that truly yours will be yours no matter what and what is not yours never be yours no matter how hard you try to get it.

This remain me to old sentence, “If loving you was wrong, i do not wanna be right”, Yes, i meant it, even i will shared the tears i will stop fighting of in sof way, showing what actually i feel, as long as i can stand. So, if you ever feel like liking someone, just never stop, never expect he/she will like you back until you really tired of trying. If there’s still a reason to stay, just stay because when she/he meant to be yours, they will be.

This time, i still learning to prove my sentence. Of course its not easy, of course it sound silly but at least i am trying and standing for what i believe. We never know what the future brings because life is always bring surprises, but we always can pretending that there no reason to knock down ourselves.

Old Javanese people once said, there always good side in every bad side. Yes, i agree with that because i there always be a lesson behind something bad that happened in my life. Well, the night getting old, the conversation getting heavy and the feeling getting strong. That’s why i called it heartbeat.

10 Reason Why I Have to Live in Jakarta

Standard

As you know, well may be you do not know exactly, recently i becoming a jobless (call it freelancer) desperate woman who almost giving up with all of pressure and afraid to cross the line. Yes, sounds very pathetic isn’t ? After doing some stupidity like forget-to-change-active-phone-number-in-my-CV, now I feel on fire again to reach my dream. Fahion, write, and social media become motivation for me to live with them.

Here, i want to declared that i will get a job in Jakarta again, no matter what. I am so excited with the crowd, the trend that moving so fast, the sprakling that offered. Sounds silly maybe, but for me it like a dream city. So, before I really reach the chance to get job in Jakarta again, I want encourage myself again to gain my braveness, as you all know Jakarta is not-so-nice city ever.

So, here I am with my 10 reasons why i must life in Jakarta (again):

1. To fill my Lookbook.nu account

everybody who like fashion or design must knowing an fabulous website, Lookbook.nu that pretty much like Instagram but it only about fashion and what you wear everyday. This website very inspiring me in mix and match my outfits because here I can finding the latest wearable trends.

When i was working in magazine, regularly I put on some photo that show what  I wear that day and brief explanation about my outfits. However, since I move on and back to Salatiga (then Jogja) I stop doing that because in my city (and Jogja) people not really accepting that kind of outfits. Well, actually I can pretending do not care at all, but it’s very hard and slowly make me stop my habbit and reduce my taste in streetstyle. too bad.

2. Get enough paid to traveling

One of my bestfriend, Retrotikaa was inspired me to have my own traveling. She very enjoying her life with some sweet and challenging  backpacker getaway in around and inside Indonesia. She once said to me that perfect way to mend a broken heart is traveling and enjoying the great place, which I agreed with her.

So, here are my plan. I want to look for a job that can afford my life in Jakarta and i must get a discount tickets to go traveling around Indonesia or outside at least once a year. I believe this will be my motivation to work hard and get high salary, besides my passion in fashion.

3. Come to interesting events and get unforgettable experiences

Since my collage, I know that I want to have job as fashion reporter in some fashion magazine. However, recently i just adjusting other backplan job as a copywriter or digital specialist in advertasing agency. Sound interesting when you can work with many client and meet many kind of people in your life.

When you know exactly what you want, you will be easier in finding or having what you want. That’s why I always look for my dream job and I believe that my passion will let me find the one (in job). Many people suggest me to accept anything job-offered that come for me, well my bad I can’t handle something that I do not heart it. You know, I am type of person that think if you like your job you will do it with all of your heart.

If I can have similiar job like my previous, I will have many chance to come into interesting events like film premier, gala dinner, concert, or even like my-short-holiday-in-Bali-with-Ford, this would be very unforgettable moment in my life.

4. Have fun like a boss

You know, I am kinda person that believe that we need to refresh and reward ourselves after we doing something hard. So, having fun is the most perfect way to give some achievement for myself. The kind of having fun that I meant is not must be expensive, it can be only have weekend in Tidung, or spent weekend in Dufan, or just shopping in Mangga Dua, even the simpliest thing like have a beer in a bar.

5. Make my parents happy

I know, until my 24 old year I am not succeed to make my parents proud of me yet. So, one reason that make me pretty sure to live in Jakarta is to collecting as much money as I can and make my parents happy. I know the happiness maybe not coming from money, but with the money I can bring my parents to have some holiday in Bali.

6. Become a part of social happiness

Here I mean, I can meet and hang out with my lovely friends such as Tika, Devi, Tirza, Venda and Sigit. All of my friends are in Jakarta now, well not all, because some of my best friend still living in Salatiga like Astri, Yos, Mas Ndindot and Mas Gembul and one is in Sangatta, Dini. What I am trying to say is it would be a lot easier for me to have a film premier with Devi or set up my traveling with Tika or even meet up with Tirza if I live in Jakarta.

7. Working as a Fashion Stylish, Reporter Magazine or Copy Writer in Ahensi

Well, only Jakarta that have this kind of job. I know what I want and will be what I want.

8. Explore myself

Yes, I challenge myself to live with the real new city that bigger that Salatiga or Jogja. I know i was live there before but I admit it that I not really live alone because my ex very helping me to live in Jakarta. Thanks a lot to him. But now, it’s time for me to have my own life in Jakarta and deal with all public transport like Damri, Bussway or even angkot.

9. Meet a new link

Yep, Jakarta is full of surprises, and you will never know with whom you will meet everyday. I believe with work in Jakarta I have a chance to meet many unpredictable people that i just adore before.

10. Make my old dream become true

Well, maybe this is one of my dirty naughty dream where I imagine myself as a succeed career woman who can afford her own life and have her own apartment and her own car. Everyday she back from work she still have a time or money to take some shot of drink or have fun with her friends. sounds crazy huh?

So, let’s see which points that will be real first, i hope all can be reality in the moment forward :))

I Miss You, Jakarta

Standard

Before sex, you help each other get naked. After sex, you only dress yourself. Moral of the story: No one helps you once you’re fucked.

simple ya quote itu, tapi nampol bok! seriously, you will find the meaning when you are down and desperate, like i am. Yep, gue akhirnya sadar kalau gue nggak boleh ngandelin siapapun kecuali diri gue sendiri untuk menghadapi kerasnya hidup. Kadang gue kangen hidup gue dua tahun yang lalu, pas gue masih jadi reporter sebuah majalah ibukota. Kala itu everything seems easy and colorful. Gue punya kerjaan yang oke dan nggak ngebosenin sesuai dengan passion gue di bidang nulis dan fashion, but it seems gone away now. Realitanya sekarang adalah gue seorang freelancer dengan fee nggak seberapa yang masih luntang-luntung. Well, I have to deal with it and change it as soon as possible.

Gue kangen Jakarta dengan segala kekejamannya, dengan segala kemacetannya dan segala hiruk pikuknya. Sebenernya kemarin gue udah masukin beberapa lamaran kerja yang dengan begonya gue kasih no handphone yang udah nggak aktif. Briliant isn’t it? Pantes aja nggak ada sebutir perusahaanpun yang manggil gue, padahal gue udah masukin beribu-ribu lamaran kerja. After knowing my mistake, i hope tomorrow i have at least one call for interview. Gue optimis kok gue bisa balik ke Jakarta lagi.

There are several reasons that make me love Jakarta after i hate this metropolitan city in my young, my bad. Jakarta itu pusat lifestyle and trends, gue bisa nemuin apa aja di Jakarta asal gue punya duit. Yep, it’s all about money dude! Tapi selain mencari duit sebanyak-banyaknya, gue percaya cuma di Jakarta aja gue bisa nemuin kerjaaan sesuai passion gue. Maybe some people will say i am wrong, but i am sure they have no other solutions for my dreaming job outside Jakarta. Kasarannya, kalau gue mau berkembang ya gue harus mulai dengan menakhlukan Jakarta. Sounds impossible rite? But I believe there is no impossible as long as you can try. Gue percaya kalau semua itu bisa diusahakan. Dan gue nggak akan nyerah buat ngedapetin apa yang gue mau, karena cuma gue yang bisa mewujudkan mimpi-mimpi gue.

Gue kangen Jakarta, dan gue percaya gue akan jadi bagian dari kota itu. Cepat atau lambat.